28 Juli 2021

Siapa Sangka ber-kader di HMI itu nyaman?

Siapa Sangka ber-kader di HMI itu nyaman?
Oleh: Basri (Pengurus BADKO HMI Jawa Timur)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ialah organisasi tertua di indonesia. Sebab dua tahun pasca kemerdekaan HMI di deklarasikan oleh Ayahanda Lafran Pane di tengah-tengah mahasiswa yang waktu di Jogjakarta, yakni bertepatan pada tanggal 05 Februari 1947.
HMI organisasi independen yang tak terikat dengan ormas manapun, ini membuktikan kedewasaan karakter dan kedewasasaan berfikir dengan asas Islam, kemudian dengan Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang menjadi ideologi kader HMI. 
Tak banyak yang mengtakan HMI Muhammadiyah, NU, persis, serta semuanya di tuduhkan kepada HMI. Padahal HMI adalah satu-satunya organisasi yang mempunyai nilai esensial tentang pandangan Islam, seperti yang di tulis salah satu tokoh, yakni Nurcholish Madjid (Cak Nur), dan tokoh yang lainnya.
Proses kaderesasi menjadi acuan kepada semua orang (kader) yang mengikuti jenjang training di HMI, seperti LK (Latihan Kader) 1, LK2, dan LK3. Bahkan jenjang training lainnya. Proses perkaderan di HMI tidak cuma dengan mendaftar, tetapi masih ada tahapan seleksi lain untuk bisa di terima dan berproses di HMI.
Semisal LK 1 tahapannnya di screening terlebih dahulu untuk mengukur sejauh mana kemampuan calon kader dengan beberapa materi yang di siapkan.
Dan LK 2, proses kaderesasi LK 2 melalui beberapa tahapan juga, disisi lain calon kader juga di suruh membuat karya ilmiah (makalah), sebagai syarat untuk bisa di terima sebagai peserta LK 2 dan tahapan screeningpun pasti di lalui, setelah kader di nyatakan di terima dalam pengajuan karya ilmiahnya. 
Begitupun LK3, Jurnal sebagai syarat untuk bisa di terima sebagai peserta LK 3 yang murni hasil di buatan sendiri oleh calon peserta. Oleh karenanya tahapan itulah yang bisa menjadi ciri khas kader HMI dalam berproses, baik di latih untuk percaya diri, jujur, disiplin, serta dalam mengambil sikap/kebijakan dalam ber-organisasi.
Kemudian ber-HMI tidak harus mengkibiri sesama kader, bahkan dengan non kader HMI, pula tak harus  mencaci. NDP yang di ajarkan oleh HMI membuktikan bahwa kader HMI harus mampu mentransformasikan persoalan-persoalan yang kemudian di nilai tidak berpihak kepada individu dan masyarakat. Kader HMI mempunyai kebebasan dalam berfikir, berbicara dan bertindak selama itu tidak melenceng dari ideologi HMI dan juga Islam sebagai asas. 
Kader HMI yang di kader sebagai pemimpin, terlebih kepada nilai intelektual seyogyanya harus pula berkualitas secara keilmuan dan total  dalam melakukan tugas-tugas kehidupan sehari-hari sebagai kholifatullah fil ard. Tentunya tugas wajib kader HMI ialah menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, yg bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas teruwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah swt. 
Ada hal yang menarik jika kader HMI lebih kepada insan politik, walaupun sebenarnya di HMI di ajarkan bagaimana berpolitik. Namun hal ini menjadi kelemahan seorang kader jika kemudian harus di benturkan dengan urusan politik. Tidak heran jika terkadang kejadian-kejadian di HMI di larikan kepada urusan politik. Nah disitu terkadang terjadi persikukuhan antar kader, kemudian pemangkasan-pemangkasan yang sering kali terjadi. Oleh karenanya alangkah baiknya kader selalu dengan nilai seorang kader, dimana harus kritis dan paham akan segala keilmuan. Tertera pada bab VII (NDP HMI), Kemanusiaan Dan Ilmu Pengetahuan. Dan tidak selalu manut terhadap senior (alumni) yang mempunyai kepentingan secara politik praktis, walaupun sebenarnya tidak semua senior atau alumni suka berpolitik.
Sejauh ini kader HMI mengalami kemundurun yang sangat pesat. Sudah banyak kader HMI tidak lagi suka baca buku, bahkan kegiatan-kegiatan di komisariat yang seharusnya di lakukan oleh seorang kader seperti kajian, nah sekarang jarang terlaksana, bahkan sudah tidak lagi ada. Kemudian kepekaan-kepekaan sosial seorang kader pun mulai menurun. 
Harusnya di era 4.0 ini kader HMI menjadi contoh dimana harus mengisi ruang-ruang yang semestinya di isi oleh kader HMI. Bayangkan sudah tak bisa di nafikan lagi kader-kader HMI hari ini yang kerjaannya hanya ngopi dan main game walaupun tidak semuanya kader HMI seperti itu, mereka enggan apa yang sudah menjadi kewajiban seorang kader untuk bisa di katakan insan akademis. Yang ada hanya menunggu perintah senior (alumni), dan meminta proyek (pekerjaan). Semestinya kader HMI melakukan diskusi-diskusi kecil dan semangat belajar, terlebih di komisariat.
Kemudian tidak hanya itu, perkaderan yang seharusnya ada nilai normal untuk kapasitas keilmuan seorang kader tentu hari ini pun sepertinya sudah tak lagi di gunakan dengan baik. Semisal ada seorang kader yang yang mau ikut LK2 atau LK3 terkadang terkesan di paksakan lulus walaupun sebenarnya hasil “Lobi-lobi Yahudi”, tanpa melihat sejauh mana kemampuan seorang kader. 
Jadi tidak heran, Contoh kecilnya saja  semisal dalam screening BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) ada yang tidak bisa ngaji tapi sengaja di luluskan. Nah ini kan sebenarnya pertanyaan besar, tipikal seorang kader HMI yang tidak bisa BTQ sengaja di lulus kan ini memgakibatkan kefatalan yang luar biasa bagi kader HMI sendiri, sebenarnya jika kader HMI sadar, sebenarnya ilmu baca tulis al-qur’an adalah fondasi untuk kehidupan ummat dan bangsa dalam mengamalkan nilai-nilai pokok ajaran agama Islam di setiap harinya. 
Oleh karenanya ini menjadi tugas penting bagi kader HMI sendiri, baik pengurus komisariat, cabang, Badko, bahkan PB dan pengurus semi-otonom sekalipun yang masih dalam naungan struktural HMI, kader harus mampu mengasah diri bagaimana dengan kualitas kader HMI secara keilmuan agama, terlebih kepada keilmuan tentang kitab suci al-qur’an. Agar perkaderan di HMI tidak hanya di dapat oleh senior yang mampu melobi.
Kejadian ini seringkali terjadi ketika perkaderan di tubuh HMI melaksanakan tugas kewajiban seperti LK2, LK3. Semoga kedepan kader HMI bisa fokus terhadap pentingnya berproses (ber-kader) bukan mengakses. Sebab salah satu kemunduran HMI juga di lakukan oleh kader HMI sendiri bukan dari orang lain.  
Trakhir, tulisan ini semoga bermanfaat bagi kader HMI termasuk penulis, dan kesadaran terhadap pola perkaderan yang sudah mulai menurun di tubuh HMI. Harapannya kader HMI mampu menjawab tantangan zaman secara global. Tapi tidak untuk sebaliknya (menjadi beban zaman). Sekian terimakasih.