Oleh: Amiruddin (Ketua Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian HMI Cabang Kota Bogor)

Dalam suatu ruang kolektif yang bernama sekretariat, terdapat sebuah ironi sosial yang menarik untuk direnungkan. Di dalam ruang itu hidup sekelompok pemuda dan seorang orator ulung, figur yang dikenal lantang menyuarakan gagasan, kritik, serta berbagai seruan perubahan. Namun ketika malam tiba dan sekretariat mulai sunyi, suara dengkurannya yang keras justru menghadirkan paradoks yang tidak terduga. Secara logika, suara tersebut seharusnya mampu menjadi ancaman bagi kawanan tikus yang setiap malam memasuki sekretariat melalui lubang di belakang dapur. Akan tetapi, realitas berkata sebaliknya. Tikus-tikus itu bukan hanya tidak takut, melainkan tampak terbiasa, bahkan menikmati suara tersebut seolah-olah dengkuran itu merupakan alunan musik yang menenangkan bagi keberlangsungan hidup mereka.

Mereka tetap datang secara teratur, mengambil makanan, menggerogoti sudut-sudut ruangan, bahkan perlahan membangun wilayah kekuasaan di dalam tempat yang bukan milik mereka. Kondisi ini kemudian menimbulkan keresahan di kalangan penghuni sekretariat. Bukan semata karena keberadaan tikus-tikus tersebut, melainkan karena muncul kesadaran bahwa suara yang keras ternyata tidak selalu memiliki daya ubah terhadap keadaan. Sebab pada hakikatnya, ancaman terbesar bukanlah ketika keburukan hadir secara terang-terangan, melainkan ketika keburukan itu mulai merasa nyaman hidup di tengah kelalaian manusia.

Fenomena sederhana tersebut sesungguhnya dapat dibaca sebagai alegori sosial dan politik yang sangat relevan dengan kondisi bangsa hari ini. Negara, sebagaimana sekretariat itu, sedang menghadapi berbagai tekanan yang tidak ringan. Gejolak nilai dolar, ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya keresahan masyarakat, hingga stabilitas politik yang terus diuji menjadi kenyataan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam situasi demikian, rakyat membutuhkan lebih dari sekadar pidato dan retorika. Sebab sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa kata-kata yang lantang tidak akan memiliki makna apabila tidak diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Dalam konteks ini, Prabowo Subianto sebagai kepala negara memikul tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada narasi optimisme belaka. Kepemimpinan sejati harus hadir melalui kebijakan konkret yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat sektor usaha, melindungi masyarakat kecil, serta memastikan bahwa negara tidak kehilangan arah di tengah derasnya tekanan global. Sebab rakyat pada dasarnya tidak hanya ingin mendengar bahwa keadaan akan membaik; rakyat ingin melihat keberanian negara dalam bekerja memperbaiki keadaan.

Namun di sisi lain, tulisan ini juga hendak menegaskan bahwa menjaga bangsa bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat tidak boleh menjadikan kritik sebagai satu-satunya bentuk kontribusi terhadap negara. Kritik memang penting dalam sistem demokrasi, tetapi kritik tanpa kesadaran kolektif hanya akan melahirkan kebisingan yang melelahkan. Negara tidak dapat berdiri kokoh apabila rakyatnya hanya gemar menunjuk kesalahan tanpa ikut menjaga fondasi bersama. Sebab sebagaimana sekretariat tadi, lubang kecil yang dibiarkan terbuka akan selalu menjadi jalan masuk bagi ancaman yang perlahan menggerogoti isi rumah.

Dalam Islam sendiri, perubahan sosial tidak pernah dipahami sekadar sebagai aktivitas berbicara. Islam mengajarkan bahwa perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (Hadis Riwayat Muslim)

Hadis tersebut mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Bahwa perubahan tidak cukup hanya berhenti pada perkataan. Perkataan memang penting sebagai bentuk nasihat dan peringatan moral, tetapi ketika keadaan menuntut tindakan, maka tindakanlah yang menjadi bukti kesungguhan. Sebab lisan dapat menggugah kesadaran, tetapi tindakan mampu mengubah keadaan.

Nilai serupa juga ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang turun begitu saja dari langit tanpa usaha manusia. Perubahan membutuhkan kesadaran, keberanian, kerja sama, dan tindakan kolektif. Bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya dipenuhi pidato tentang perubahan, tetapi harus dipenuhi manusia-manusia yang bersedia bekerja untuk perubahan itu sendiri.

Maka dari itu, persoalan bangsa hari ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan saling menyalahkan antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah membutuhkan keberanian bertindak, sedangkan rakyat membutuhkan kesadaran untuk ikut menjaga stabilitas sosial, ekonomi, dan moral bangsa. Sebab pada akhirnya, negara adalah rumah bersama. Dan rumah tidak akan tetap berdiri hanya karena penghuninya pandai berbicara tentang kebocoran atap dan lubang tikus dibelakang dapur melainkan karena ada kesediaan bersama untuk memperbaikinya.

Sekretariat yang dipenuhi tikus-tikus itu pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: bahwa ancaman tidak pernah takut pada suara semata. Ancaman hanya takut pada persatuan, kesadaran, dan tindakan nyata. Sebab sebesar apa pun suara diteriakkan, ia akan tetap menjadi gema kosong apabila tidak diiringi keberanian untuk menutup lubang yang selama ini dibiarkan terbuka.