YAKUSA.ID — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor menggelar aksi demonstrasi di depan gerbang Istana Bogor, Kamis (5/2/2026), untuk mengecam agresi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Aksi yang berlangsung di Jalan Jenderal Sudirman tersebut sempat diwarnai pembakaran ban di depan gerbang istana sebagai simbol protes mahasiswa terhadap situasi geopolitik global yang dinilai semakin memanas dan mengancam perdamaian dunia.

Massa aksi membawa berbagai spanduk berisi kecaman terhadap agresi militer yang dinilai berpotensi menyeret dunia ke konflik yang lebih luas serta mengorbankan rakyat sipil.

Ketua Umum HMI Cabang Kota Bogor, Moeltazam, dalam orasinya mengkritik sikap pemerintah yang dinilai terlalu lunak bahkan cenderung membisu di tengah memanasnya konflik global.

“Pembakaran ban ini adalah simbol kemarahan mahasiswa. Ketika dunia dipertontonkan arogansi kekuatan militer, Indonesia tidak boleh sekadar menonton dari kejauhan. Diamnya pemerintah terhadap agresi militer adalah bentuk kegagalan moral dalam membela kemanusiaan,” tegas Moeltazam di hadapan massa aksi.

Ia menilai bangsa yang besar tidak boleh takut bersuara ketika hukum internasional dilanggar secara terang-terangan.

Dalam pernyataan sikapnya, HMI Cabang Kota Bogor mengecam segala bentuk agresi militer yang melanggar kedaulatan negara dan mengancam keselamatan rakyat sipil. Mahasiswa juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar segera mengeluarkan resolusi gencatan senjata tanpa syarat.

Selain itu, massa aksi meminta Pemerintah Republik Indonesia mengambil langkah nyata untuk melindungi serta mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah konflik.

Mereka juga mendesak Presiden Republik Indonesia menunjukkan sikap politik luar negeri yang tegas dan tidak tunduk pada tekanan kekuatan global. Prinsip bebas aktif, menurut mereka, tidak boleh berubah menjadi sikap pasif ketika tragedi kemanusiaan terjadi di hadapan dunia.

“Jika dunia terus dikuasai oleh logika perang dan kekuatan militer, maka kemanusiaan akan dikubur hidup-hidup. Indonesia harus berdiri di barisan yang benar, bukan menjadi penonton yang hanya pandai berbicara tentang perdamaian tanpa keberanian bersikap,” tegasnya.

Aksi demonstrasi sempat memanas ketika ban dibakar di depan gerbang istana. Setelah menyampaikan tuntutan dan orasi secara bergantian, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib di bawah pengawalan aparat keamanan. (Han/Sib)