3 Agustus 2021

Zodiak sebagai perusak akidah

Ilustrasi zodiak (foto: tribunnews.com)
Allah swt menciptakan sesuatu yang ada di alam semesta ini, sebagai petunjuk pada manusia selaku kholifah fil ardh. Kadang mayoritas dari manusia menyalah artikan apa yang di ciptakan oleh allah swt. Salah satunya tentang zodiak yang mana apabila keyakinan nya seseorang belum matang maka orang tersebut akan terpengaruh terhadap zodiak yang buatan dari orang non islam. Seakan akan zodiak itu memberikan apa yang kita harapkan. Ingat bahwasannya allah tidak suka di duakan oleh makhluk nya yang di kenal dengan sebutan syirik. Kita pun selaku makhluk tidak mau di duakan apalagi tuhan kita. 
Namun sebelumnya kita mengatahui zodiak maka kita harus mengatahui terhadap ilmu Astrologi karena 2 komponen ini berhubungan, ilmu astrologi adalah ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan, dan matahari) dengan nasib manusia. Kalau kita lihat definisi dari KBBI adalah ilmu perbintangan yang di pakai untuk  dan mengatahui nasib seseorang. Karena semua planet, matahari, dan bulan beredar di sepanjang lingkaran ekliptika, otomatis mereka semua juga beredar di antara zodiak. Ramalan astrologi didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak.
Sedangkan definisi zodiak itu sendiri kalau kita lihat di KBBI adalah  Lingakaran khayal di cakrawala yang terbagi menjadi 12 perbintangan yaitu aries, taurus, gemini, leo,  kanser, virgo, libra, scorpiu,sagitarius, kaprikurnus, akuarius, dan pises, yang mana Seseorang akan menyandang tanda zodiaknya berdasarkan kedudukan matahari di dalam zodiak pada tanggal kelahirannya. Misalnya, orang yang lahir awal Desember akan berzodiak Sagitarius, karena pada tanggal tersebut Matahari berada di wilayah rasi bintang Sagitarius. Kedudukan Matahari sendiri dibedakan antara waktu tropikal dan waktu sideral yang menyebabkan terdapat 2 macam zodiak, yaitu zodiak tropikal dan zodiak sideral. Sebagian besar astrolog Barat dan astrolog Indonesia menggunakan zodiak tropikal, dan sejak kini seluruh Dunia Menggunakan zodiak tropical.
Secara kenyataan banyak dari pihak informasi seperti kumparan, tribunnews, tempo, detik.com,  bahkan di facebook itu lebih banyak menyiarkan tentang zodiak ini. Sehingga banyak dari umat islam yang terpengaruh tentang ramalan yang ada di zodiak itu. Maka dari itu kita perlu yang namanya kemantapan akidah agar supaya kita tidak terpengaruh terhadap hal hal yang tidak ada di al quran dan hadist. Bahkan rasulullah mengajarkan kepada bahwa takdir itu akan di kalahkan oleh doa. Namun bukan hanya doa yang di ajarkan oleh rasulullah tapi dengan berusaha. Ada tiga komponen yang akan menjadi jalan kesuksesan bagi kita yang pertama adalah doa yang kedua adalah usaha atau kinerja kita yang ketiga adalah tawakal atau pasrag terhadap allah. Ketiga komponen ini hal yang tidak terpisahkan mulai dari doa, usaha dan tawakal bahkan ada pepatah mengatakan bahwa doa tanpa usaha adalah omong kosong,  usaha tanpa doa adalah sombong. 
Jika kita percaya terhadap zodiak ini. Yang isinya hanya ramalan maka keimanan kita sudah mulai goyah maka dari itu kita sangat perlu untuk kemantapan keimanan biar tidak terhasut terhadap ramalan ramalan yang mendahului ketetapan allah swt sedangkan hukum mempercayai zodiak ini adalah Lalu bagaimana kita sebagai umat Islam memandang masalah ramalan ini? Pertama sekali yang perlu kita katakan adalah bahwa nasib itu adalah masalah ghaib. Sedangkan yang ghaib itu berada di tangan Allah. Artinya, kita harus berbaik sangka kepada Allah (husnuzzhan) bahwa bulan apapun kita dilahirkan adalah bulan baik. Dengan kata lain kita harus optimis dengan nasib dan masa depan kita. Lalu bagaimana kita memaknai ramalan zodiak atau ramalan lainnya?. Dalam kajian Islam, kita mengenal hukum aqli (wajib [sesuatu yang pasti ada], mustahil [sesuatu yang pasti tidak ada], jaiz [sesuatu yang bisa jadi ada dan bisa jadi tidak ada]), hukum syari (wajib, sunah, haram, makruh, mubah, sah, batal), dan hukum adi (hukum kebiasaan). Ramalan zodiak dan apapun bentuk sebab-akibat merupakan hukum adil. 
Hukum adil secara utuh disebutkan oleh Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Yahya ketika mengulas akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam Kitab Sifat Dua Puluh berikut ini: “Artinya hukum adi yaitu menetapkan suatu barang bagi suatu barang atau menafikan suatu barang pada suatu barang dengan lantaran berulang-ulang serta sah bersalahan dan juga dengan tiada memberi bekas salah suatu itu pada yang lain, Sifat Dua Puluh. Dalam konteks hukum adi ini, bisa jadi ramalan zodiak itu lahir dari kebiasaan yang berulang-ulang dan terbukti sehingga kaitan antara nasib atau karakter tertentu dan bulan tertentu tampak sangat erat. Dalam hal ini kita boleh saja mempercayai ramalan tersebut sebagai sesuatu yang berulang-ulang dan sah bersalahan, sama halnya kita mempercayai bahwa parasetamol adalah obat yang bersifat menghilangkan rasa nyeri dan menurunkan panas (KBBI). 
Hanya saja, kita perlu ingat bahwa hubungan keduanya sah bersalahan. Artinya, ramalan itu bisa saja tidak terbukti sama sekali atau parasetamol itu tidak bekerja sama sekali dalam menghilangkan rasa nyeri dan menurunkan panas. Dengan kata lain, kita tidak mempercayai bahwa hubungan bulan kelahiran dan nasib atau karakter kita itu bersifat mutlak. Kita tidak mempercayai bahwa hubungan parasetamol dan kesembuhan itu bersifat mutlak. 
Singkat kata, ramalan itu atau efek obat itu omong kosong belaka. Guru kami almarhum KHM Syafi’i Hadzami mengambil contoh uang dalam masalah ini. “Umpamanya saja uang. Uang itu mempunyai khasiat, menggirangkan, dan melegakan hati. Orang yang banyak uangnya, kelihatan segar, gampang ridhanya. Dan orang yang tidak punya uang, kelihatannya lesu, gampang marahnya, sering uring-uringan. Itu namanya khasiat uang. 
Tentu saja tidak dimaksudkan bahwa uang itu mempunyai ta’tsir (pengaruh-red) demikian. Yang dimaksudkan adalah menurut adat atau kebiasaan saja, atau pada umumnya yang juga tentunya dapat bersalahan dari ketentuan tersebut, Lalu bagaimana kita menempatkan relasi sebab-akibat atau letak zodiak saat seseorang lahir dan nasibnya? 
Syekh Ibahim Al-Baijuri menyebut sedikitnya empat sikap manusia memandang relasi tersebut. اعلم أن الفرق في هذا المقام أربعة الأولى تعتقد أنه لا تأثير لهذه الأشياء وانما التأثير لله مع إمكان التخلف بينها وبين آثارها وهذه هي الفرقة الناجية، الثانية تعتقد لا تأثير لذلك أيضا  لكن مع التلازم بحيث لا يمكن التخلف وهذه الفرقة جاهلة بحقيقة الحكم العادي وربما جرها ذلك إلى الكفر بأن تنكر ما خالف العادة كالبعث، الثالثة تعتقد أن هذه الأشياء مؤثرة بطعها وهذه الفرقة مجمع على كفرها، الرابعة تعتقد أنها مؤثرة بقوة أودعها الله فيها وهذه الفرقة في كفرها قولان والأصح انها ليست كافرة 
Artinya “Perlu diketahui bahwa manusia dalam kedudukan ini terbagi menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok yang meyakini bahwa tidak ada pengaruh apapun pada benda-benda itu. Yang memberi pengaruh hanya Allah disertai kemungkinan bersalahan antara sebab dan akibatnya. Inilah kelompok yang selamat. Kedua, kelompok yang meyakini bahwa tidak ada pengaruh apapun pada benda-benda itu, tetapi meyakini kelaziman antara sebab dan akibat sekira tak ada kemungkinan bersalahan. Ini adalah kelompok yang tidak mengerti hakikat hukum adi, dan terkadang dapat membawa kelompok ini pada kekufuran di mana mereka mengingkari sesuatu yang bertentangan dengan adat, misalnya kebangkitan. Ketiga, kelompok yang meyakini bahwa segala benda itu dapat memberi pengaruh karena tabiatnya. Kekufuran kelompok ini disepakati ulama. Keempat, kelompok yang meyakini bahwa benda-benda itu memberi pengaruh karena kekuatan yang Allah titipkan di dalamnya. 
Perihal kekufuran kelompok ini, pendapat ulama terbelah menjadi dua. Pendapat lebih sahih menyatakan bahwa kelompok ini tidak kufur, Dari perbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa hubungan sebab dan akibat atau posisi zodiak (horoskop) ketika seseorang lahir dan nasibnya dapat kita percayai dalam konteks hukum adi, yaitu sesuatu yang sah saja secara akal sehat bersalahan. 
Dalam relasi sebab dan akibat, berapa banyak orang bekerja keras keluar pagi dan pulang sore tetapi tetap bernasib kurang beruntung terlepas variabel lain. Dalam relasi posisi zodiak ketika seseorang lahir dan nasibnya, berapa banyak orang yang memiliki karakter berjauhan dengan ramalan zodiaknya. Dalam khasiat uang, berapa banyak orang yang bahagia meski hanya memiliki sedikit uang. Dan berapa banyak orang yang tertekan dan sulit bahagia meski memiliki banyak uang.
Pasalnya penentu dan sebab mutlak adalah Allah SWT. Kita kembali lagi harus berbaik sangka kepada Allah bahwa hari dan bulan apapun kita dilahirkan adalah hari dan bulan baik. Posisi zodiak dan nasib kita sama sekali tidak memiliki pertalian mutlak karena yang menentukan dan berpengaruh adalah Allah SWT.
Intinya semua bulan semua hari itu adalah baik Sehingga takdir itu tidak bisa di ramal oleh manusia. Maka dari itu kesuksesan itu terserah pada diri manusia itu sendiri, saya pernah mendengarkan petuah dari bj habibie bahwa kesuksesan itu bukan lah milik orang yang kaya orang yang cerdas, akan tetapi kesuksesan adalah milik nya dari orang yang bekerja keras.
Penulis adalah, Muhammad Sabri, Wasekum kabid PPPA HMI Cabang Pamekasan Komisariat Al-Khairat