22 Oktober 2021

Siapakah Yang Layak Jadi Ketua PBNU?

Penulis : Ponirin Mika (Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton, Anggota Community of Critical Social Research dan Pemerhati Pendidikan di Indonesia)

Muktamar Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) hampir digelar pada akhir 2021. Nama-nama kandidat ketua umum PBNU sudah mulai bermunculan.

Setidaknya ada empat nama yang beredar di jagad maya, diantaranya; KH. Said Aqil Siroj, KH. Yahya Cholil Tsaquf, KH. Hasan Mutawakkil Alallah, KH. Bahauddin Nursalim dan KH. Marzuqi Mustamar.

Perebutan ketua umum PBNU menjadi momentum yang sangat dinanti oleh banyak mata dunia. Sebab NU merupakan organisasi terbesar yang ikut andil dalam menentukan arah perjalanan bangsa.

Sebagai organisasi yang didirikan oleh ulama (KH. Hasyim Asy’ari), NU mulai dari sejak berdirinya telah mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat dalam keberagamaan, berbangsa dan bernegara. NU terkenal dengan ajaran moderasinya, yang mampu hidup berdampingan dengan siapapun, tak terkecuali dengan masyarakat yang memiliki keyakinan-keyakinan berbeda.

Bagi NU keyakinan yang berbeda dalam hidup berbangsa dan bernegara bukan hal yang harus dipertentangkan. Masyarakat yang hidup di Indonesia harus terus melaksanakan pesan-pesan moral yang termaktub dalam Pancasila dan bhineka tunggal ika. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah merumuskan, bahwa perbedaan ras, antar golongan, suku dan agama adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat terus jangan sampai ternodai oleh sikap-sikap arogan yang hanya memamerkan emosi keagamaannya, bukan cinta agama.

NU selalu terdepan menjaga keutuhan bangsa. Karena baginya, apabila bangsa terganggu oleh ancaman-ancaman intoleransi, diskriminasi, maka akan mewujudkan ketidak-adilan dan permusuhan. Tentu NU tidak sendirian memilihara keutuhan NKRI, ada Muhammadiyah, salah satu organisasi besar setelah NU yang berada di Indonesia.

Sumbangan organisasi NU pada Bangsa Indonesia tidak bisa dihitung dengan jari. Baik berkait sikap keagamaan, politik, keumatan dan kebangsaannya. Tidak sedikit dengan sikap yang diperjuangkan NU, organisasi ini selalu mendapatkan image yang kurang baik dari segelintir orang. NU dipandang sebagai organisasi sayap politik tertentu, NU dianggap sebagai sayap pemerintah yang tidak memihak pada kepentingan rakyat, NU ditengarai sebagai organisasi keagamaan yang keluar dari garis perjuangannya dan lain sebagainya. Penilaian itu tidak menyurutkan spirit NU dalam melaksanakan dakwah dan perjuangan. Justru hal tersebut dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan pengabdiannya di tubuh NU untuk tetap menegakkan ajaran agama, bangsa dan negara.

Sebagai organisasi yang memiliki pengikut yang sangat besar, NU harus dipimpin oleh orang yang memiliki keilmuan (alim), kecakapan dan jejaring yang luas serta masa pengabdiannya di NU. KH. Said Aqil Siroj selama dua periode menjadi nahkoda NU telah mampu menunjukkan kapabilitas, kapasitas dan kecakapannya, sehingga NU dikagumi oleh negara-negara luar. NU terus hadir untuk memecahkan persoalan pelik yang dihadapi bangsa, begitupun terkadang hadir kepentas internasional untuk memberikan sumbangan pemikiran-pemikirannya sehingga menjadi rujukan.

Akan tetapi Kiai Said dirasa cukup memimpin organisasi PBNU, dan sebagian dari masyarakat NU ada yang menginginkan orang lain untuk menggantinya, meskipun Kiai Said masih diperbolehkan dan ada peluang untuk maju lagi untuk menjadi ketua umum PBNU.

Paling tidak, empat kiai yang layak menjadi kandidat ketua umum PBNU yang telah beredar di media sosial sudah memiliki tiket, jika ditinjau dari beberapa aspek, yaitu aspek keilmuan, kecakapan, jejaring dan tentu masa pengabdiannya di NU.

Sedangkal pengetahuan saya, menjadi pemimpin di organisasi Nahdhatul Ulama berbeda dengan memimpin di partai politik atau di organisasi pemerintah bahkan di organisasi-organisasi lainnya. Ada hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh seseorang yang berada pada puncak pimpinan di NU. Adalah memiliki keilmuan agama yang sangat baik dan tentu kemampuan yang lain pun menjadi sebuah keharusan agar supaya memimpin organisasi NU bisa berkembang maju untuk terciptanya perubahan menuju kemaslahatan dalam segala sektor kehidupan.

Melihat faktanya, perjuangan NU tidak hanya konsentrasi pada soal keagamaan semata, namun urusan keumatan dan kebangsaan menjadi salah satu kajian dan pemikiran terus mernerus yang tak pernah ada henti-hentinya. Ada semboyan dari orang kampung saya di Pulau Kangean, NU hadir untuk umat dan bangsa. Maka pengurus NU hidup mati akan memperjuangkannya.

Bagi saya, NU telah banyak memiliki kader yang potensial. Aset-aset sumber daya manusia di NU perlu diberi kesempatan untuk menjadi nahkoda NU. Selain dari Kiai Said Aqil ada Gus Yahya. Gus Yahya seorang intelektual yang alim, memiliki konektifitas dengan beberapa orang penting diluar negeri, memiliki kecakapan dalam memimpin organisasi, juga pengasuh Pondok Pesantren di Rembang Jawa tengah, serta memiliki pengabdian yang baik di NU.

Ada juga KH. Marzuki Mustamar, beliau Ketua PWNU Jawa Timur sampai sekarang, memiliki keilmuan agma yang bagus, memiliki kecakapan memimpin organisasi tentu memiliki sikap berani dalam mem,bending gerakan radikalisme. Begitupula kandidat-kandidat yang lain yang tak kalah dari segi keilmuan dan kecakapannya. Ini hanya sebuah penilaian dari saya.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan mohon dimaafkan jika ada yang keliru.
Walhasil, pada muktamar akhir 2021 nanti, kita sebagai warga Nahdhatul Ulama yang berada di masayarakat bawah memiliki harapan besar agar organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan para kiai-kiai kharismatik lainnya, memiliki pemimpin yang kompeten, yang tentu mampu membawa NU berada pada garis juang yang termaktub dalam khittah NU. NU terus berkibar ditengah keberagaman, NU menjadi solusi bagi persoalan disintegrasi bangsa, NU menjadi organisasii keagamaan yang terus mendakwahkan Islam washatiyah, dan NU menjadi organisasi keagaman yang terus menanamkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah.

Selamat menyambut muktamar NU 2021.
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thoriq.

 

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.