YAKUSA.ID Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pengobatan Tradisional (Battra) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya mendorong warga Dusun Dadapan, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, mengubah limbah kulit jeruk dan ampas kopi menjadi produk bernilai ekonomi melalui program pengabdian masyarakat bertajuk SABUKO.

Program yang dilaksanakan pada 11–12 Agustus di Balai Dusun Dadapan tersebut menyasar kelompok PKK sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus menjawab persoalan surplus produksi jeruk yang selama ini berpotensi menekan harga jual dan meningkatkan volume limbah.

Kegiatan tersebut dinahkodai Myrna Adianti, S.Si., M.Kes., Ph.D., bersama mahasiswa D3 Pengobatan Tradisional UNAIR, dengan menggandeng PKK Dusun Dadapan. Rangkaian kegiatan diisi dengan pengenalan minyak atsiri dari kulit jeruk yang disampaikan Myrna Adianti serta workshop pembuatan sabun yang dipandu Iif Hanifa Nurrosyidah.

Myrna mengatakan, pemilihan kulit jeruk sebagai bahan utama tidak lepas dari kondisi Dusun Dadapan yang banyak dihuni petani jeruk. Saat musim panen, sebagian hasil produksi tidak terserap pasar karena tidak memenuhi standar penjualan maupun akibat overproduksi.

“Kami melihat ada potensi yang bisa dimanfaatkan dari jeruk-jeruk yang tidak terjual. Daripada menjadi limbah, kulit jeruk dapat diolah dan memiliki nilai tambah,” katanya.

Menurut dia, potensi bahan baku tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Pertumbuhan budaya minum kopi dan menjamurnya kafe di Kota Batu juga menghasilkan ampas kopi dalam jumlah besar yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.

SEMANGAT: Ibu-ibu PKK Dusun Dadapan, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiayu, Kota Batu mengikuti praktik pengolahan limbah kopi kulit jeruk yang menjadi bahan utama inovasi sabun dalam program SABUKO yang digagas mahasiswa UNAIR, 11-12 Agustus 2026.

“Karena itu kami memberikan edukasi bahwa ampas kopi juga bisa dimanfaatkan kembali, salah satunya diolah menjadi sabun sehingga memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, ibu-ibu PKK tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah, tetapi juga praktik langsung membuat sabun dengan menggunakan essential oil jeruk dan ampas kopi. Inovasi tersebut sekaligus diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan kulit yang kerap dialami masyarakat di wilayah dengan cuaca dingin, termasuk iritasi akibat kondisi lingkungan maupun penggunaan produk berbahan kimia.

Program SABUKO kemudian diarahkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai diolah menjadi produk baru yang berpotensi dipasarkan, sehingga membuka peluang pendapatan tambahan bagi keluarga dan mendorong kelompok PKK menjadi lebih produktif.

Melalui pendekatan tersebut, surplus jeruk dan limbah ampas kopi tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Program ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta Tujuan 1 tentang pengentasan kemiskinan.

Mahasiswa UNAIR berharap SABUKO tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi keterampilan produktif yang terus dijalankan masyarakat. Dengan demikian, limbah pertanian dan konsumsi dapat diubah menjadi peluang usaha sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga warga Dusun Dadapan.