YAKUSA.ID – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan, Taufadi, menyampaikan sejumlah catatan evaluasi terkait penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M setelah mengikuti haji reguler bersama Kloter SUB-74 Embarkasi Surabaya.
Catatan tersebut ditulis berdasarkan pengalaman langsung selama menjalani seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari keberangkatan, pelayanan di asrama haji, penerbangan, pelayanan selama di Makkah hingga pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).
Menurut Taufadi, secara umum penyelenggaraan haji tahun ini mengalami banyak perbaikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berbagai layanan dasar yang diterima jamaah dinilai berjalan cukup baik, mulai dari sistem fast track, pelayanan konsumsi, fasilitas tenda di Arafah, hingga pendampingan petugas kloter.
“Kami melihat ada banyak kemajuan dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Karena itu catatan yang kami sampaikan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai masukan agar pelayanan jamaah semakin baik pada masa mendatang,” ujar Taufadi dalam catatan perjalanannya.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satunya terkait pelayanan jamaah lanjut usia (lansia) di tingkat sektor selama jamaah berada di Makkah.
Menurutnya, pelayanan yang dilakukan petugas kloter, dokter, perawat, dan Petugas Haji Daerah (PHD) sangat dirasakan manfaatnya oleh jamaah. Namun pelayanan khusus lansia di tingkat sektor masih belum dirasakan secara optimal oleh sebagian jamaah.
Selain itu, Taufadi juga menyoroti kualitas akomodasi hotel yang ditempati jamaah reguler. Ia mencatat adanya beberapa keterbatasan fasilitas seperti kapasitas lift yang kecil, ukuran kamar yang relatif sempit, hingga fasilitas pendukung yang masih perlu ditingkatkan.
Catatan lain yang mendapat perhatian adalah pelayanan transportasi saat pelaksanaan Armuzna. Menurutnya, persoalan transportasi masih menjadi tantangan utama yang banyak dirasakan jamaah, terutama saat proses mobilisasi menuju Arafah, pergerakan dari Muzdalifah ke Mina, hingga kepulangan jamaah dari Mina ke hotel.
“Transportasi menjadi persoalan yang paling banyak dikeluhkan jamaah. Namun kami memahami bahwa pengelolaan jutaan jamaah dari berbagai negara tentu bukan pekerjaan yang mudah,” tulisnya.
Dalam catatan tersebut, Taufadi juga mengapresiasi berbagai pihak yang dinilai telah bekerja keras melayani jamaah, mulai dari petugas kloter, tenaga kesehatan, PHD, hingga petugas konsumsi yang mampu memastikan kebutuhan jamaah terpenuhi selama berada di Tanah Suci.
Ia berharap berbagai catatan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi pemerintah Indonesia, Kementerian Agama, PPIH Arab Saudi, maupun pihak syarikah agar kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia semakin meningkat.
Sebagian catatan tersebut juga pernah menjadi perhatian Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari, yang pada musim haji tahun ini turut menunaikan ibadah haji sebagai jamaah reguler di Kloter SUB-74. Berbagai masukan yang dihimpun dari pengalaman lapangan telah disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan evaluasi pelayanan jamaah Indonesia di Tanah Suci.
Taufadi menegaskan bahwa kritik yang disampaikan dalam catatan perjalanannya merupakan bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas pelayanan haji, sehingga jamaah pada tahun-tahun mendatang dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, lebih ramah lansia, dan lebih nyaman dalam menjalankan ibadah.



