YAKUSA.ID — Menjelang datangnya Ramadhan 1447 Hijriah, keluarga besar Raudlatul Ulum bersama masyarakat menggelar tradisi nyalase dan haul majemuk.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
IMG-20260215-WA0092
previous arrow
next arrow

Kegiatan itu berlangsung di kompleks pemakaman RT 003 Kampung Biyan, Desa Kapedi, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Selasa 17 Februari 2026.

Adapun kegiatan ini dihadiri sekitar 300 jamaah yang terdiri dari masyayikh, asatidz-ustadzat, santri, alumni, serta masyarakat umum.

Sejak pagi, jamaah mengikuti rangkaian khatmil Al-Qur’an sebanyak tiga kali mulai pukul 08.00 hingga menjelang Dzuhur.

Acara kemudian dilanjutkan pada sore hari dengan tawassul, pembacaan Surah Yasin, serta tahlil bersama hingga selesai.

Direktur Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Raudlatul Ulum, Ra Hanif, mengatakan tradisi nyalase tidak sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari pendidikan spiritual yang menghubungkan nilai keilmuan, ibadah, dan kehidupan sosial.

“Nyalase ini bukan hanya soal ziarah, tetapi membangun kesadaran bahwa ilmu, ibadah, dan kehidupan sosial harus berjalan bersama. Pesantren hadir untuk masyarakat, dan masyarakat adalah bagian dari pesantren,” ujarnya.

Koordinasi teknis kegiatan dipimpin oleh Ustaz Fajar Maulana selaku pelaksana lapangan. Ia menyebut antusiasme warga terus meningkat setiap tahun, menunjukkan kuatnya kerinduan masyarakat terhadap tradisi keagamaan yang sarat kebersamaan.

“Alhamdulillah, partisipasi jamaah terus bertambah. Ini menandakan tradisi seperti ini masih sangat dibutuhkan sebagai ruang kebersamaan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan yayasan, H. Lukman Hakim, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai sosial yang besar karena mampu memperkuat solidaritas sekaligus menjaga identitas religius masyarakat.

Tradisi nyalase merupakan budaya khas masyarakat Madura menjelang Ramadhan, berupa ziarah ke makam keluarga, pembersihan area pemakaman, serta doa bersama.

Melalui kegiatan ini, pesantren dan masyarakat berharap nilai spiritual, kekeluargaan, dan kepedulian sosial tetap terjaga sehingga Ramadhan dapat disambut dengan hati yang bersih dan penuh makna.(Hn/Sib)