Mesin motor itu sudah lama tidak bisa dinyalakan dengan starter tangan. Setiap pagi, kaki harus lebih dulu turun mengengkol. Kadang sekali, kadang dua kali. Pernah juga lebih dari itu, sampai muncul rasa kesal kecil yang tidak penting untuk disimpan. Setelah mesin menyala, suara yang keluar terdengar seperti biasa, meski sesekali terasa berbeda, entah di telinga atau di perasaan.
Kendaraan itu masih dipakai. Supra X yang sama, dengan bunyi mesin yang sudah dikenali sejak lama. Tidak pernah dibicarakan sebagai sesuatu yang istimewa, tidak pula diperlakukan sebagai kenangan. Ia hanya dipakai. Untuk pergi dan pulang. Untuk mengisi jarak antara satu urusan dan urusan lain yang sering kali tidak terlalu penting, tetapi tetap harus dilalui.
Ada benda-benda yang bertahan bukan karena dirawat dengan penuh perhatian, melainkan karena hidup kadang terlalu sibuk untuk memikirkan pengganti. Selama masih bisa membawa ke tempat yang dituju, ia dibiarkan. Cat memudar tanpa disadari. Suara mesin berubah sedikit demi sedikit. Perubahannya begitu pelan, sampai suatu hari terasa sudah berbeda, tapi tidak jelas sejak kapan.
Perjalanan dengan kendaraan itu sering berakhir di tempat ngopi yang sama. Tempat yang tidak banyak berubah. Kursinya itu-itu saja, mejanya tetap di posisi yang sama, rasa kopinya akrab. Datang ke sana jarang dengan rencana singkat. Duduk bisa lama, kadang lebih lama dari yang dibayangkan.
Orang-orang yang ada di sana bukan orang asing. Wajah-wajah yang sama, teman-teman yang sudah sering bertemu. Tidak selalu perlu bertanya kabar. Ada hari-hari ketika obrolan mengalir ke mana-mana, ada hari lain ketika lebih banyak diam. Kehadiran mereka tidak menuntut apa pun, hanya membuat waktu berjalan tanpa terasa berat.
Di sana, waktu tidak perlu dikejar. Ia dibiarkan lewat di antara cangkir yang berganti, cerita yang tidak selalu selesai, dan jeda-jeda kecil yang tidak perlu diisi. Tidak semua percakapan penting untuk diingat. Tapi duduk bersama itu sendiri terasa cukup.
Di teras rumah, sering ada buku yang dibuka sebentar lalu ditutup kembali. Beberapa halaman dibaca, lalu berhenti. Bukan karena isinya sulit, melainkan karena perhatian tiba-tiba lepas. Penanda halaman berpindah, tapi jaraknya tidak jauh. Ada niat untuk menamatkannya, tentu saja, meski kadang niat itu muncul hanya karena merasa seharusnya begitu.
Keinginan menulis pun berjalan dengan cara yang tidak jauh berbeda. Muncul sesekali, dicatat singkat, lalu disimpan. Pernah dibuka lagi, lalu ditutup kembali. Tidak dibatalkan, tidak pula benar-benar dikerjakan. Ada hari-hari ketika menulis terasa penting, lalu esoknya terasa tidak perlu.
Hari-hari berlangsung seperti itu. Tidak semua yang dimulai sampai ke ujungnya. Tidak semua niat berubah menjadi pekerjaan. Kadang ada rasa bersalah kecil, tapi tidak cukup kuat untuk mengubah kebiasaan. Tubuh tetap bangun, mengengkol mesin, duduk di tempat yang sama, membuka buku yang belum selesai.
Akhir tahun datang tanpa banyak perbedaan. Engkol kaki masih diperlukan. Jalan yang sama masih dilewati. Tempat ngopi itu tetap ada, dengan orang-orang yang itu juga. Rencana-rencana masih disimpan, meski tidak semuanya diingat dengan jelas.
Dalam ukuran seperti itu, hidup tidak terasa istimewa. Tapi juga tidak sepenuhnya kosong. Ia berjalan pelan, melalui hal-hal kecil yang terus diulang, tanpa banyak suara.


