Oleh: Tusvia (Ketua Umum Korkom UIC Jakarta Raya).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
IMG-20260215-WA0092
previous arrow
next arrow

Ramadan adalah bulan yang memaksa setiap insan untuk menanggalkan topeng kepalsuan. Namun, di sekretariat Pengurus Besar HMI, kita justru melihat pertunjukan topeng yang paling menjijikkan dalam sejarah organisasi. Bagas Kurniawan, yang dilantik pada Rabu malam, 24 Januari 2024, kini tengah memimpin sebuah kapal yang bocor secara moral dan cacat secara konstitusional. Dengan masa jabatan yang dihitung sejak pelantikan, Bagas seharusnya sudah mengemasi barang-barangnya. Alih-alih mempersiapkan karpet merah bagi suksesi, ia justru tampak asyik memperpanjang masa tinggalnya di singgasana yang sudah kedaluwarsa.

Membiarkan Kongres molor melampaui batas waktu adalah bentuk cacat berpikir yang akut. Bagaimana mungkin seorang lulusan cumlaude gagal membaca kalender organisasi? Ini bukan sekadar masalah teknis; ini adalah gejala “kebebalan intelektual”. Ketika roda organisasi molor, maka jantung dari HMI yaitu kaderisasi berhenti berdenyut secara normal. Kita sedang menyaksikan penyumbatan massal terhadap potensi ribuan kader di daerah hanya demi memuaskan dahaga kekuasaan segelintir orang di pusat yang enggan beranjak dari kursinya.

Lebih tragis lagi, selama masa kepemimpinannya, hampir tidak ada catatan kritis yang lahir dari lisan Bagas Kurniawan terhadap kebijakan pemerintah yang bermasalah. Sebagai agent of control dan agen pembaharu, HMI seharusnya menjadi pengawas yang paling berisik terhadap ketidakadilan. Namun, yang kita lihat justru sebaliknya: panggung PB HMI lebih sering diisi dengan narasi pujian dan harmoni yang mencurigakan. Ini adalah pengkhianatan terhadap “Real HMI” yang sejarahnya ditulis dengan tinta perlawanan terhadap kezaliman, bukan dengan tinta stempel stetuju pada kekuasaan.

Keheningan para pengurus PB HMI lainnya pun melengkapi penderitaan ini. Mereka diam seperti deretan nisan di pemakaman akal sehat. Kepemimpinan HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam perlahan akan mengalami kematian pikiran karena meremehkan konstitusi dianggap sebagai hal lumrah. Jika aturan dasar organisasi saja diremehkan dan misi utama untuk mengawasi kekuasaan diabaikan, maka HMI hanya akan menjadi fosil birokrasi yang tak punya ruh. Bagaimana mungkin memimpin gerakan jika dalam prosesnya saja sudah tidak jujur menjalankan organisasi?

Misi utama HMI adalah membina insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam, serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur. Namun, bagaimana keadilan makmur bisa terwujud jika pengurus besarnya sendiri gagal menegakkan keadilan di dalam rumahnya? Kepemimpinan yang lahir dari proses yang tidak jujur dan tidak konstitusional hanya akan menghasilkan kebijakan yang prematur dan tak memiliki wibawa moral. Bagas sedang menyeret HMI menjauh dari cita-cita luhur Lafran Pane.

Inilah saatnya bagi kader HMI dari cabang-cabang se-Nusantara untuk berhenti menjadi penonton drama murahan ini. Legitimasi kepemimpinan Bagas Kurniawan sudah gugur demi hukum dan demi etika. Mosi tidak percaya adalah kewajiban bagi setiap kader yang masih memiliki idealisme. Cabang-cabang harus bersatu menggugat kepemimpinan yang sudah “mati” secara organisatoris ini. HMI bukan milik Jakarta, bukan milik sekelompok orang yang gemar melobi kekuasaan; HMI adalah milik setiap kader yang setia pada aturan main dan perjuangan umat.

Ada paradoks ketika HMI menggaungkan nilai-nilai Islam di ruang publik, sementara di internalnya, kejujuran disembelih di atas kepentingan jabatan. Jika Bagas punya sedikit saja sisa harga diri sebagai Insan Cita, ia akan turun hari ini juga. Mampetnya kran suksesi adalah sabotase terhadap masa depan organisasi. Kita tidak sedang kekurangan stok pemimpin, kita hanya sedang kelebihan stok ego yang merasa organisasi ini akan kiamat jika mereka tidak lagi menjabat sebagai tameng kekuasaan.

Kita juga harus mengetuk pintu hati para alumni HMI (KAHMI). Jangan hanya diam dan menonton kehancuran moral adik-adik kalian. Alumni adalah penjaga moral kaderisasi; jangan biarkan HMI berubah menjadi sekolah bagi calon-calon oportunis yang belajar menjilat pada kekuasaan sejak mahasiswa. Alumni harus turun tangan mengingatkan Bagas bahwa HMI bukan milik pribadi. Jika alumni membiarkan praktik ini, maka mereka ikut mengamini matinya pikiran dan integritas di tubuh organisasi hijau-hitam ini.

HMI didirikan sebagai organisasi yang independen, bukan sebagai underbouw atau pemandu sorak pemerintah. Di bulan Ramadan ini, praktik menunda-nunda Kongres adalah bentuk ketidakjujuran yang sangat nyata. Apa gunanya puasa jika kita masih memakan hak orang lain hak kader untuk mendapatkan regenerasi kepemimpinan yang segar dan berani? Bagas sedang menyandera masa depan HMI. Kegagalan menyelenggarakan Kongres tepat waktu adalah bukti nyata ketidakmampuan manajerial sekaligus kehancuran moralitas seorang pemimpin.

Narasi “HMI untuk Indonesia” kini terdengar seperti lelucon garing karena Indonesia yang mereka maksud tampaknya hanyalah Indonesia di lingkaran elit. Seorang pemimpin yang tidak mampu mengatur waktu organisasinya, mustahil mampu mengatur masa depan bangsa yang besar ini. Jika prosesnya saja sudah tidak jujur, maka hasil dari kepemimpinan tersebut hanyalah residu-residu kekuasaan yang tidak bermanfaat bagi umat. HMI harus kembali ke khitah sebagai penyambung lidah rakyat, bukan penyambung lidah birokrat.

Maka, hanya ada satu kata untuk menyelamatkan HMI: Lawan! Lawan segala bentuk pembangkangan terhadap konstitusi. Lawan diamnya para pengurus yang kompromis terhadap kekuasaan. Lawan ketidakjujuran yang dibungkus dengan alasan-alasan teknis yang palsu. Biarkan bulan Ramadan ini menjadi saksi bagi kebangkitan kader HMI yang merindukan kejujuran dan tegaknya hukum organisasi. Turunkan Bagas, selamatkan HMI, dan kembalikan organisasi ini sebagai lokomotif perubahan yang berintegritas, berani mengkritik, dan jujur sejak dalam pikiran.

Salam Perlawanan!