Oleh: Moh syurul, Asal komisariat insan cita UIN madura

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum reflektif untuk menilai ulang posisi, orientasi, dan kontribusi dalam dinamika keumatan dan kebangsaan yang kian kompleks.

Sejarah panjang HMI yang lahir dari rahim krisis nasional menegaskan bahwa organisasi ini tidak pernah dimaksudkan sebagai entitas seremonial, melainkan sebagai gerakan intelektual, etis, dan transformatif

Tantangan terbesar HMI hari ini bukan terletak pada minimnya sejarah, melainkan pada cara memaknai sejarah itu sendiri.

Apakah napak tilas perjuangan hanya berhenti pada romantisme masa lalu, atau justru menjadi basis kesadaran kritis untuk membaca realitas mutakhir?

Sejarah HMI adalah sejarah perlawanan terhadap kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.

Lafran Pane mendirikan HMI bukan untuk memperbanyak organisasi mahasiswa, tetapi untuk melahirkan kader yang memiliki kesadaran intelektual dan keberpihakan moral terhadap umat dan bangsa.

Namun, dalam praktik kekinian, napak tilas sering kali terjebak pada glorifikasi simbolik, pengulangan jargon tanpa pendalaman makna, perayaan usia tanpa evaluasi ideologis.

Padahal, kesadaran historis sejati menuntut sikap kritis, berani bertanya apakah nilai dasar perjuangan masih hidup dalam praksis kader hari ini.

Napak tilas perjuangan seharusnya menjadi proses intelektual yang jujur, mengakui capaian, membaca kegagalan, dan menilai sejauh mana perjuangan tetap konsisten sebagai kekuatan moral di tengah godaan pragmatisme dan politik transaksional.

Salah satu problem utama HMI kontemporer adalah krisis peran yang dinormalisasi.

Ketika ketimpangan sosial dianggap wajar, ketika kebijakan publik yang merugikan rakyat tidak lagi memantik kegelisahan, maka yang terjadi bukanlah kedewasaan organisasi, melainkan pelemahan daya kritis.

Dalam konteks ini, HMI dihadapkan pada dilema besar, tetap menjadi organisasi kader yang kritis dan independen, atau bergeser menjadi organisasi yang nyaman dalam kemapanan struktural.

Sejarah membuktikan bahwa HMI selalu relevan ketika ia berani berdiri pada posisi tidak populer, berpihak pada nilai, bukan pada kekuasaan.

Menatap masa depan perjuangan tidak cukup dengan optimisme normatif. Melainkan menuntut reorientasi gerakan yang berbasis pada penguatan intelektual, keberanian moral, dan kepekaan sosial.

HMI harus kembali menempatkan kader sebagai subjek perubahan, bukan sekadar aktor administratif organisasi.

Di era disrupsi informasi dan krisis kepercayaan publik terhadap institusi, HMI memiliki peluang strategis untuk tampil sebagai ruang dialektika yang sehat, tempat lahirnya gagasan kritis, etika publik, dan kepemimpinan berintegritas.

Namun peluang ini hanya akan terwujud jika HMI berani melakukan otokritik internal secara serius.

Dies Natalis ke-79 harus dimaknai sebagai titik balik kesadaran kolektif. Menjaga ingatan perjuangan bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan menjadikan sejarah sebagai cermin untuk menilai diri hari ini.

Sebab organisasi yang besar bukan hanya yang panjang usianya, tetapi yang terus relevan dengan zamannya tanpa kehilangan nilai dasarnya.

HMI tidak kekurangan kader cerdas, tetapi akan kehilangan makna jika kecerdasan itu tidak disertai keberanian sikap. Tidak kekurangan sejarah, tetapi akan kehilangan arah jika sejarah hanya dijadikan slogan.

Pada usia ke-79 tahun, HMI dihadapkan pada tanggung jawab sejarah yang semakin berat. Napak tilas perjuangan harus melahirkan kesadaran, dan kesadaran harus berujung pada tindakan.

Menatap masa depan bukan tentang memastikan eksistensi organisasi, tetapi tentang meneguhkan peran HMI sebagai penjaga nilai, penggerak perubahan, dan suara kritis di tengah kebisingan zaman.

Jika HMI mampu menjaga keteguhan ini, maka usia hanyalah angka, dan perjuangan akan tetap hidup dalam setiap kader yang berpikir, bersikap, dan bergerak dengan tanggung jawab sejarah.