YAKUSA.ID – Sore itu, Selasa (17 Maret 2026), suasana di Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, terasa lebih hangat dari biasanya.

Di halaman rumah yang menjadi titik berkumpul, puluhan anak yatim piatu duduk rapi. Mereka datang memenuhi undangan dari seorang tuan rumah yang ingin berbagi, sekaligus merangkul mereka dengan kasih yang tulus.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP, Hj. Ansari menyambut mereka satu per satu. Senyumnya hangat, sapanya lembut. Ia tidak menjaga jarak—justru memilih duduk bersama, sejajar dengan anak-anak itu, membuka ruang obrolan yang sederhana namun penuh makna.

Di tengah suasana yang mulai cair, ia memperkenalkan diri.

Dengan nada pelan namun penuh kehangatan, ia bercerita bahwa dirinya adalah warga asli Desa Kaduara Barat—tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Kini, takdir membawanya menjadi anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi PDI Perjuangan, mewakili daerah pemilihan Madura Raya.

Namun pengenalan itu tidak terasa kaku. Ia menyampaikannya seperti seorang ibu yang sedang bercerita kepada anak-anaknya—ringan, akrab, dan penuh kedekatan.

Hj. Ansari bercengkrama dan menyapa salah satu anak anak yatim yang berada di kediamannya

“Dulu ibu juga seperti kalian, berasal dari desa ini,” tuturnya.

Obrolan kemudian mengalir. Ia menanyakan satu per satu cita-cita anak-anak itu. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, polisi, bahkan ada yang menjawab dengan malu-malu. Setiap jawaban disambutnya dengan senyum dan semangat.

Ibu Hj. Ansari lalu memberi pesan sederhana, namun dalam maknanya.

Ia berharap anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi yang berbakti—kepada orang tua, agama, serta nusa dan bangsa. Ia juga menanamkan keyakinan bahwa masa depan terbuka bagi siapa saja.

“Siapa pun kelak bisa jadi dewan,” ucapnya, “tapi tetaplah jadi apa saja, selama kalian bermanfaat untuk sesama.”

Kalimat itu menggantung hangat di udara, seperti doa yang diam-diam dipanjatkan.

Namun di balik kata-kata yang menguatkan itu, terselip rasa haru yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Saat menatap wajah-wajah polos di hadapannya, matanya kembali berkaca-kaca. Ia menyeka air matanya perlahan.

Anggota Komisi VIII DPR RI tertangkap kamera menangis haru saat melihat para anak yatim yang berkumpul di rumahnya

Sesaat kemudian, ia tersenyum lagi.

Dengan senyum itu, ia kembali menyapa, bercanda, dan bercerita. Suasana yang sempat hening oleh haru kembali hidup oleh tawa kecil anak-anak yang mulai merasa dekat.

Kedekatan itu bukan tanpa alasan. Jauh sebelum menjadi anggota DPR RI, Ibu Hj. Ansari pernah mengabdikan dirinya sebagai guru PAUD selama belasan tahun. Dunia anak-anak bukan hal baru baginya—ia memahami cara menyapa mereka, cara mendengar mereka, dan cara membuat mereka merasa dihargai.

Di sela pertemuan itu, ia juga meminta doa dari anak-anak tersebut.

“Doakan ibu ya, semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berbagi,” ucapnya lirih.

Satu per satu anak kemudian maju menerima santunan. Hj. Ansari ditemani keluarganya, menyerahkannya langsung, sembari kembali menyapa dan memberi semangat. Sentuhan kecil di kepala, genggaman tangan, dan senyum hangat menjadi bahasa kasih yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Sore itu, santunan memang diberikan. Namun lebih dari itu, ada sentuhan hati yang tertinggal, tentang harapan, tentang kedekatan, dan tentang keyakinan bahwa setiap anak, dari mana pun asalnya, berhak bermimpi setinggi mungkin.