YAKUSA.ID – Sejumlah kader Kohati Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor menilai pelaksanaan Musyawarah Kohati Cabang (Muskohcab) ke-XLVII berjalan tidak sesuai prosedur dan mencederai etika organisasi.
Mereka menduga terdapat ketidaknetralan Ketua Umum Kohati demisioner, serta Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC), yang dinilai memicu intervensi dan perlakuan diskriminatif terhadap salah satu kandidat dalam forum.
“Ketika pimpinan demisioner, SC, dan OC tidak menjaga netralitas, maka forum kehilangan legitimasi. Muskohcab tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan tertentu,” kata Icha kader Kohati Cabang Bogor Komisariat Djuanda kepada yakusa.id, Minggu (8/2/2026).
Icha menyebut, forum Muskohcab yang seharusnya menjadi ruang musyawarah tertinggi untuk menentukan arah kepemimpinan cabang justru dipersepsikan tidak independen.
Sejumlah tahapan disebut tidak mencerminkan asas keadilan, objektivitas, serta kesetaraan hak antar kandidat sebagaimana diatur dalam konstitusi organisasi.
Pihaknya juga menyoroti peran SC dan OC yang seharusnya menjadi penjaga konstitusi serta fasilitator forum.
Namun, panitia dinilai tidak profesional dan tidak imparsial dalam mengambil sejumlah keputusan teknis maupun administratif, sehingga menimbulkan dugaan keberpihakan.
Selain itu, keberpihakan pimpinan Kohati demisioner, termasuk Ketua Umum, Sekretaris, dan Bendahara, turut disorot karena dinilai melanggar etika kepemimpinan.
Icha dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Aliansi Komisariat se-Cabang Bogor, menilai pimpinan demisioner seharusnya berdiri di atas semua kepentingan kandidat dalam proses suksesi.
Atas dasar itu, para mereka mendesak agar Muskohcab ke-XLVII dilaksanakan ulang secara menyeluruh, jujur, adil, dan independen. Mereka juga meminta pembubaran OC dan SC Muskohcab XLVII serta pembentukan panitia baru yang dinilai lebih kredibel dan dipercaya oleh seluruh elemen kader.
Selain itu, kader meminta evaluasi dan klarifikasi terbuka atas dugaan intervensi dan keberpihakan yang terjadi selama Muskohcab berlangsung.
“Jika Muskohcab yang cacat ini dipaksakan untuk dilegitimasi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil forum, tetapi marwah, integritas, dan masa depan Kohati Cabang Bogor,” tegasnya.
Icha menegaskan bahwa hal itu disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral kader untuk menjaga agar pemilihan ketua Kohati tetap berada pada jalur konstitusional, demokratis, dan bermartabat, serta menolak segala bentuk intervensi, diskriminasi, dan praktik tidak etis dalam proses suksesi kepemimpinan organisasi. (Din/*)












