22 Oktober 2021

Rumah Sebagai Titik Nol Pendidikan

Oleh : Habiburrohman (Kader HMI Cabang Labuhanbatu Raya)

Pendidikan dalam perspektif Paolo Freire

Paolo Frerei dalam “Pendidikan Kaum Tertindas”, melihat dari subyektifitas interaktif antara pendidik dengan yang didik, Freire mendeskripsikan pendidikan dengan usaha dehumanisasi penindas dengan kaum yang lemah (tertindas). Kaum tertindas berada pada posisi Devosit system, serta dipaksa untuk berpikir sama dengan pendidik.

Pendidikan yang dialami oleh k tertindas selama ini tak ubahnya seperti pendidikan bergaya “sistem bank”. Guru merupakan subyek yang memiliki pengetahuan, dan murid sebagai deposit belaka. Freire juga mengkhawatirkan pemindasan tersebut akan meciptakan penindas-penindas baru secara regenarasi tanpa adanya kesadaran kritis berkelanjutan.

Pendidikan sebagai suatu penindasan terselubung terhadap kreatifitas murid, murid dituntut untuk mengikuti jalan pemikiran guru tanpa diberi kesempatan untuk berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah yang ada. Dari problematika tersebut, Paulo Freire memberikan suatu alternatif gaya pendidikan dengan metode yang diberinya nama “pendidikan hadap masalah”.

Selanjutnya Freire dalam “Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan”, merepresentasikan secara historis indikator terbentuknya kesadaran kritisnya terhadap perlunya pendidikan bagi kaum tertindas. Sehingga kesimpulan dari keduanya adalah, tekhnis pendidikan kekinian yang menindas kaum tertindas adalah siklus dari apa yang dilakukan dan diturunkan pendidikan masa lampau dengan gaya “sistem bank”.

Freire menawarkan “pendidikan hadap masalah” sebagai alternatif, dimana pendidikan membebaskan manusia dalam menentukan konsentasi keilmuannya dan prakteknya, sehingga pendidikan dapat juga dikatakan pemicu ataupun rangsangan pengetahuan.

Pendidikan Dalam Perspektif Imam Al-ghazali

Dalam literasi lain, pendidikan dalam perspektif Imam Al-Ghazali, dimulai dari pembentukan karakter, karena pada hal terebut dapat dikembangkan menjadi kesadaran perlunya pengetahuan sebagai dasar tercapainya usaha menemukan jati diri manusia dan potensinya. Konsep pendidikan tersebut, jauh sebelum freire ada, sangat memungkinkan untuk diaktualisasikan secara universal baik dalam alam keluarga, sekolah, dan pergerakan.

Pendidikan Dalam Perapektif Kihajar Dewantara

Kihajar Dewantara dalam metode pendidikan sistem among, metode pengajaran yang sesuai dengan asih, asah dan asuh, sesuai dengan pendidikan yang dilaksanakan langsung dalam berbagai tempat yang diberi nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu Alam Keluarga (Pendidikan Informal), Alam Perguruan (Pendidikan Formal) dan Alam Pergerakan Pemuda (Pendidikan Non Formal).

Tri sentra tersebut menjadi inspirasi pendidikan di Indonesia dan ketiganya mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan, kepribadian dan tingkah laku anak. Keluarga, pihak sekolah, pemerintah maupun masyarakat merupakan stakeholder pendidikan yang memiliki peran penting dalam proses pendidikan.

Eksistensi dan Problematika Pendidikan Kekinian

Eksistensi Pendidikan Di Era Pandemi Tidak Merubah Dehumanisasi, Banking System, Dan Diskarakter Pendidikan yang pernah ada. Kekinian, dehumanisasi Pendidikan tidak kenal momentum pandemi, dalam kondisi normal, dehumanisasi tetap berjalan, walau gaya yang dipakai adalah gaya baru (neo-dehumanisasi). Metode daring atas kegiatan belajar-mengajar, hanya sebagai motif baru pendidikan formal, namun tetap tidak menghilangkan dehumanisasi dengan latar belakang kaum tertindasnya.

Masyarakat miskin kota yang disimbolkan Freire dengan sebutan “Kaum Tertindas”, diera pandemi bahkan lebih tertindas dari apa maksud freire, pasalnya mereka mau tidak mau harus menerima ketertindasan tambahan yaitu ketidakstabilan ekonomi yang berdampak pada ketidak-ikut sertaaan-nya terhadap pendidikan formal.

Banking system dalam dunia pendidikan formal diera pra-pandemi masih belum menunjukkan rekontruksi pendidikan yang baik. Artinya dalam kondisi pendidikan formal tatap muka (Live Interaktif) saja belum dapat merekontruksi metode pendidikan kearah yang lebih baik, bagaimana metode daring dapat menciptakan “pendidikan hadap masalah” seperti apa yang dikatakan freire sebagai alternatif kebaikan pendidikan.

Pendidikan karakter sebagai konsep pendidikan hasil pemikiran Sang “Hujjatul Islam (Pembela Islam)” membutuhkan interaksi langsung, karena dalam agenda tersebut dibutuhkan pendekatan emosional dengan pendekatan “guru sebagai teladan yang baik”.

Optimalisasi Pendidikan Informal (Alam Keluarga) Dalam Kondisi Pandemi Covid-19, Namun Tetap Mengikuti Peran Stakeholder Pendidikan Lainnya

Metode pendidikan sistem among seperti apa yang dikonsep oleh Kihajar Dewantara yaitu asih, asah dan asuh, hal tersebut sesuai dengan pendidikan yang dilaksanakan langsung dalam berbagai tempat yang diberi nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu Alam Keluarga (Pendidikan Informal), Alam Perguruan (Pendidikan Formal) dan Alam Pergerakan Pemuda (Pendidikan Non Formal).

Pasalnya Tri sentra tersebut menjadi inspirasi pendidikan di Indonesia dan ketiganya mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan, kepribadian dan tingkah laku indonesia. Keluarga, pihak sekolah, pemerintah, dan masyarakat merupakan stakeholder pendidikan yang memiliki peran penting dalam proses pendidikan.

Namun kendala ada pada era pandemi kekinian, situasi tersebut tidak memungkinkan untuk menerapkan sistem among secara keseluruhan dalam pendidikan di Indonesia dalam implementasinya. Padahal interaksi pada proses belajar mengajar langsung dalam pendidikan sangat dibutuhkan guna terciptanya pendidikan karakter seperti konsep Imam Alghazali dan terbangunnya pendidikan hadap masalah seperti konsep Paulo Freire.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dibeberapa daerah dengan level yang berbeda oleh Pemerintah, mengharuskan pendidikan formal (alam keguruan) dan pendidikan nonformal (alam pergerakan) berjalan secara online, virtual, daring, dan lain-lain. Pendidikan informal (alam keluarga) menjadi satu-satunya alternatif agar mendapatkan sentuhan emosional dalam prosesnya.

Optimalisasi Pendidikan Informal (Alam Keluarga) sebagai salah satu solusi teoritis pendidikan, tanpa menghilangkan peran stakeholder pendidikan lainnya. Selain dalam pendidikan, akibatnya penyebaran virus juga berpotensi besar berhenti.

Lewat perombakan tekhnis pendidikan secara virtual dan online, sebenarnya dapat menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan dan menciptakan budaya berliterasi, jika pemerintah dalam hal ini dapat memberdayakan kewenangannya dan kebijakannya dalam merekonstruksi sistem pendidikan kekinian menjadi lebih baik.

Peran stategis Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) untuk mengelola sumber daya yang ada dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan bersinergi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Kementrian Sosial (Kemensos).

Hal-hal tekhnis seperti fasilitas pendidikan online (android, laptop kuota, dan jaringan) melahirkan kesenjangan interaksi dan komunikasi dalam sosialisasi pendidikannya. Kesenjangangan ekonomi dan sosial tersebut, menjadi indikator penting sehingga lahirlah penindasan didalam dunia pendidikan (informal, formal, dan nonformal).

Bangkit dari keterpurukan pendidikan diera pandemi sudah lama digaungkan, beberapa solusi berupa bantuan-bantuan agar dapat belajar secara online dicairkan, dan poster-poster digital para politisi, elit negara, dan swasta juga ditampilkan. Dan pada akhirnya rumah adalah satu-satunya titik nol pendidikan. Berangkat dari rumah, untuk dapat keluar dari penindasan dunia luar.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.