Scroll Untuk Lanjut Membaca
IMG-20260215-WA0092
previous arrow
next arrow

YAKUSA.ID Media sosial dinilai telah mengubah cara publik memandang profesi dokter, sehingga menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dalam Webinar UICI Series Volume 13 bertajuk “Dokter, Viral, dan Tanggung Jawab Publik di Media Sosial” yang diselenggarakan Program Studi Komunikasi Digital Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Jumat (6/2) malam.

Dosen Program Studi Komunikasi Digital UICI, Ilham Setyawan, mengatakan media sosial saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai ruang privat, melainkan ruang publik yang membentuk persepsi dan kepercayaan masyarakat.

“Di mata publik, media sosial merupakan wajah branding. Bagi dokter, media sosial mencerminkan profesionalisme, kredibilitas keilmuan, etika komunikasi, serta nilai-nilai profesi yang dipegang,” kata Ilham.

Menurut dia, dokter yang aktif di media sosial tidak hanya berbicara sebagai individu, tetapi juga sebagai figur berotoritas. Setiap opini dan informasi yang disampaikan memiliki bobot lebih besar dibandingkan masyarakat umum, sehingga perlu disampaikan secara hati-hati dan bertanggung jawab.

Ilham menekankan bahwa kepercayaan publik merupakan aset utama profesi medis. Oleh karena itu, branding dokter tidak dibangun dari popularitas atau konten sensasional, melainkan dari konsistensi perilaku dan integritas dalam menyampaikan edukasi kesehatan.

“Viral memang dapat membangun perhatian, tetapi branding yang baik justru membangun kepercayaan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa jejak digital bersifat permanen. Konten yang telah beredar luas berpotensi memengaruhi persepsi publik dalam jangka panjang, tidak hanya terhadap individu dokter, tetapi juga terhadap profesi medis secara keseluruhan.

Selain membahas etika komunikasi digital, webinar tersebut turut menghadirkan Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dr. Ardiansyah Bahar serta menyinggung pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan konten edukasi kesehatan, khususnya melalui kemampuan menyusun perintah atau prompting yang tepat agar informasi yang dihasilkan tetap akurat dan relevan. (YA/Sib)