Beranda Sastra & Puisi Viryan Aziz, Sahabatku

Viryan Aziz, Sahabatku

0

Oleh: Bim

Sejumlah orang akan hadir dalam hidupmu agar kau bisa menghargai kenangan. Namun sebaliknya, beberapa orang justru menetap dalam kenangan agar kau menghargai hidupmu.

Tersadarkah kita bahwa ujian terbesar kasih sayang itu bukan kehilangan, tapi kerinduan akan kenangan yang takkan pernah terulang.

Sudah lama saya tak menulis di sosial media, karena memang ingin menjauhi hingar bingar dunia maya, memilih menetap dijung dunia — istilah yang selalu dipakai sahabat saya agus ujung dunia —- yang terkadang sinyal hp pun tak mau menampakkan wujudnya.

Tapi hari ini, pagi tadi tepatnya, saya mendapat kabar, salah satu sahabat saya yang lama tak dijumpai secara fisik meninggal dunia, Viryan Azis namanya.

Hati saya bergetar, berniat walau cuma beberapa baris kalimat, wajib menuliskan kenangan tentangnya. Lebih untuk diri sendiri ketimbang orang lain.

Saya ingin mengenang Viryan sebagai seorang manusia polos, tanpa sederet embel embel soal pangkat, jabatan atau kekuasaan. Banyak kenangan saya yang berharga bersamanya, paling tidak saya akan menceritakan satu diantaranya.

Malam itu, kami janjian bertemu di sebuah rumah aneka gorengan yang sudah tua —-kalau tidak salah ingat kawan kawan menyebutnya jablo—– dijalan depan Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pontianak. Berdua saja, karena memang ada halhal yang ingin kami bicarakan secara khusus.

Setelah ngalor ngidul sembari makan gorengan dan menyeruput kopi dengan santai tapi serius, saya bertanya padanya, “bat, kalau direk meniti jalan kebenaran yang diyakini, apakah tak takot kalau kesorangan nantiknye? ”

Lama dia terdiam sembari menatap diantara gelas kopi dan wajah saya sebelum menjawab.

“Perjuangan itu awalnya dimulai dari langkah diam diam dan hampir selalu meniti jalan sunyi, jika yang diperjuangkan memang benar kebenaran, didalamnya akan ada kebaikan dan akan menarik orang orang baik berjalan bersama. Perjuangan kebenaran akan selalu menemukan jalan mengungkapkan dirinya pada orang ramai,” jawabnya tenang.

dan kini saya bisa happy bersaksi bat, dalam lintasan sejarah hidupmu, saya bukan sekali dua melihat dirimu dijauhi, bahkan oleh teman teman dekatmu dalam meniti jalan itu, tapi pada akhirnya betul katamu, selalu ada orang orang baik yang datang menemani dan kebenaran nyatanya selalu terungkap.

Integritas mu bat, pada jalan kebenaran yang kau yakini, saya akui. Maafkan saya kalau dulu mungkin pernah tak sengaja ingin membelokkan langkahmu dari jalan itu atas nama pertemanan.

Dan dirimupun dari semenjak kita kenal akan selalu termaafkan, walau rasanya dirimu tak pernah berbuat kesalahan padaku.

kembali berpulang, Sahabatku, Viryan. Orangorang baik dan terbaik kadang memang lebih cepat sampai ke sisi-Nya.

Kita pernah di jalanan yang bermula sunyi itu- menjadi sepasang langkah yang beriringan membelah malam

Saya, rindu ngopi bersamamu lagi.

Sambas, 20 Syawal 1443 H

Tinggalkan Balasan