10 April 2021

Surat Untuk Tuhan di Penghujung Ramadhan

Karya: Haidar Ali M (Kader HMI Cabang Malang Komisariat Hukum UMM)
Editor: Hasiyah

Ya Ramadhan…
Wahai bulan yang penuh dengan kesucian
Yang penuh dengan ke-agungan
Terima kasihku padaNya karena masih mengizinkan diriku yang hina ini untuk mencicipi indahnya menikmati bulan yang penuh dengan keberkahan.

Ya syahrul Qur’an…
Maafkan diriku karena aku masih terberdaya oleh nafsuku.
Maafkan diriku karena aku masih terbelenggu.
Maafkan diriku Tuhan,
Maafkan diriku Ramadhan, karena untuk kesekian kalinya aku kalah dalam peperangan.
Namun dengan kekalahan itu pun aku juga bersyukur, karena dengan begitu aku tetap mencintai hal yang bernama merenung, merenung, merenung, dan berpikir atas segala hal yang engkau ciptakan

Sekali lagi maafkan diriku Tuhan, Maafkan diriku Ramadhan karena aku lebih sering menikmati kesucianmu di jalanan sembari melihat barisan kesengsaraan, kesenjangan, dan kemiskinan.
Jika hal yang aku lakukan adalah hal yang membuat engkau marah, maka marahlah
Jika hal yang aku lakukan adalah hal yang membuat engkau murka, maka murkalah.

Tuhan,
Namun marah dan murkamu tak akan berarti apa apa padaku, sebab sampai pada detik ini aku berkeyakinan bahwa beribadah tidak harus melulu harus di dalam rumah rumah ibadah.
Maka jika engkau ingin marah dan murka atas keyakinanku maka marah dan murkalah Tuhan.
Firman mu berbunyi “Wa Huwa Alimun Bidatissudur” maka sebab itulah aku tak khawatir bahwa engkau akan marah dan murka padaku, karena aku yakin bahwa segala hal telah engkau ketahui termasuk bunyi bunyi dalam hatiku.

Tuhan,
Aku sampaikan padamu bahwa dunia sedang kebingungan, manusia saling membenarkan diri atas nama dirimu Tuhan
Yang satu menyalahkan yang lain karena pendapatnya, pun juga sebaliknya.
Bagaimana ini Tuhan? Bagaimana ini Tuhan? Aku harus mengikuti yang mana? Sedangkan fatwa fatwa mereka semua mengatasnamakan diriMu.

Yang satu berkata bahwa sholat ied dilakukan dirumah masing masing atas nama keselamatan,
Yang satu berkata bahwa sholat ied dilakukan di mesjid mesjid atas nama keyakinan,
Aku harus ikut yang mana Tuhan?
Takbir mereka sama sama berbunyi “Allahu Akbar”
Niat mereka sama sama melaksanakan kewajiban
Hari raya mereka sama sama Merayakan kemenangan
Namun Tuhan, asal Kau tahu bahwa ini membuat ummat kebingungan.
Tolong Tuhan, berikan jawabanMu…

Akal ku berkata bahwa Engkau satu satunya YANG MAHA BESAR
Hatiku pun demikian…
Namun kondisi ini membuatku kebingungan
Aku bingung memikirkan Dirimu
Apakah engkau hanya berada di rumah rumah ibadah?
Atau engkau berada dimanapun manusia berada, termasuk di dalam diri manusia masing masing?

Jika engkau tidak memberi tahu Tuhan
Maka izinkan aku untuk mengambil keputusan di tengah kebingungan
Bahwa aku mengkafirkan diriku sendiri pada keyakinan yang mengantarkan ku berTuhan pada simbol simbol
Sebab se pemahamanku Engkau tak terbatas ruang dan waktu
Maka aku percaya bahwa Tuhan ku Maha Besar
Dan islam bukan terletak di simbol simbol termasuk simbol keagamaan.

Terakhir untukMu Tuhan
Di penghujung Ramadhan ini aku proklamirkan kembali pada diriku sendiri dan segenap pembaca
Bahwa islam tidak harus di tegakkan melainkan kita yang harus menegakkan diri dengan islam

Sebab islam bukan simbol tapi nilai….
Nilai nilai Ketuhanan…
Yang mencerdaskan bukan membodohkan
Yang mencerahkan bukan membingungkan
Agar pembaca juga tidak merasa bosan, Tuhan aku kumpulkan itu semua di dalam kalimat “Ke-Welas Asih-an”.

Tuhan, Ballighna Ramadhan..
Sampaikan aku ke bulan ramadhan kembali
Tuhan aku mohon..
Ballighna Ramadhan, Aamiin..
Sekian suratku untukMu Tuhan.

Dari hamba yang tiada kekuatan apapun selain dikuatkan oleh Dirimu.