22 Oktober 2021

Tawaran Pendidikan pada Masa Covid-19 menuju Era Baru

Oleh : Aprizal Harahap

Corona Virus Desease atau yang akrab kita ketahui dengan nama Covid-19 merupakan virus yang sudah tidak asing lagi dalam pendengaran masyarakat umum.

Virus yang hadir pertama kali di kota wuhan cina terdengar samatlah angat seram dan mencekam serta sudah banyak memakan korban. Perkembangan yang sangat cepat dipertontonkan dalam penyebaran virus ini.

Informasinya dapat kita akses di berbagai media seperti di Televisi, media massa ataupun media sosial lainnya yang sering kita akses tiap hari. Setahun lamanya telah kita lewati aktifitas dengan adanya virus ini tentu banyak dampak yang dirasakan baik dari sektor ekonomi, sektor pendidikan, sektor ketenagakerjaan, sektor kesehatan dan sektor lainnya.

Hal ini dapat kita lihat dengan kondisi menurunnya ekonomi per bulan Agustus 2020 yang mengalami minus 5,20 Persen pada kuartal kedua, yang sebelumnya pada kuartal I yang hanya mencapai minus 2,97 persen. Kondisi atau peresentasi ekonomi ini dapat kita akses pada data laporan dari Badan Pusat Statistik per- 2020.

Dengan melemahnya ekonomi sudah tentu sangat berdampak pada sektor ketenagakerjaan, dampat penyebaran virus corona ini menyebabkan lembaga pendidikan harus bekerja ekstra keras dalam penyesuaian konsep belajar yang pada awalnya tatap muka secara langsung kini harus bertatap muka melalui media aplikasi, hal ini diberlakukan oleh pemerintah sebagai upaya mengantisipasi penyebaran dari virus ini. Sehingga menyebabkan banyaknya peserta didik dan tenaga pengajar yang kewalahan dalam penyesuaian pembelajaran kini.

Tidak hanya disitu saja, efek dari kebijakan pemerintah terkait dengan PPKM menuju era new normal sangat berdampak pada nasib para UMKM dan bahkan disektor pariwisata juga kena imbasnya, lebih memprihatinkan lagi di sektor pendidikan.

Tentu seorang individu yang ada ditengan kelompok organisasi dan masyarakat harus ekstra keras dalam menyiapkan diri dalam persoalan peningkatan kualitas diri dengan pendidikan yang sedang ditempuh, sehingga nantinya bisa mempunyai kualitas diri yang lebih baik dan ini menjadi PR besar bagi kita dalam menyiapkan individu yang mempuni dalam hal tata kelola diri, organisasi, dan negara kedepan.

Individu sebagai pembelajar mempunyai peran inti dalam menciptakan budaya organisasi. Komitmen individu dalam mengimplementasikan budaya belajar sudah pasti menjadi cerminan dalam suatu sistem tatanan organisasi dalam menyiapkan tatanan dan keefektifan dalam belajar.

Maka disinilah peran organisasi sangat penting dalam upaya memperkuat sektor pendidikan/pembelajaran dengan melakukan berbagai kebijakan sehingga individu, tim, dan organisasi bisa sinergis dalam keberlangsungan efektifitas pembelajaran.

Idividu sebagai pembelajar juga mempunyai pengaruh kuat baik dalam Tim maupun Organisasi sebagai pembelajar. Dapat kita lihat dari peranan individu sebagai pembelajar dalam KMK 283, juga selaras dengan kompetensi yang distandardisasi oleh dalam PERMENPANRB Nomor 38 tahun 2017. Kompetensi dimaksud yaitu Mengelola Perubahan yang didefinisikan sebagai “Kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan situasi yang baru atau berubah dan tidak bergantung secara berlebihan pada metode dan proses lama, mengambil tindakan untuk mendukung dan melaksanakan insiatif perubahan, memimpin usaha perubahan, mengambil tanggung jawab pribadi untuk memastikan perubahan berhasil diimplementasikan secara efektif”.

Kompetensi tersebut menuntut individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang baru atau berubah. Seperti kondisi pandemi saat ini, mau tidak mau seorang PNS harus belajar menyesuaikan diri dengan kondisi kantor, cara kerja yang banyak menggunakan media daring, lingkungan sekitar dengan distancing, bahkan penyesuaian terhadap dirinya sendiri seperti ibadah dalam kondisi darurat. Contoh peranan yang diambil (sebagaimana dalam KMK 283) adalah menyediakan waktu untuk belajar dari berbagai sumber untuk mendukung kinerja organisasi.

Contoh lainnya adalah mampu menjadi inspirasi, mendorong, dan mendukung orang lain untuk berkembang dan mempelajari hal-hal baru. Kompetensi dan contoh peranan yang dimainkan indvidu sebagai PNS pembelajar dimaksud tidak bisa tercapai bila Individu bersikap pasif, masa bodoh, permisif dengan keadaan, tetapi individu harus “lincah” menghadapi perubahan yang terjadi.

Dalam sistem tatanan pendidikan yang sejalan dengan dipaksa nya hari ini kita pada fase perkembangan digital harusnya ada ketegasan yang jelas juga dari pemerintahan untuk mengambil sebuah kebijakan memunculkan kurikulim baru untuk di jadikan sebagai standarisasi pendidikan daring. Karena hari ini kita diisukan dengan new normal, namun normal yang dimaksudkan tak kunjung kita hadapi. Inilah sebabnya kenapa revisi pada kurikulum pembelajaran itu penting. Sehingga para pelajar yang dihasilkan nanti mempunyai kompetensi diri yang baik, etika yang baik dan mampu mencapai target pembelajaran secara efektif.

Sejalan juga dengan era digitalisasi yang sangat pesat perkembangan nya saat ini kita dipaksa untuk aktif dan mampu menguasai segalanya. Banyak Platform aplikasi yang bisa kita jadikan dan pelajari untuk meng upgrade kemampuan dan pemahaman kita tentang tekhnologi dan digitalisasi. Sebagai tenaga pendidik juga harus mampu menawarkan tata cara belajar yang unik dan menarik untuk tidak membuat peserta didik nantinya bosan dan jenuh.

Namun untuk menyiapkan kuliatas seorang tenaga pendidik harusnya melalui pemerintahan memberikan pelatihan kepada para pengajar tentang bagaimana mendesaign tata cara pengajaran virtual yang efektif dan disukai pelajar.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.