10 April 2021

Refleksi Perkaderan HMI di Milad BPL Ke 16

Oleh : Abnu Malik, S.Pd (Ketua Umum BPL HMI Cakaba Periode 2018-2019)
Editor : Taufik

Berbicara organisasi HMI maka tidak terlepas dari perkaderan, sesuai dengan pasal 8 AD HMI yaitu HMI berfungsi sebagai organisasi kader.

Perkaderan merupakan usaha organisasi yang dilakukan secara sadar sistematis selaras dengan pedoman perkaderan HMI yang memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader muslim intelegensia yang memiliki kualitas insan cita. Pembentukan kader di HMI dilakukan melalui lembaga pendidikan perkaderan yang ada di HMI. Kader dalam tubuh organisasi bisa di katakan sebagai tulang punggung dari organisasi atau disebut mesin penggerak organisasi, human invest, dan sebagai benteng dari organisasi tersebut. sedangkan Menurut A.s Horn By dalam pedoman perkaderan HMI Kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menurus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Jadi fokus perkaderan HMI sesungguhnya dititikberatkan pada kualitas seorang kader yang harus memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan main organisasi.
  2. Seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran.
  3. Seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas.
  4. Seorang Kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan “social engineering”.

Perkaderan di HMI sangatlah penting upaya terciptanya regenerasi di organisasi HMI sendiri. Saya menganalogikan perkaderan itu seperti halnya mata rantai yang ada dalam sepeda motor, ketika mata rantainya itu bagus maka bisa kita pastikan kita akan cepat sampai kepada apa yang menjadi tujuan namun sebaliknya ketika mata rantai itu terputus proses untuk sampai kepada tujuan akan sulit atau juga tidak bisa berjalan sama sekali karena ada mata rantai yg terputus disana(terputus regenarasi).

Maka dari itu dibutuhkan sebuah wadah untuk perkaderan, perkaderan di HMI dikelompokan dalam dua macam yaitu training dan aktivitas. Sasaran utama dari berbagai kegiatan HMI adalah membentuk watak dan kepribadian anggota, kemampuan ilmiah anggota dan keterampilan anggota.

HMI merupakan mesin pencetak pemimpin bangsa, kader HMI sebagai human invest sudah seharusnya mampu untuk menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar guna menciptakan lingkungan sendiri sesuai ajaran Islam dan tuntutan moral upaya mewujudkan apa yang menjadi Tujuan HMI. HMI harus dijadikan sebagai alat perjuangan bagi kader HMI dalam mentransformasikan gagasan.

HMI berfungsi sebagai organisasi kader dan berperan sebagai organisasi perjuangan sudah seharusnya proses perkaderan di HMI diarahkan juga melihat kondisi realitas masyarakat. Melihat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan apa yang harus di selesaikan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dimasyarakat. Hal ini harus senantiasa dilakukan upaya membangun kepekaan sosial pada dalam diri kader HMI, karena hari ini sudah banyak kader HMI yang berperilaku merasa pintar tapi tidak pintar dalam merasa. Daya sorot HMI terhadap persoalan masyarakat bisa menjadi indikator bahwa HMI benar benar mengaktualisasikan peranya sebagai organisasi perjuangan.

Selanjutnya apakah HMI melarang politik? saya katakan TIDAK. Harus kita sadari, persoalan perkaderan HMI terlanjur sangat kompleks sehingga orientasi pada politik kekuasaan (power politics) sudah merupakan bagian sangat penting dalam setiap wacana dan perilaku-perilaku kader. Meskipun HMI bukan organisasi politik, tetapi mempunyai kepedulian terhadap masalah politik, terkadang keterlibatannya yang tinggi dalam kegiatan politik, organisasi ini dituduh sebagai kelompok penekan yang dipandang hanya mengejar kekuasaan saja.

Bahkan Kakanda Anas Urbaningrum pun berpendapat bahwa HMI pasti bersentuhan dengan politik. Sebagai organisasi mahasiswa, HMI bukan dibentuk sebagai organisasi politik, dan karena itu jangan berorientasi pada politik. Perjuangan HMI adalah perjuangan kebenaran, atau nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, maka HMI tetap disebut sebagai kekuatan moral dan pantulan suara nurani masyarakat, tetapi sebagai organisasi yang telah mengalami perkembangan sedemikian rupa dan banyak alumninya, termasuk persentuhannya dengan dinamika politik bangsa, maka setiap sikap dan perilaku HMI akan tetap dipandang politis karena HMI yang postur awalnya sebagai moral force mau tidak mau juga dihitung sebagai political force.

Maka dari itu mari kita sama-sama refleksikan dan kembalikan lagi khittah HMI kepada apa yang menjadi tujuan HMI ketika HMI didirikan yaitu menyelesaikan permasalah keumatan, kebangsaan dengan cara senantiasa berorientasi pada kebenaran membela kaum mustadhafin dan melawan kaum mustakbirin dan menjadikan Islam sebagai sumber motivasi kader HMI dalam menjalankan aktivitas kehidupan upaya mewujudkan masyrakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Point penting perkaderan HMI adalah bagaimana seorang kader dapat melakukan perkaderan yang dimulai pada diri sendiri, bagaimana seorang pengader akan mengader orang lain apabila belum dapat mengatur dirinya sendiri. Dibutuhkan kesadaran individu agar internalisasi nilai – nilai HMI dapat merasuk kedalam jiwa individu tiap kader HMI. Dari hal inilah proses perkaderan dimulai.

Adakalanya seorang pemimpin itu harus ada didepan, ditengah dan dibelakang supaya terbentuknya cipta kondisi kepemimpinan yang berlandaskan bahwa setiap orang mempunyai potensi yang sama yang harus diaktualisasikan oleh masing masing individu.

*) Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Yakusa.Id