11 April 2021

Tuhan Dan Rasionalitas

Tuhan Dan Rasionalitas
Penulis: Cholid Baidaie (Eks Sekbid PTKP HMI Komisariat STAIN PAMEKASAN yang saat ini berubah nama IAIN MADURA
Dalam pembahasan tentang Tuhan kita akan dihadapkan pada dua pertanyaan besar yang satu diantaranya sampai saat ini masih tidak bisa dijawab, sebab semua jawaban terhadap pertanyaan itu selalu saja dapat dibantah. Pertanyaan-pertanyaan itu ialah, bisakah Tuhan dibuktikan secara rasional? Dan dapatkah dibuktikan bahwa beriman atau bertuhan itu adalah sesuatu yang rasional?. 
Tulisan ini didasari atas dua pertanyaan besar diatas dapatkah manusia dengan rasio yang terbatas membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan seacara rasional?. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa jawaban atas pertanyaan ini masih mendapat bantahan sebab ternyata rasio manusia tidak dapat mencapai entitas Tuhan, namun meski rasio tidak mampu untuk mencapai entitas Tuhan bukan lantas membawa kesimpulan tidak adanya Tuhan, sebab apa yang tidak dapat dibuktikan oleh rasio tidak dapat pula dijadikan bukti ketidak adaan Tuhan. 
Dalam agama-agama monotheis bahasa yang diungkapkan untuk menunjukan relasi antara Tuhan dan manusia tidak menggunakan kata bukti sebagai kata yang menghubunkan manusia dengan Tuhan tapi menggunakan kata percaya, hal ini menjadi menarik karena pada dasarnya manusia menginginkan adanya bukti dari keberadaan Tuhan dan tidak cukup dengan satu kata percaya karenanya kemudian muncul pertanyaaan dapatkah Tuhan dibuktikan secara rasional?.
Usaha manusia untuk membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan dengan rasio memang telah banyak dilakukan namun seperti yang saya kemukakan sebelumnya dan mungkin perlu digaris bawahi bahwa rasio manuisa tidak mungkin mencapai entitas Tuhan oleh karena itu usaha-usaha rasio itupun pada ahirnya sama-sama tidak dapat mebuktikan ada atau tidak adanya Tuhan. Usaha merasionalkan adanya Tuhan salah satunya dengan menggunakan pembuktian silogisme.
Pembuktian silogisme merupakan pembuktian keberadaan Tuhan dengan menggunakan logika deduktif. Dalam pembuktian silogisme setidaknya harus ada dua unsur premis, yaitu premis mayor dan premis minor, dari kedua premis tersebut kemudian membawa pada satu proposisi  kesimpulan. Logika silogisme yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
Semua yang ada pastilah ada penciptanya (premis mayor)
Alam ini ada (premis minor)
Alam ada penciptanya (kesimpulan)
Dari bangunan argumentasi silogisme dia atas, rasio sederhana dapat menerima itu sebagai pembuktian rasional akan keberadaan Tuhan dengan asumsi bahwa segala sesuatu pasti ada yang menciptakan dan pencipta itulah yang kita sebut sebagai Tuhan. Namun jika kita amati lagi bangunan argumentasi silogisme di atas maka setidaknya kita akan mendapati dua kelemehan dalam argumen tersebut. Yang pertama premis mayor dari argumen tersebut “semua yang ada pasti ada penciptanya”, premis ini menimbulkan pertanyaan, berasal dari manakah premis tersebut dan Berdasarkan apa proposisi itu dapat dipetanggung jawabkan?. Sederhananya premis mayor bahwa semua yang ada pasti ada penciptanya tidak dapat dibuktikan kebenaranya. Premis mayor ini juga membawa masalah, sebab untuk membenarkan premis ini perlu adanya kepercayaan akan “keharusan” adanya yang menciptakan sebelum kepercayaan kepada Tuhan, sederhananya kepercayaan pada Tuhan harus didasarkan pada kepercayaan yang lain yaitu kepercayaan akan “keharusan” sehingga kepercayaan itu pada dasarnya menjadi dua kepercayaan yaitu kepercayaan pada “keharusan” dan kepercayaan pada Tuhan. Kemudin kepercayaan akan “keharusan” itu sendiri juga perlu dipertanyakan sumbernya, dari mana atau dari siapa?, jika “keharusan” itu muncul dari diri sendiri atau dari “keharusan” logis maka terlebih dahulu harus ada kepercayaan terhadap diri atau logika yang dibangun sendiri sebelum kepercayaan kepada Tuhan, sehingga dengan demikian kepercayaan akan adanya Tuhan diciptakan oleh diri atau logika sendiri.
Kedua jika kita amati lebih jauh proposisi dalam silogisme di atas maka ada kerancuan dalam proposisi-proposisi tersebut  kalau kita simpulkan bahwa yang menciptakan adalah Tuhan, sebab tidak ada term Tuhan dalam semua proposisi di atas sehingga jika kita simpulkan yang mencipta adalah Tuhan maka proposisi-proposisi di atas menjadi tidak logis. Sedangkan jika term Tuhan dimasukkan dalam premis mayor “semua yang ada adalah ada penciptanya, yaitu tuhan”, maka pembuktian argumen silogisme tentang adanya Tuhan menjadi tidak berguna sebab proposisi itu sendiri telah selesai menunjukan adanya Tuhan.
Selain pembuktian menggunakan argumentasi silogisme di atas yang ternyata tidak bisa merasionalkan adanya Tuhan, jauh sebelumnya Aristoteles juga mencoba untuk membuktikan adanya Tuhan menggunakan argumen pembuktian kausalitas dengan konsep causa prima “penyebab utama”. Dalam pembuktian kausalitas, Aristoteles memberikan alur pembuktian bahwa segala sesuatu pasti memiliki penyebab pertama, semisal tentang kelahiran diri sendiri, saya dilahirkan oleh ibu saya. Ibu saya dilahirkan oleh ibunya (nenek saya). Nenek saya dilahirkan oleh ibunya (buyut saya). Buyut saya dilahirkan oleh ibunya dan begitu seterusnya sampai pada ibu yang pertama atau penyebab pertama. 
Aristoteles mengemukakan tentang adanya penyebab pertama dengan alasan bahwa logika atau akal manusia sulit untuk bisa memahami jika sesuatu ada tanpa sebab yang tidak ada batas (ad infinitum), jika tidak ada batas maka logikanya akan terus menerus dan  hal itu tidaklah logis. Jika kita berhenti disini dan mengikut pendapat Aristoteles bahwa ada sebab pertama (causa prima) dan sebab pertama itu kita katakan sebagai Tuhan mungkin kita akan merasa bahwa Tuhan bisa dibuktikan secara rasional dengan argumen kausalitas.
Ada sebab pertama (causa prima) yang sepertinya mampu membuktikan adanya Tuhan dengan rasional, jika diamati lebih juh nyatanya meninggalkan pertanyaan yang nantinya juga mematahkan anggapan bahwa Tuhan dapat dibuktikan dengan rasional menggunakan argumen kausalitas. Pertanyaan itu ialah jika ada sebab pertama, bagaimana dan dari manakah sebab pertama itu muncul dan apakah sebab pertama itu tidak disebabkan oleh sebab yang lain?. Kemudian siapa dan apa sebab pertama itu?. Karena siapa atau apa sebab pertama itu tidak bisa didefinisikan oleh kausalitas, proses kausalitas yang dijelaskan oleh Arestoteles hanya mampu mengidentifikasi sampai pada adanya sebab pertama.
Selain pertanyaan-pertanyan yang tidak bisa dijawab diatas, seperti pada masalah yang dihadipi silogisme dalam kausalitas kita juga menghadapi masalah tentang harus adanya kepercayaan sebelumnya terhadap logika pikiran sendiri bahwa harus ada “sebab pertama” yang tidak disebabkan oleh yang lain lagi dan bahwa sebab pertama hanya disebabkan oleh dirinya sendiri. Sederhanyanya kita harus percaya pada logika diri sendiri dan percaya pada keharusan yang dibangun oleh pikiran sendiri sebelum atau bersamaan dengan kepercayaan adanya sebab pertama barulah kemudian menyusul kepercayaan kepada Tuhan.
Dalam buku “Critique of Pure Reason”, Immanuel kant mengatakan bahwa akal manusia tidak mungkin dapat membuktikan keberadaan Tuhan sebab pengetahuan manusia tentang Tuhan bersifat metafisik dan tidak dapat dibuktikan dengan akal, Kant beralasan bahwa pengetahuan akal manusia diperoleh melalui sintesa antara pengalamam empiris aposteriori dan pengetahuan akal apriori yang dalam sintesa tersebut tidak ada pengetahuan tentang Tuhan. Merujuk pada pendapat kant tersebut agaknya tidak aneh jika dalam agama-agama monotheis bahasa yang diungkapkan untuk menunjukan relasi antara Tuhan dan manusia menggunakan kata percaya, sebab entitas Tuhan sendiri memang tidak dapat dibuktikan oleh manusia.
Meskipun manusia tidak mampu untuk membuktikan keberadaan Tuhan menggunakan rasio bukan lantas membuktikan tidak adanya Tuhan  juga tidak lantas membuktikan bahwa percaya kepada Tuhan merupakan hal yang tidak rasional. Sederhananya Tuhan sebagai entitas yang tidak bisa kita jangkau memang tidak dapat kita buktikan secara langsung dengan rasio tapi kebertuhanan kita adalah sesuatu yang rasional, untuk membuktikannya mari kita coba mengurainya dengan apa yang dikatakan dalam agama-agama maonotheis sebagai “percaya”.
Percaya berasal dari bahasa Arab dari kata iman, sedangkan dalam konteks bahasa Ingris digunakan belief atau faith. Dalam konteks percaya, objek yang dipercayai saat itu adalah sesuatu yang saat itu tidak dapat dibuktikan secara langsung atau setidaknya belum terbukti saat itu. Dalam konsep percaya inhern didalamnya sebenarnya tidak diperlukan bukti. Jika kita masih mempertanyakan bukti maka kita masih belum atau tidak percaya.
Berdasarkan uraian tentang upaya merasionalkan tidak atau adanya Tuhan diatas, faktanya Tuhan memang tidak bisa dibuktikan secara langsung oleh rasio manusia, kata secara langsung dalam hal ini perlu digaris bawahi karena hal itu menunjukan bahwa bukan berarti Tuhan tidak bisa dibuktikan sama sekali akan tetapi hal itu juga menunjukan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat secara langsung ditolak atau dikukuhkan.
Meskipun keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara langsung oleh rasio manusia, keberadaan Tuhan tetap dapat dibuktikan secara tidak langsung karena keberadaan Tuhan dapat diterima oleh akal, karena Tuhan dapat diterima oleh akal maka Tuhan menjadi dapat diterima atau ditolak keberadaannya. Kemudian pertanyaanya apa yang membuat Tuhan dapat diterima oleh akal sehingga bertuhan adalah sesuatu yang rasional?.
Penolakan terhadap adanya Tuhan dapat membuktikan bahwa Tuhan dapat diterima oleh akal, sebab tidak mungkin seseorang dapat menolak sesuatu jika sesuatu tersebut tidak masuk atau ditolak oleh akalnya. Jika sesuatu tersebut tidak masuk atau tidak diterima oleh akal maka yang terjadi adalah kebingungan dan dampak jujur dari kebingungan tersebut bukanlah penolakan melainkan pengakuan akan ketidak mengertian terhadap apa yang ia bingungkan.
Dari semua uraian diatas jelaslah bahwa konsep percaya yang digunakan oleh agama-agama monotheis merupakan konsep yang tepat dan akurat. Dengan kosep tersebut Tuhan tahu bahwa keberadaan dirin-nya tidak dapat dibuktikan oleh keterbatasaan rasio manusia secara langsung sehingga rasio dapat mengingkarinya atau mempercayainya atau bahkan menunda untuk mempercayainya samapai terbukti benar keberadaanya. Jika akal yang menerima Tuhan memilih untuk percaya barulah kemudian dapat ditentukan agama yang mana yang akan dianut. Dengan begitu agama bukan sesuatu yang dogmatis melainkan sesuatu yang logis secara rasional.