28 Juli 2021

Refleksi Dunia Pendidikan di Masa Pandemi

Penulis: Lisa Wulandari (Ketua Umum Kohati Komisariat Sains dan Teknologi Cabang Gowa Raya)

Pandemi covid-19 di Indonesia masih saja terus bertambah sehingga kebijakan pemerintah pun semakin banyak dan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Salah satu kebijakan pemerintah selama masa pandemi yaitu sosial distancing (pembatasan sosial). Hal ini, mengakibatkan perubahan yang sangat signifikan daripada sebelumnya, mulai dari penurunan ekonomi keluarga hingga sistem pendidikan pun menjadi berbeda.

Aktivitas masyarakat dialihkan menggunakan daring (dalam jaringan) sebagai upaya agar aktivitas tetap berlangsung seperti belajar dari rumah. Proses pembelajaran dilakukan dengan jarak jauh demi mematuhi protokol kesehatan serta adanya peraturan tentang sekolah yang masih ditutup dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah penyebaran covid-19.

Sistem pendidikan saat ini kurang efektif karena tidak berjalan rutin seperti proses mengajar secara langsung baik dari kalangan SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Meskipun teknologi telah memadai dilakukannya metode daring akan tetapi, tetap ada hambatan baik dari para pelajar maupun orang tua.
Pada dasarnya tidak semua para pelajar memiliki akses yang sama dalam teknologi. Ada yang terkendala di alat (Handphone) seperti siswa SD yang belum memiliki Hp atau harus bergantian dengan orang tua. Jaringan yang kurang stabil terutama mereka tinggal di daerah pelosok atau terpencil yang jauh dari pusat kota dan ada juga yang hanya mampu menggunakan beberapa provider tertentu. Belum lagi harga kuota yang mahal tapi, harus terpenuhi demi kelangsungan pembelajaran.

Banyak orang tua dari para pelajar mengeluh akibat tekanan pendidikan saat ini. Hasil survei Tanoto Foundation organisasi filantropi keluarga independen yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, mengenai tentang pembelajaran jarak jauh adanya beberapa masalah yang ditemukan.

Sebanyak 56% orang tua yang jenuh menangani kemampuan anak yang berada di bangku SD serta 34% orang tua kurang sabar dalam menjadi responden bagi anaknya yang duduk di bangku SMP. Orang tua yang kesulitan dalam menjelaskan materi pelajaran untuk anak SD ada 19% dan 28% untuk anak SMP. Sedangkan, orang tua yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran anak SD sekitar 15% dan 24% pada anak SMP. Siswa SMA melalui data kuesioner dari 344 siswa sebanyak 52,6% menyatakan bahwa semangat belajarnya selama daring menurun dan sekitar 61,1% mengalami kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk belajar di rumah.

Orang tua yang jenuh terhadap anaknya di tingakt SD sebanyak 56% menyebabkan penurunan kualitas peserta didik sehingga hanya lebih berfokus pada teknologinya saja bukan pada materi karena kurangnya juga dampingan. Begitupun halnya dengan 34% orang tua pada tingakt SMP yang kurang sabar menghadapi anaknya sehingga mudah emosi dan berdampak pada psikologi anak. Pada masing-masing orang tua di tingkat SD 19% dan SMP 28% yang kesulitan menjelaskan materi pelajaran membuat peserta didik juga kurang berkonsentrasi. Sedangkan orang tua yang kurang memahami materi pelajaran anak SD sebanyak 15% dan 24% pada SMP otomatis peserta didik juga tidak mampu menerima dengan baik apa yang disampaikan.

Pada tingkat perguruan tinggi mahasiswa juga memiliki banyak kendala dalam kuliah online. Mereka harus tetap tetap membayar UKT full meskipun tidak menggunakan fasilitas kampus. Kurangnya pengawasan sehingga mahasiswa susah berkonsentrasi, dituntut untuk mampu menerima dan memahami materi yang diberikan oleh dosen serta banyaknya tugas.

Berdasarkan data dari para mahasiswa khususnya UIN Alauddin Makassar berbagai jenis aplikasi yang digunakan selama proses kuliah daring yaitu sebanyak 27% mahasiswa menggunakan whatsapp, zoom 13%, Learning Center Area (Lentera) 24%, google meet 21%, google classroom 15%.

Beragamnya jenis aplikasi yang digunakan dalam proses kuliah online, mengharuskan untuk menggunakan Hp yang memiliki spesifikasi tinggi dan mengakibatkan kenaikan biaya lebih dalam kuliah online. Sementara dalam hal tersebut, tidak adanya subsidi sebagai bantuan dari pihak kampus maupun pemerintah. Apabila ditinjau dari aspek ekonomi efektivitas sistem kuliah online sangat bergantung pada tinggi rendahnya taraf ekonomi pada mahasiswa.

Pada penelitian Fransiskus memperoleh data deskriptif tentang kelas ekonomi peserta didik. Pada tingkat kelas ekonomi dengan pendapatan kurang dari Rp.500.000 sebanyak 55,78%, yang berpenghasilan Rp.500.000-Rp.999.000 sekitar 30,53%. Sedangkan, yang berpenghasilan Rp.1.000.000-Rp.1.999.999 sebanyak 8,42% dan dengan pendapatan sekitar Rp.2.000.000-Rp.2.999.999 sebanyak 5,26%.

Beberapa data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran secara daring belum berpotensi untuk diterapkan. Terdapat beberapa faktor penghambat yang menimbulkan dampak negatif bagi pelajar dan Mahasiswa. Banyaknya kendala yang ditemukan dalam proses pembelajaran selama daring terutama pembentukan karakter peserta didik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu perlu adanya upaya memperbaiki proses pembelajaran dengan tetap berorientasi pada tujuan dan fungsi pendidikan yang akan dicapai.

*) Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Yakusa.id