YAKUSA.ID – Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Situbondo tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat barisan internal partai. Di tengah pertemuan kader dan masyarakat, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah menyampaikan pesan yang berangkat dari pengalaman hidup dan kepedulian terhadap mereka yang tidak mampu.

Pesan itu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, tetapi menyentuh sisi kemanusiaan.

“Jadi orang miskin, terkadang serba salah lewat di depan orang kaya, disangka mau pinjam uang, bergerak sedikit disangka minta,” kata Said.

Ia menggambarkan bagaimana seseorang yang hidup dalam keterbatasan bisa merasa serba salah ketika berada di tengah orang yang secara ekonomi lebih berada. Bahkan, sekadar datang atau bergerak pun terkadang dapat dipersepsikan sebagai upaya meminta sesuatu.

Dari situ, Said mengingatkan kader PDI Perjuangan agar tidak menjadikan posisi dan keadaan ekonomi sebagai alasan untuk menjaga jarak dengan masyarakat yang membutuhkan.

“Makanya orang (kader) PDI Perjuangan, jangan sampai melukai hatinya orang tidak punya,” ujarnya.

Pesan itu kemudian ia tegaskan kembali.

“Jangan sampai melukai hatinya orang miskin, jangan sampai melukai hatinya orang tidak punya,” lanjut Said.

Bagi Said, kondisi kehidupan seseorang bisa berubah. Ia sendiri mengaku pernah merasakan bagaimana hidup dalam keadaan serba terbatas.

“Kita semua pernah miskin, saya itu orang yang sangat miskin,” katanya.

Karena itu, ketika seseorang kemudian mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik, ada tanggung jawab sosial yang tidak semestinya ikut hilang.

“Bahwa hari ini ada pilihan, dikasih rezeki oleh Allah Subhanahu wa taala,” tutur Said.

Ia pun menegaskan dirinya tidak ingin melupakan orang-orang yang masih membutuhkan.

“Maka jangan coba-coba, dan sekali-kali saya akan melupakan orang-orang yang sungguh sangat membutuhkan,” tegasnya.

Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur bersama jajaran PAC se-Kabupaten Situbondo, Jumat (18/9/2026).

Namun, konsolidasi itu tidak berhenti pada agenda internal. PDI Perjuangan juga membawa kegiatan sosial dengan menyapa masyarakat secara langsung.

Sebanyak 1.500 paket sembako dan dana santunan disalurkan kepada masyarakat. Penerimanya antara lain anak yatim piatu, keluarga duafa, juru parkir, hingga pengemudi ojek daring.

Di antara penerima bantuan, ada Aida. Bantuan yang diterimanya sudah memiliki tujuan sederhana, membeli perlengkapan sekolah.

“Untuk beli perlengkapan sekolah, mau beli alat tulis dan sepatu baru,” kata Aida.

Ada pula Hendriani yang mengaku bantuan tersebut dapat sedikit meringankan kebutuhan keluarganya.

“Saya berterima kasih, alhamdulillah. Dapat bantuan seperti ini, dapat meringankan tanggungan suami saya bulan ini,” ujarnya.

Bagi mereka, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi keluarga yang harus menghitung kebutuhan dari hari ke hari, bantuan semacam itu memiliki arti tersendiri.

Konsolidasi partai tidak hanya berbicara tentang struktur, kaderisasi, dan penguatan organisasi. Ada masyarakat yang ditemui secara langsung, dengan kebutuhan yang juga nyata dan sederhana.

Said mengingatkan bahwa pengalaman pernah berada dalam kondisi sulit semestinya tidak dilupakan ketika keadaan telah berubah.

Bagi PDI Perjuangan, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberpihakan kepada masyarakat tidak mampu bukan hanya soal bagaimana menyebut mereka sebagai wong cilik, tetapi juga bagaimana memperlakukan mereka ketika berhadapan secara langsung.

Sebab, di balik setiap bantuan, ada kebutuhan yang sedang ditanggung. Ada anak yang membutuhkan sepatu untuk sekolah. Ada keluarga yang berharap beban belanja bulan ini sedikit berkurang.

Dan di tengah konsolidasi PDI Perjuangan di Situbondo itu, Said Abdullah menitipkan satu pesan sederhana kepada kadernya, yaitu jangan sampai melukai hati orang yang tidak mampu.