YAKUSA.ID – Sebelum membaca kolom ini sampai tuntas, pembaca perlu tahu satu hal: saya adalah penggemar Barcelona. Bukan sekadar penonton, melainkan penggemar fanatik — manusia yang tetap menonton meski tahu timnya sedang limbung — yang bertahan meski papan skor sering tak ramah.
Namun, saya bukan politisi. Saya tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. Satu-satunya afiliasi yang saya ikuti hari-hari ini justru TikTok, lewat keranjang kuningnya.
Karena itu, menyandingkan PDIP dan FC Barcelona dalam tulisan ini bukan ajakan politik, apalagi propaganda. Ini bukan klaim bahwa penggemar Barcelona pasti simpatisan PDIP, atau kader PDIP otomatis memuja Blaugrana (julukan Barcelona). Ini hanyalah refleksi tentang institusi besar—tentang bagaimana simbol, sejarah, dan filosofi diuji oleh waktu, terutama ketika kekalahan datang dan zona aman terbuka lebar.
Barcelona dikenal sebagai klub raksasa dunia, dengan identitas permainan yang nyaris ideologis. Namun sejarahnya juga penuh lika-liku. Salah satu fase tergelap yang masih segar di ingatan publik adalah era Ronald Koeman. Barcelona bukan hanya kalah. Krisis finansial membelit, Lionel Messi pergi, skuad pincang, dan filosofi permainan tereduksi menjadi sekadar bertahan hidup.
Kekalahan telak dari rival dan kegagalan di Eropa menjadi rutinitas yang menyakitkan.
Sebagai penggemar, saya menyaksikan lewat layar kaca dengan rasa haru. Barcelona sudah sering kalah. Yang menyakitkan, Camp Nou – Stadion barca – tetap megah, tetapi harapan meredup.
Namun bahkan di fase dark era itu, Barcelona tidak sepenuhnya berkhianat pada fondasinya. Klub tetap berusaha menjaga DNA permainan, meski dengan keterbatasan. Ia tidak sepenuhnya berubah menjadi klub pragmatis tanpa identitas. Era Ronald Koeman adalah fase bertahan, menahan runtuh, sambil menunggu waktu untuk kembali DNA sejatinya – tiki taka.
Situasi serupa, tapi dalam konteks berbeda, dialami PDIP hari ini. Pilpres 2024 menjadi kekalahan elektoral yang nyata. Untuk pertama kalinya setelah satu dekade berada di pusat kekuasaan nasional, PDIP tidak lagi mengusung pemenang di kontestasi presiden.
Kekalahan ini bukan hanya soal angka. Ia adalah ujian karakter. Ketika hampir semua kekuatan politik memilih merapat, menyesuaikan arah angin, dan mencari posisi aman, PDIP justru memilih berdiri di luar gerbong pemenang.
Pilihan PDIP berada di luar pemerintahan bukanlah sikap pasif. Partai ini menempatkan diri sebagai penyeimbang kekuasaan. Mendukung kebijakan negara yang berpihak pada rakyat, sekaligus bersikap kritis ketika kekuasaan menjauh dari konstitusi, keadilan sosial, dan kedaulatan rakyat. Bagi PDIP, berada di luar kabinet justru dimaknai sebagai tanggung jawab aktif untuk mengawal arah bangsa agar tetap setia pada Pancasila dan semangat gotong royong.
Pilihan itu tentu tidak nyaman. Tidak populer. Bahkan berisiko. Namun di situlah satu karakter lama PDIP kembali terlihat, partai ini jarang mengambil keputusan instan, atau bahasa sederhanya, kopi tubruk.
PDIP adalah partai petarung dengan filosofi. Ia bertarung dengan keyakinan, bahkan ketika tahu hasilnya bisa berakhir pahit. Dalam banyak momentum, termasuk Pilkada dan Pilpres terakhir, PDIP memilih menepi bersama basis pendukungnya, bertahan pada garis ideologis, dan menolak berada di zona aman yang disediakan kompromi kekuasaan.
Seperti Barcelona di era Koeman, PDIP hari ini berada dalam fase bertahan. Tidak sedang di puncak. Tidak sedang dirayakan. Tetapi juga belum kehilangan dirinya sendiri.
Di sinilah benang merah keduanya menjadi jelas. Baik Barcelona maupun PDIP sama-sama pernah mengalami Dark Era. Keduanya kalah. Namun keduanya juga menunjukkan satu hal penting, bahwa konsistensi lebih mereka hargai daripada kemenangan instan.
Barcelona perlahan mencoba bangkit dengan kembali mempercayai regenerasi dan fondasi permainan. PDIP pun dihadapkan pada tantangan serupa – dari merawat basis, memperkuat kaderisasi, dan membuktikan bahwa kekalahan bukan akhir dari segalanya.
La Masia dan Kaderisasi
Barcelona memiliki La Masia sebagai ruang pembibitan nilai dan gaya bermain. Hasilnya, ada nama nama pemain beken sekaliber Pep Guardiola, Enrique, Messi, Xavi, Iniesta hingga nama nama lainnya. Merekalah yang jadi tulang punggung barca baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.
Jika Barcelona mampu bertahan dengan La Masia-nya, PDIP sesungguhnya juga hidup dari proses kaderisasi. Ia tidak berdiri di atas satu figur, melainkan pada sistem yang bekerja dalam diam, menyiapkan orang-orang untuk bertahan ketika sorotan padam dan kekuasaan menjauh.
Di tingkat nasional, kader seperti Puan Maharani dan Said Abdullah menjalani peran parlementer yang menuntut ketekunan, bukan sekadar popularitas. Sementara Bambang Pacul hadir sebagai representasi kader ideolog dan organisator partai, tetapi menentukan arah dan disiplin politik. Di daerah, kader seperti Tri Rismaharini dan bupati FYP, Riza Herdavid, Bupati Bangka Selatan, cukup populer di kalangan Gen Z lewat akun TikToknya.
Seperti La Masia, kaderisasi tidak selalu melahirkan bintang dalam semalam. Ia justru diuji saat hasilnya dipertanyakan, ketika yang tersisa hanyalah nilai, kesabaran, dan kesetiaan pada proses. Pelajaran terpentingnya sederhana namun keras, bahwa institusi besar tidak diuji saat menang, tetapi saat kalah dan harus tetap setia pada filosofi.
Merah yang melekat pada Barcelona dan PDIP bukan sekadar simbol perlawanan. Ia adalah simbol ketahanan. Merah yang tetap dipertahankan ketika sorak sorai menghilang, ketika kekuasaan menjauh, dan ketika jalan pintas terbuka lebar.
Sekali lagi, ini bukan ajakan dan bukan pembelaan.
Penggemar Barcelona bebas menentukan pilihan politiknya. Kader PDIP pun bebas mencintai klub mana saja. Keduanya hanya dipertemukan dalam satu refleksi, bahwa kalah dengan tetap setia pada filosofi sering kali lebih jujur daripada menang dengan menggadaikan identitas. Dan tidak semua institusi besar cukup berani untuk memilih jalan itu.
Visca Barca, Visca PDIP. Ini bukan sebagai seruan kemenangan, melainkan sebagai pengingat bahwa hidupnya sebuah institusi justru diuji ketika ia kalah, sendirian, dan tetap memilih menjadi dirinya sendiri.











