Menu

Mode Gelap

Internasional · 13 Mei 2022 18:56 WIB ·

Presiden Jokowi: Perlu tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat


 Presiden Jokowi saat hadir dalam pertemuan virtual Global COVID-19 Summit, Kamis (12/05/2022). (Foto: BPMI Setpres) Perbesar

Presiden Jokowi saat hadir dalam pertemuan virtual Global COVID-19 Summit, Kamis (12/05/2022). (Foto: BPMI Setpres)

JAKARTA, YAKUSA.ID – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menghadiri acara Global Covid-19 Summit yang digelar di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (12/5/2022). Pada acara tersebut, Jokowi hadir secara virtual.

Dilansir dari laman setkab.go.id, dalam pidatonya, Presiden Jokowi mendorong semua negara untuk bekerja sama mengatasi pandemi serta membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

“Untuk mengatasi pandemi, percepatan vaksinasi harus dilakukan untuk menjangkau 70 persen penduduk setiap negara. Momentum turunnya jumlah kasus saat ini harus dimanfaatkan untuk meluncurkan pukulan terakhir terhadap COVID-19. Vaksin harus secepatnya menjadi vaksinasi. Kolaborasi kita harus menjembatani tantangan vaksinasi, mulai dari pembiayaan, logistik, dan sumber daya manusia,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi menjelaskan bahwa setidaknya diperlukan tiga hal untuk membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat.

Pertama, akses kesehatan yang inklusif. Menurutnya, seluruh masyarakat tanpa terkecuali harus memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.

“Infrastruktur kesehatan dasar harus memadai dan siap menghadapi pandemi. Di tingkat global, setiap negara besar maupun kecil, kaya maupun miskin, harus memiliki akses yang setara terhadap solusi kesehatan,” imbuhnya.

Kedua, akses pembiayaan yang memadai. Terkait hal itu, Presiden Jokowi mendorong perlunya mekanisme pembiayaan kesehatan baru yang melibatkan negara donor dan bank pembiayaan multilateral karena tidak semua negara memiliki sumber daya untuk memperbaiki infrastruktur kesehatannya.

“Dukungan pembiayaan kesehatan harus dilihat sebagai sebuah investasi dan tanggung jawab bersama mencegah pandemi,” lanjutnya.

Ketiga, pemberdayaan. Presiden Jokowi memandang bahwa kapasitas kolektif harus diupayakan dan kerja sama antarnegara menjadi kuncinya. Menurutnya, kerja sama riset, kerja sama transfer teknologi, dan akses ke bahan mentah harus diperkuat.

“Tidak boleh ada monopoli rantai pasok industri kesehatan. Diversifikasi pusat produksi obat, vaksin, alat diagnostik dan terapeutik harus dilakukan. Dengan kapasitasnya, Indonesia siap menjadi hub produksi dan distribusi vaksin di kawasan,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa presidensi Indonesia di G20 memberikan perhatian besar terhadap kerja sama kesehatan secara inklusif. Untuk itu diperlukan peran dan keterlibatan semua negara, serta penguatan peran Badan Kesehatan Dunia atau WHO dan multilateralisme.

“Tidak boleh ada yang tertinggal dalam upaya kita membangun arsitektur kesehatan dan kesiapsiagaan dunia yang lebih kuat. Recover together, recover stronger,” tutupnya (yakusa.id-14)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Admin

Baca Lainnya

Cerita Yunita Agustini, Sosok Perawat di Taiwan yang Kuliah di UICI

27 Mei 2022 - 16:54 WIB

Berikut 10 Negara dengan Jumlah Mobil Listrik Terbanyak di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?

25 Mei 2022 - 13:12 WIB

Menprarekraf Sandiaga Uno Bawa Dua Motif Batik Pamekasan di Presidensi G20

24 Mei 2022 - 22:03 WIB

Enam Agenda Prioritas Jalur Keuangan Indonesia di Presidensi G20

23 Mei 2022 - 16:36 WIB

Wakili Indonesia, Ketum PB HMI Jadi Delegasi G7 Youth Summit 2022 di Jerman

18 Mei 2022 - 19:08 WIB

Jusuf Kalla Raih Penghargaan ‘The Grand Cordon of the Order of the Rising Sun’ dari Pemerintah Jepang

10 Mei 2022 - 19:12 WIB

Trending di Internasional