Beranda Opini Takmir Masjid Jangan Saingi Tuhan

Takmir Masjid Jangan Saingi Tuhan

0
Ketua Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Jawa Timur Sulaisi Abdurrazaq

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq*

Api Islam akan terus menyala-nyala jika umat Islam teguh memegang akidah dan mampu membebaskan diri dari belenggu.

Belenggu itu adalah hawa nafsu atau keinginan diri sendiri yang mudah menyeret pada keangkuhan, kesombongan, kepongahan, kecongkakan, fanatisme dan eksklusifisme yang menyebabkan kejumudan Islam.

Jumud, karena tidak mau menerima kebenaran yang datang dari luar dirinya. Ia selalu merasa keyakinan dirinya saja yang benar.

Mudah menilai negatif pendapat orang lain, reaktif menyikapi masalah, cenderung monolog dan dominatif, tak mau berdialog secara fair dan tenang. Relatif emosional.

Sikap-sikap seperti itu sangat berbahaya, karena cenderung menolak kebenaran (kufr).

Karena itu, penekanan pertama ajaran tauhid dalam Islam adalah meniadakan tuhan, meyakini bahwa tuhan tidak ada (laa Ilaha).

Konsep ini disebut dengan negasi (al-nafy). Sikap istikbar atau sombong adalah tirani yang harus dilawan, harus ditiadakan.

Sombong adalah sikap berbahaya karena rawan memaksakan keinginan diri, rawan menilai pikirannya paling benar, rawan merasa diri lebih sempurna dari yang lain. Itulah belenggu yang menghalangi progresifitas Islam. Sikap menuhankan diri yang harus dinegasikan, harus dilenyapkan.

Keberanian diri untuk menegasikan sikap-sikap yang membelenggu itu adalah gerakan pembebasan diri (self liberation) dari “tuhan-tuhan” palsu yang merenggut martabat kemanusiaan, yang membuat manusia cenderung besar kepala dan merasa mutlak-sempurna.

Penekanan berikutnya dalam ajaran tauhid adalah penegasan, peneguhan atau konfirmasi (al-itsbat). Menegaskan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.

Jadi, sebelum benar-benar akidah itu murni, sebelum benar-benar tahu Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa, kita harus tahu dulu tuhan-tuhan selain Allah, yang cenderung menipu diri sendiri.

Tuhan-tuhan selain Allah ini terkadang dirasa memiliki kekuatan kuasa, tapi kuasa palsu.

Membuat diri bangga, tapi bangga yang dasarkan pada keyakinan palsu.

Itulah substansi dari ajaran tauhid. Negasi dan konfirmasi. Esensi dari kalimat “La Ilaha illallah” (Tidak ada tuhan selain Allah).

Tidak ada yang pantas untuk sombong, selain Allah.

Oleh karena itu, pada refleksi berjudul “Sumenep, Korupsi dan Islam Sontoloyo” saya mencoba menjadikan perspektif Bung Karno menyikapi perilaku ta’mir masjid Sumenep yang memaksa road race tidak dilanjut dengan mengajukan satu pertanyaan: “jangan-jangan ini yang dimaksud Bung Karno dengan Islam Sontoloyo”.

Mengapa demikian? Karena menurut saya, yang pantas sombong hanya Allah.

Kalimat takmir masjid Jami Sumenep yang menyatakan “..kesombongan kita lawan kesombongan…” dengan merujuk pada kitab fiqh adalah sikap tidak benar.

Yang pantas sombong hanya Allah. Jika ta’mir masjid Jamik menggunakan langkah istikbar (sombong) untuk melawan kesombongan, maka itu namanya sikap menyaingi Tuhan. Sama dengan sikap membangkang kepada Allah.

Sikap seperti itu adalah sikap yang membelenggu diri sendiri, sikap yang menghancurkan martabat diri sendiri. Bersaing dengan Tuhan dengan sikap sombong sama dengan meludah menghadap langit. Sekeras apapun meludah, air ludah akan jatuh ke wajah sendiri.

Bukankah sikap sombong itu yang menyebabkan ta’mir masjid Jami Sumenep merasa caranya untuk menghentikan road race dengan menyiram bensin dan mengancam akan membakar jika road race Bupati Cup Sumenep dilanjutkan adalah cara yang beliau anggap paling benar karena merasa merujuk kepada kitab fiqh.

Sementara ajaran Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125 diabaikan. Ajaran Allah jelas:

“Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mau’idzah hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Itulah yang dimaksud Bung Karno dalam Surat-Surat Islam Dari Endeh pada buku Islam Sontoloyo, bahwa:

“… kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena Hadis-Hadis lemah itu,- yang sering lebih laku dari ayat-ayat Al-Qur’an.”

Masih dalam Surat Bung Karno:

“…di Endeh ada “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab fiqh”: mati hidup dengan kitab fiqh itu, dus–kolot, dependent, unfree, taqlid. Al-Qur’an dan Api-Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqh itulah yang mereka jadikan pedoman-hidup, bukan kalam Ilahi sendiri…”

“Fiqh pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh Rokhnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup…”.

Mengapa saya mengambil surat An-Nahl ayat 125 dalam menyikapi peristiwa penghentian paksa road race di Sumenep? Karena telah nyata bahwa etika Islam adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan sikap penuh kebijaksanaan, kelembutan, kesopanan (hikmah), mau’idzah hasanah dan dengan cara yang paling baik (ahsan).

Kemarin, tanggal 3 November 2022, rekan Supyadi dalam WAG Advokat, LSM dan Wartawan meminta saya memberi penjelasan mengenai makna Islam Sontoloyo.

Bahkan, rekan saya itu meragukan pemahaman saya terhadap maksud Islam Sontoloyo dalam pandangan Bung Karno.

Ia bahkan meminta saya menyapa bapak google dan mengutip makna sontoloyo dari mesin pencarian itu, isi lengkap di wikipedia begini:

“Sontoloyo adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala itik atau bebek atau disebut juga tukang angon bebek di Pulau Jawa…”

“Konon profesi mengembala beratus bebek akan menyulitkan orang lain ketika rombongan bebek tersebut menyebrangi jalan, dan terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat “Dasar sontoloyo”. Menurut KBBI, sontoloyo adalah makian dan kata cakapan yang bermakna bodoh, konyol, atau tidak beres.”

Saya tidak menanggapi grup WA, karena biasanya akan terjadi “debat kusir”. Karena itu, saya respon pertanyaan rekan Advokat Supyadi itu lewat refleksi ini.

Islam Sontoloyo dalam pandangan Bung Karno itu adalah keber-Islaman atau keber-agamaan yang cenderung membebek, taqlid buta, tidak mengutamakan etik Al-Qur’an dan Hadits dan cenderung mengedepankan fiqh yang dicomot untuk melegitimasi tindakan dirinya sendiri agar tindakannya dinilai berdasar ajaran agama.

Jadi, jangan dimaknai agama Islamnya yang sontoloyo.

Sikap membebek, atau taqlid buta, atau jika dianalogikan kepada pengembala ratusan bebek yang terkadang menghambat jalan atau suka memakan padi tetangga, maka sikap keber-Islaman atau keber-agamaan kita jangan sampai menjadi penghambat kemajuan Islam.

Bebaskan diri kita dari bertuhan kepada selain Allah. Jangan sombong, karena sikap sombong adalah sikap menyaingi Tuhan, yang berakibat pada perilaku syirik. Disadari atau tidak. Sementara syirik adalah dosa besar.

Istilah-istilah seperti Islam Sontoloyo, Islam KTP, Islam Nusantara itu sudah lumrah, tapi hanya bisa dipahami secara tepat jika memahami konteksnya.

Islam KTP, jangan dimaknai Islam sama dengan KTP yang hanya semacam catatan sipil. Melainkan harus dimaknai sikap keber-Islaman seseorang yang tidak melaksanakan kewajiban sebagai muslim dan hanya mencantumkan Islam dalam KTP.

Begitu pula Islam Nusantara. Jangan memaknai Islam seolah-olah turun derajatnya karena ditarik ke ruang sempit seperti Indonesia, melainkan harus dimaknai bahwa Islam harus lentur, adaptif, mampu disampaikan dengan damai melalui nilai dan kearifan lokal Indonesia sebagaimana cara Wali Songo menyampaikan Islam.

Think globally, act locally (berpikir global, bertindak lokal).

Jika memaknai Islam Sontoloyo dengan melepaskan konteksnya sebagaimana maksud Bung Karno, pasti terperangkap dalam “jurang yang sesat.”

Ro’yunaa showaab wayahtamilul khoto’, wa ro’yu ghairina khoto’ wayahtamiluashowaab. (*)

*Penulis adalah Ketua DPW APSI Jatim, Direktur LKBH IAIN Madura dan Alumni Pasca Politik Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan