22 Oktober 2021

Potret Spirit Nasionalisme Religius HMI di Zaman Kiwari

Sebuah Refleksi Perjalanan 74 Tahun HMI

Penulis: Idris S. R. Hambrita (Kabid Infokom HMI Cabang Gorontalo)

“Kader HMI tidak perlu gelisah dan risau, dengan cara dan landasan yang bagaimana ia harus berjuang di zaman sekarang. Cukup pengembangan Mission HMI, sudah menjadi kerangka acuan atau alat analisis perjuangannya dalam menjawab segala realita tantangan zaman”

Semangat Keislaman dan Keindonesiaan HMI
Tidak terasa organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah memasuki usianya yang ke-74. Di usia yang sudah cukup tua, sangat lumrah, jika ditanya mengenai prinsip utama perjuangan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saat detik-detik ia akan didirikan oleh Lafran Pane dan empat belas orang temannya pada tanggal 5 Februari 1947 di Yogyakarta kala itu. Sebagaimana diulas oleh Agusalim Sitompul dalam bukunya, Sejarah Perjuangan HMI, bahwa latar belakang tujuan berdirinya HMI yang pertama sangat terang-bersinar berbicara mengenai kompleksitas keadaan masyarakat Indonesia; mulai dari adanya penjajahan belanda dan tuntutan perang kemerdekaan, kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam, perkembangan paham komunis di masyarakat dan mahasiswa, polarisasi politik yang terjadi, serta tuntutan modernisasi dan tantangan masa depan.

Faktor-faktor yang menjadi sebab berdirinya HMI sebelumnya, dapat dikatakan sebagai suatu upaya sosok Lafran Pane memikirkan dengan saksama, keadaan sosial, politik, dan budaya tanah air untuk mengukuhkan semangat nasionalisme dan religius, demi merespon beragam persoalan yang dihadapi bangsa saat itu. Tentunya, bukan semata dilihat dan dipikirkan begitu saja, akan tetapi, berangkat dari idealisme Lafran Pane yang disokong oleh sistem berpikir konstruktif-empiris agar menghasilkan dengan betul, tantangan yang harus dihadapi dan diperjuangkan secara bersama-sama dengan masyarakat Indonesia.

Sebagai organisasi mahasiswa tertua, HMI dengan ciri khas semangatnya keislaman dan kebangsaan selalu memperjuangkan spirit-spirit yang mendasar terhadap kondisi masyarakat Indonesia. Maka saat pertama kali berdiri, lahirlah tujuan HMI pertama kali yang dikenal dengan dua butir poin: Mempertahankan negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan ini selalu terpatri dan menyemai selalu dalam semangat kader HMI baik dalam gagasan maupun sebuah tindakan.

Suatu Spirit Perjuangan HMI
Sebagaimana dalam catatan sejarah epik perjuangan bangsa Indonesia, terdapat suatu fakta yang tidak bisa dibantah. Napak tilas sejarah sangat kokoh tertancap erat di lapangan peradaban yang dilakukan oleh para pahlawan wabilkhusus gerakan para pemuda. Sebut saja Budi Utomo (1908) sebagai tanda kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda (1928) sebagai simbol kelahiran bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan (1945), sebagai catatan sejarah kelahiran dan kemerdekaan bangsa Indonesia, dan gerakan Reformasi (1998) sebagai upaya mengembalikan kehormatan bangsa dari belenggu otoriterisme, tidak lepas dari andil pemuda di dalamnya. Mereka menjadi penggerak yang selalu hadir di setiap episode sejarah Indonesia.

Pun, hal yang sama terjadi pada HMI sebagai organisasi tertua. Term “perjuangan”, menjadi satu spirit dalam pergulatan dan keterlibatan organisasi sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) Pasal 9—HMI berperan sebagai organisasi perjuangan. Maka, sejak kelahirannya, HMI telah mewakafkan dirinya untuk selalu berdiri terus-menerus di sisi perjuangan kehormatan agama dan negara. Fokus dan keterlibatannya dalam dua prinsip tersebut, HMI kemudian dikenal sebagai organisasi yang memperjuangkan ke-Islam-an dan Ke-Indonesiaan.

Keislaman dan keindonesiaan menjadi medan perjuangan yang begitu luas bagi HMI. Keduanya tidak bisa dipisahkan terutama pada konteks nilai-nilai dasar yang mengonstruksi sebuah konsep kebangsaan. Begitu juga dalam ranah spritual, sejarah mencatat, bahwa nilai-nilai agama punya andil besar dalam membangkitkan kesadaran terhadap kebutuhan hidup yang merdeka, berdaulat, serta bermartabat. Agama pun mendorong terciptanya tatanan yang adil, damai, dan sejahtera. Kalau bisa dikatakan, dorongan tersebut menjadi suatu keharusan umat beragama, khususnya bagi umat Islam itu sendiri. Catatan monumental yang perlu ditulis pada kedua ranah tersebut dapat dilihat dari bangunan ideologis bangsa Indonesia yang tertuang dalam butir-butir setiap sila pada Pancasila.

Trilogi HMI: Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemahasiswaan
Sebagai organisasi secara khusus mengatur kader-kader yang masuk HMI adalah berstatus sebagai mahasiswa. Maka, sangat erat kaitannya organisasi ini berkelindan dengan pola-pola gerakan mahasiswa di dunia kampus dan kontribusinya terhadap bangsa. Oleh karena itu, indoktrinasi HMI selalu melekat kuat pada tiga ranah, yaitu keislaman, keindonesiaan, dan sekaligus kemahasiswaan.

Ketiga prinsip landasan tersebut, harus terus mengalir dalam diri setiap kader HMI. Yang mana, saat salah satu dari ketiga hal itu tidak ada dalam jiwa kader HMI, maka sangat susah ia berkembang sebagaimana yang menjadi cita-cita luhur HMI: Mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridai Allah Swt.

Ibaratnya, keislaman menjadi sumber nilai dan pijakan dasar kader HMI yang termanifestasi dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, keindonesian menjadi sebuah tujuan utama dalam medan perjuangan sebagai wujud semangat nasionalisme, dan terkahir, kemahasiswaan menjadi sebuah kenderaan bagi kader HMI untuk selalu mengawal segala arah peradaban dan perjuangan rakyat Indonesia.

Mission HMI Sebagai Sebuah Taktik Perjuangan dari Masa ke Masa
Sebagai organisasi yang memiliki motivasi dan inspirasi perjuangan, HMI tetap memerlukan tujuan yang jelas dan melembaga dalam diri setiap kadernya. Agar setiap usaha yang akan dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur.

Tentunya, dalam merumuskan suatu tujuan, dipengaruhi berbagai faktor atau dorongan dasar pembentukan status dan fungsinya dalam totalitas ia lahir dan bereksistensi. Dalam totalitas bangsa Indonesia, HMI menjadikan nilai-nilai keislaman menjadi sebuah spirit perjuangan dan sumber nilai dalam merintis jalan nasionalismenya.

Atas segenap faktor tersebut, HMI menetapkan dan merumuskan tujuannya, sehingga termaktub jelas dalam pasal 4 Anggaran Dasar (AD) HMI yaitu: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wataala.”

Dengan rumusan tersebut, lahirlah istilah teramat populer bagi setiap kader HMI yaitu lima kualitas insan cita, yang menjadi Mission HMI sampai saat ini. Hakikatnya, dari mission HMI tersebut, menjadi harapan besar, setiap kader HMI terus memegang teguh tujuan HMI dengan cara perjuangan yang benar dan efektif. Kalau dipetakan kembali lima kualitas insan cita yang harus menjadi landasan ia berpijak dalam berproses di HMI yakni, Insan Akademis, Insan Pencipta, Insan Pengabdi, Insan Bernapaskan Islam, dan terakhir Insan bertanggung jawab.

Dari kelima kualitas insan cita itu, diharapkan menjadi taktik perjuangan kader-kader HMI dari masa ke masa. Mengingat, formulasi kualitas insan cita, menjadi titik paling inti sebagai landasan untuk mempraktikkan semangat nasionalisme religius bagi kader-kader HMI.

Apalagi era sekarang telah dikenal sebagai Era Globalisasi. Segala percepatan-percepatan dan perubahan-perubahan sangat cepat terjadi. Terbukanya sekat-sekat geografis dan makin terbentuknya batas-batas antropologis. Di sini HMI mau tidak mau harus dituntut selalu dinamis terhadap zaman. Mampu menangkap segala kejadian yang terjadi dan memformulasikan kembali gagasan-gagasan barunya.

Tentunya, kader HMI tidak perlu gelisah dan risau, dengan cara dan landasan yang bagaimana ia harus berjuang di zaman sekarang. Cukup pengembangan Mission HMI, sudah menjadi kerangka acuan atau alat analisis perjuangannya dalam menjawab segala realita tantangan zaman. Perlu sebuah langkah pembacaan sangat luas dan kritis agar Mission HMI sebagai taktik, bisa tepat dan efektif. Bukan sekadar dianalisis begitu saja tanpa ada pandangan terbuka terhadap dunia hari ini.

Paling tidak, kader-kader HMI tetap peka dan melek menagkap segala apa yang terjadi dan selalu melibatkan dirinya agar tetap konsisten berjuang di lapangan perjuangan yang menjadi cita-cita HMI itu sendiri yakni semangat keislaman dan kebangsaan. Jangan sampai terninabobokan oleh ambisi-ambisi kuasa, seperti realitas sekarang yang tegah dihadapi internal HMI di masa-masa degradasi.

Akankah HMI akan tetap kokoh berkembang di antara arus zaman yang makin terbuka ini dan terus berlanjut sebagai “Harapan masyarakat Indonesia”, seperti kata Jendral Sudirman kala itu, ataukah tetap mengalami kemunduran dan tidak mau bangkit dari keterpurukan kondisi sekarang. Sudah siapkah kader HMI “melampaui” dan bangkit dari tradisi-tradisi sebelumnya yang telah basi, ke arah pembaharuan yang lebih baik lagi?