11 April 2021

Surat Singkat Untuk Kader Himpunan

Bendera HMI (Foto: Viva.co.id)

Oleh: Fadhil Muhammad (Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) HMI Komisariat Syariah-Ekonomi UIN Malang)

Saya kepengen merangkai kata-kata untuk himpunan tercinta ini. Entah itu sebagai kritik, saran, pertanyaan, pernyataan atau usulan. Terserah bagaimana sudut pandang pembaca menanggapi. Yang jelas saya merasa resah, gelisah dan greget dengan organisasi mahasiswa Islam yang umurnya sudah lebih dari setengah abad ini. Maka dari itu keresahan, kegelisahan dan kegregetan yang Saya rasakan disampaikan dalam tulisan ini.

Ini masih tentang Covid-19 yang menjadi masalah bersama. Saat Covid-19 mewabah di Indonesia, saya menunggu reaksi Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI). Salah satu lembaga pengembangan profesi yang ada di HMI. Kebetulan fokus di bidang kesehatan. Mengapa? Karena masalah yang sedang kita hadapi, adalah masalah kesehatan. Tentu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini adalah tenaga kesehatan/medis. Seperti yang diberitakan media-media, mereka adalah garda terdepan melawan Covid-19.

Lalu dimanakah peran LKMI? Dari beberapa media, saya melihat LKMI cukup kontributif dengan memberikan bantuan alat kesehatan, masker dan hand sanitaizer kepada rumah sakit dan masyarakat. Tidak hanya itu, LKMI juga melakukan aksi sosial berupa bagi-bagi sembako kepada masyarakat terdampak serta membangun dapur darurat di beberapa kota. Saya mengapresiasi langkah LKMI yang tanggap dan sadar akan fungsinya di masyarakat.

Namun, saya ingin sedikit menggaris bawahi makna LKMI di tubuh HMI. Dalam pandangan saya, LKMI adalah ‘tangan kanan’ HMI untuk mempertajam mission HMI khususnya di bidang kesehatan. Fungsi LKMI tidak hanya sekedar tempat ‘kongkow’ para tenaga kesehatan, akan tetapi lebih dari itu. Saya amat tidak setuju jika ada yang mengatakan bahwa LKMI adalah penyedia stok tenaga kerja medis. Tidak. Menurut saya, fungsi LKMI setara dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan ruang lingkupnya lebih luas. Jika IDI merupakan wadah bagi kumpulan dokter dari berbagai spesialisasi kesehatan yang hanya fokus keprofesian, sedangkan LKMI merupakan wadah bagi mahasiswa farmasi, kesehatan masyarakat, kedokteran, kebidanan, dll. Memiliki fungsi profesi, sosial dan pengabdian masyarakat. Sangat luas bukan? Tidak hanya bergerak di bidang profesi, tetapi bagaimana profesi itu dapat berbuat sesuatu yang berdampak bagi masyarakat. Lebih tepatnya LKMI merupakan penyedia stok sumber daya unggul di bidang kesehatan.

Saya bertanya-tanya apakah riset tidak termasuk dalam fungsi LKMI? Padahal riset dalam dunia kesehatan itu sangat diperlukan. Kultur yang dibangun HMI, kader-kader selalu diajarkan untuk selalu membaca, berdialektika, menganalisis permasalahan, merancang solusi, hingga evaluasi dan proyeksi ke depan. Namun, hal tersebut hanya dilakukan saat di organisasi. Ketika masuk ke dunia profesi, hilang sudah. Padahal dunia profesi membutuhkan itu, terlebih bidang kesehatan yang terus berkembang. Seperti adanya penyakit baru, virus baru, anvirus baru dan lain-lain.

Saya kira, ini kelemahan kita. Hal inilah yang membuat kita ramai-ramai dibodohi oleh WHO, perusahaan biopharma Amerika Serikat dan negara industri maju. Kanda dan yunda perlu membaca sepak terjang Ibu Siti Fadila, Menteri Kesehatan Era Kabinet Indonesia Bersatu saat menangani virus flu burung. Cukup googling saja, bagaimana kekuatan riset dalam kesehatan itu dapat mempengaruhi hidup dan mati banyak manusia. Bagi kader HMI tidak terlalu sulit membaca permasalahan tersebut, karena di HMI dibiasakan membedah masalah menggunakan pisau analisis baik itu filosofis, sosologis, ekonomi, politik, hukum dan lain-lain.

Sebenarnya ini tidak menjadi perhatian kita, karena kanda-yunda HMI tidak banyak bergelut di bidang kesehatan. Jangan-jangan, HmI tidak memiliki daya tawar di fakuktas-fakultas kesehatan sehingga kualitas insan cita HMI tidak tersampaikan? Atau bagi kanda-yunda, bergelut di dunia aktivis nan politis itu lebih seksis ketimbang menjadi tenaga medis. Tidak salah, namun jika semuanya bergelut disana lalu siapa yang akan bergelut disini? Jikalau semuanya terjun ke dunia politik, siapa yang akan berperan di dunia kesehatan? Saya pikir kanda-yunda yang sudah mengikuti training LK 2 dan LK 3 paham.

Kader-kader HMI seluruh Indonesia berharap besar kepada LKMI untuk mengawal dunia kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, menjadi inisiator pengembangan mutu kesehatan dan mencegah pihak yang hendak mengeruk keuntungan diatas rasa sakit orang-orang. Dalam konteks wabah Covid-19, saya berharap LKMI tidak hanya sekedar membagikan masker dan hand sanitaizer.