11 April 2021

Restorasi Arah Perkaderan HMI, Entitas Insan Cita HMI Sebagai Kader Intelektual

Penulis: Khairil Hanif Nasution (Ketua Bidang PAO HMI Cabang Labuhanbatu Raya)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Ayahanda Prof. Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam atau yang sekarang bernama Universitas Islam Indonesia (UII).

Sekitar 74 Tahun yang lalu HMI sudah didirikan dengan semangat keislaman dan keindonesiaan yang melatarbelakangi berdirinya HMI yaitu Mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. HMI sebagai organisasi Kader dan berperan sebagai organisasi perjuangan yang bersifat Independen. Dalam perjalanannya HMI tidak terlepas dari kritik pola pengkaderannya selama ini, dan sejauh mana peran HMI mampu melahirkan kader-kader umat dan bangsa yang berintegritas.

Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) makna dari restorasi adalah pengembalian atau pemulihan (Pembugaran) kembali pada keadaan semula (tentang sejarah). Sedangkan arah adalah petunjuk, dan membangun gerakan sosial (Social Movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan dan tindakan sekelompok mahasiswa islam yang terorganisir dalam membumikan pembaharuan.

Himpunan Mahasiwa Islam (HMI) adalah organisasi pengkaderan, jadi HMI adalah sebagai wadah pencetak insan cita berkualitas yang harus mempunyai sumbangsih yang nyata terhadap dunia pendidikan, daerah, dan bangsanya.

Sesuai dengan tujuan HMI yang termaktub dalam AD/ART yang berbunyi “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (Pasal 4 AD HMI).

Sebagai wadah mahasiswa islam mencari potensi dan menggali jati diri yaitu ada dalam proses pengkaderan HMI, seyogiyanya lingkup Komisariat sebagai ujuk tombak dan awal pembentukan karakter kader-kader HMI, berkualitas atau tidaknya tergantung kepada kader-kader yang berproses di Komisariat tersebut. Jadi, Komisariat harus mampu mewujudkan tradisi akademis yang kontinu untuk membangun dan mengembangkan kapasitas dan mentalitas kader HMI.

Adapun tradisi yang harus dikembangkan adalah :
1. Tradisi Membaca (Pendidikan)
2. Tradisi Berdikusi (Penilitian)
3. Tradisi Aksi (Pengabdian Kepada Masyarakat)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang juga sebagai miniatur masyarakat, kita sebagai kader-kader HMI harus bertanggung jawab dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang maju terkhusus dikalangan mahasiswa islam, maka dari itu kader-kader HMI jangan pernah bosan untuk belajar, untuk mencapai tugas yang sangat mulia yaitu sebagai representasi mahasiswa islam dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa untuk memimpin di masa depan.

Insan Cita HMI adalah kualitas kepribadian para kader-kader himpunan yang terbagi tiga aspek yaitu :
1. Insan Akademis, ialah kader yang berfikir kritis, rasional, objektif, berpengetahuan luas, dan intlektual.
2. Insan Pencipta, ialah kader yang kreatif, inovatif, terbuka, dan mau mengembangkan diri serta mempunyai motivasi karya yang tinggi.
3. Insan Pengabdi, ialah kader yang bernafaskan islam, serta bersungguh sungguh dalam mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmu pengetahuaannya untuk kepentingan kolektif, dan ikut bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah Swt.

Dengan kata lain, kualitas insan cita adalah entitas kaum intelektual plus kesadaran, ketaqwaan, dan kearifan. Kualitas ini terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari serta melekat dalam setiap diri kader yang selanjutnya mengambil peran dalam disiplin ilmunya masing-masing.

Saya bisa mengambil pelajaran ketika melihat manusia sebagai subjek yang aktif dan mengambil kendali atas nasibnya sendiri. Manusia melakukan perubahan, menciptakan penemuan, menghasilkan kesejahteraan, aktif bertindak dan tidak bersikap ‘pasrah’ terhadap tempat didalam gerak sejarah perjuangan.

Saya menulis dengan perspektif restorasi dalam tulisan ini melihat arah gerak dan perjuangan secara menyeluruh, realitas yang terungkap akan semakin luas. Jadi, kita semua bisa melakukan pendekatan holistic dan bukan semata diagnotic dalam memahami pembugaran gerakan pengkaderan HMI kedepannya sebagai bagian dari kekuatan Indonesia dalam meningkatkan sumber daya manusia, tentunya tidak berlebihan jika saya mengingatkan kembali apa yang sudah dikatakan oleh Panglima besar Jenderal Soedirman bahwa, “HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia”.