Oleh: Saiful, S.T (Kabid PA HMI Cabang Sampang)
Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, idealisme kader HMI tidak sedang hilang, tetapi melemah karena kehilangan arah dan ketegasan. HMI sejak awal didirikan bukan untuk menjadi organisasi yang nyaman dalam rutinitas, melainkan sebagai respons atas kegelisahan umat dan bangsa. Ia menuntut keberanian berpikir, ketajaman analisis, dan konsistensi dalam bertindak. Ketika forum-forum diskusi kehilangan daya kritis dan hanya menjadi agenda formalitas, saat itulah kita perlu jujur mengakui: ada yang salah dalam cara kita memaknai proses.
Warisan pemikiran Cak Nur melalui Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sejatinya adalah fondasi bagi lahirnya kader intelektual yang utuh, bukan hanya siap mengisi ruang kekuasaan, tetapi juga mampu membangun peradaban melalui gagasan. Namun realitas hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Diskusi sering kali tidak melahirkan pemikiran baru, relasi senior-junior bergerak dalam pola yang tidak sehat, dan sebagian kader terlalu cepat terjun ke politik praktis tanpa kesiapan yang matang. Jika kondisi ini dibiarkan, maka HMI akan kehilangan ruhnya sebagai organisasi kader yang berlandaskan idealisme, bukan sekadar jaringan kekuasaan.
Diskusi, yang seharusnya menjadi rahim bagi lahirnya ide-ide segar, kerap terjebak dalam seremonial yang hampa. Kata-kata berputar, tetapi tidak bergerak. Forum berlangsung, tetapi tidak menggugat. Seolah-olah diskusi hanya menjadi panggung yang disiapkan untuk mereka yang lebih dahulu berdiri, bukan ruang dialektika yang membebaskan. Di titik ini, idealisme tidak hilang secara tiba-tiba, melainkan terkikis perlahan oleh rutinitas yang kehilangan arah.
Lebih jauh, kegelisahan itu menemukan bentuknya dalam praktik kaderisasi yang mulai bergeser. Ketergantungan pada senior menjelma menjadi kenyamanan yang meninabobokan. Relasi yang semestinya setara dalam semangat hablun min an-naas berubah menjadi pola hierarkis yang kaku, sami’naa wa atho’naa tanpa ruang kritis. Padahal, meneladani bukan berarti meniadakan nalar. Menghormati bukan berarti membungkam pertanyaan. Di sinilah garis tipis antara tradisi dan stagnasi sering kali dilanggar tanpa disadari.
Ironisnya, di tengah geliat politik praktis yang menggoda, sebagian kader justru tergesa melompat tanpa bekal kedalaman. Politik dijalani sebagai jalan pintas, bukan sebagai medan pengabdian yang menuntut kesiapan intelektual dan moral. Seolah-olah jaringan lebih penting daripada gagasan, dan kedekatan lebih menentukan daripada kapasitas. Di titik ini, kader bukan lagi subjek perubahan, melainkan objek dari arus yang lebih besar.
Padahal, hakikat HMI sejak awal begitu tegas: menjunjung tinggi idealisme sebagai nilai tertinggi seorang mahasiswa. Idealisme bukan romantisme kosong, tetapi komitmen untuk berpikir jernih, bersikap tegas, dan bertindak nyata. Ia menuntut keberanian untuk berbeda, sekaligus kerendahan hati untuk terus belajar. Ia hidup dalam tiga akar yang saling menguatkan: diskusi yang tajam, publikasi yang mencerahkan, dan aksi yang berdampak.
Maka, pertanyaannya bukan sekadar “ke mana idealisme itu pergi?”, melainkan “kapan kita berhenti mencarinya di luar, dan mulai menumbuhkannya kembali dari dalam?”. Degradasi kualitas kader bukanlah takdir, melainkan konsekuensi dari pilihan-pilihan kecil yang diabaikan. Dan perubahan tidak akan lahir dari retorika revolusioner semata, tetapi dari keberanian untuk mempraktikkan gagasan, sekecil apa pun langkahnya.
Barangkali, restorasi idealisme itu tidak membutuhkan gemuruh besar. Ia cukup dimulai dari satu forum yang benar-benar hidup, satu tulisan yang jujur, satu tindakan yang tulus. Dari sana, idealisme akan kembali menemukan jalannya, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai napas yang menghidupkan.
Dan ketika itu terjadi, HMI tidak lagi sekadar berdiri di tengah kegelisahan zaman, tetapi menjelma menjadi jawaban yang selama ini dinantikan.



