Menu

Mode Gelap

Opini · 19 Nov 2021 02:51 WIB ·

Sebuah ‘Mimpi’ JK Menjadi Nahkoda NU


 Sebuah ‘Mimpi’ JK Menjadi Nahkoda NU Perbesar

Oleh : Ponirin Mika (Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, serta Dewan Pakar Forum Pemuda dan Mahasiswa Gelaman, Arjasa, Kangean, Sumenep)

Nahdlatul Ulama salah satu organisasi masyarakat Islam (Ormas) didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur. Pendirian organisasi NU tidak terlepas dari berbagai banyak faktor yang terjadi di dunia, utamanya di Indonesia.

Diantara faktor tersebut adalah makin maraknya gerakan pemurnian ajaran islam yang dipandang akan mengganggu terhadap prilaku keagamaan yang telah nyaman dilaksanakan oleh masyarakat nusantara. Tentu disamping itu adalah berdirinya NU untuk menjawab problematika kebangsaan dan keummatan.

NU yang menjadi rujukan mayoritas umat berkait fatwa keagamaan maupun kebangsaan, ini menunjukkan bahwa keberadaan NU mampu memberi jawaban terhadap persoalan bangsa dan agama. Menariknya, fatwa keagamaan dan kebangsaan yang dikeluarkan oleh NU tidak asal-asalan, melainkan memiliki referensi yang kuat berdasarkan dalil naqli, aqli dan pembacaan terhadap budaya yang ada di Indonesia. Pertimbangan NU untuk mengeluarkan fatwa sangat mendalam sehingga selalu masuk akal pada mayoritas masyarakat.

Tradisi demikian telah tertanam di dunia pesantren salaf, karena NU merupakan pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Karenanya, tradisi-tradisi di NU hampir seluruhnya menyamai tradisi yang berlaku di dunia pesantren.

Karena NU organisasi sangat besar, yang bukan hanya membahas tentang isu-isu politik semata, namun juga sangat konsen membahas berbagai isu aktual lebih-lebih soal keagamaan dan keberagamaan, maka seyogyanya NU harus terus mempersiapkan para kadernya agar bisa menjawab berbagai problematika yang ada.

Dalam catatan sejarahnya, NU memiliki banyak pemikir-pemikir kebangsaan, keummatan dan sangat alim dalam ilmu-ilmu agama serta memiliki ketakwaan kepada Allah yang sangat tinggi. Keyakinan di masyarakat NU tempatnya orang alim yang menguasai literatur kitab-kitab klasik, dan pengetahuannya luas dari berbagai aspek kebangsaan dan keummatan, dengan hal itu, menjadi keniscayaan NU harus di nahkodai oleh orang yang kompeten di berbagai bidang utamanya bidang agama, dan tentu juga bidang yang lain.

Beredarnya Ir. Jusuf Kalla yang akan ikut mencalonkan diri pada muktamar NU mendatang, akan mendatangkan banyak pertanyaan-pertanyaan. Akankah ia akan hadir untuk memajukan NU ataukah itu hanya sekedar trik politik JK agar muktamar NU lebih seru. Layak untuk ditunggu.

Andai saja JK benar-benar akan ikut berkompetisi pada muktamar NU tersebut, maka JK harus melaksanakan kebiasan-kebiasaan di NU, yaitu meminta restu para sesepuh NU dan jikalau tidak diperbolehkan untuk maju, sebaiknya JK harus mengurungkan niatnya. Sebaliknya jika di perbolehkan maju oleh para sesepuh NU, JK harus menyadari bahwa ulama-ulama NU memiliki hati yang luas, tidak ingin mengecewakan orang, terutama kader NU, disilah kepekaan kader harus ditingkatkan.

Bagaimana peluang JK untuk menjadi ketua PBNU? rasa-rasanya akan mengalami hambatan-hambatan. JK seorang politisi bukan hal yang tidak mungkin itu terjadi, tapi NU bukan organisasi politik yang semuanya bisa di politisir. NU akan terus terjaga dari prihal yang akan menjatuhkan NU karena NU dijaga oleh para masyayikh baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Wallahu’alam.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tuhan Maafkan, Saya Belum berislam

18 Januari 2022 - 06:52 WIB

Gus Yahya dan Harapan Masa Depan NU

10 Januari 2022 - 05:00 WIB

Tahun Baru; Proyeksi HMI Untuk Masa Depan Indonesia

2 Januari 2022 - 16:21 WIB

Ada Aboge di Kangean

28 Desember 2021 - 09:29 WIB

Gus Yahya dan NU

26 Desember 2021 - 13:53 WIB

Lafran Pane dan Himpunan

21 Desember 2021 - 09:32 WIB

Trending di Opini