YAKUSA.ID – Anggota Komisi VIII DPR RI Hj. Ansari, menegaskan bahwa tantangan utama menuju Indonesia Emas 2045 terletak pada kemampuan bangsa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Hal tersebut disampaikan Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu, saat menjadi narasumber dalam Talkshow Sekolah Orang Tua (SOT) yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Al-Uswah Centre Pamekasan, di Gedung Bakorwil Pamekasan, Madura, Minggu (01/02/2026).
Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan bernilai strategis apabila diarahkan secara tepat untuk melahirkan generasi emas yang unggul secara utuh.
Hj. Ansari menjelaskan, generasi emas bukan sekadar generasi yang cerdas secara akademik, melainkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecakapan intelektual, kematangan karakter, serta daya saing global.
Tanpa pendidikan yang berkualitas, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.
Ia menyebutkan, setidaknya terdapat beberapa tipe utama generasi emas yang harus disiapkan melalui pendidikan. Pertama, generasi berkarakter kuat, yakni generasi yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Kedua, generasi kompeten yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta literasi teknologi yang memadai.
Ketiga, lanjut Hj. Ansari, generasi adaptif dan tangguh, yaitu generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, tidak mudah menyerah, serta memiliki daya juang tinggi dalam menghadapi tantangan global. Keempat, generasi berdaya saing yang mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
“Generasi emas itu bukan hanya pintar, tapi juga berakhlak, tangguh, dan siap menghadapi persaingan dunia. Inilah yang harus kita siapkan sejak sekarang melalui pendidikan,” tegas Perempuan yang pernah mengabdi di Yayasan Al-Uswah selama 14 Tahun itu.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi risiko terjebak dalam middle income trap apabila kualitas SDM tidak mengalami lompatan signifikan. Oleh karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai instrumen strategis pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Dalam pandangannya, tanggung jawab pendidikan juga tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan mental generasi emas sejak usia dini.
“Sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara menjadi kunci keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Hj. Ansari mengapresiasi keberadaan Sekolah Orang Tua (SOT) yang dinilai mampu memperkuat pemahaman orang tua mengenai peran strategis mereka dalam menyiapkan generasi masa depan.
Ia berharap Pamekasan, sebagai bagian dari Madura Raya, dapat menjadi salah satu daerah yang melahirkan generasi emas melalui pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berorientasi jangka panjang.
“Jika pendidikan kita kelola dengan sungguh-sungguh, maka generasi emas bukan sekadar wacana, tetapi keniscayaan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Al-Uswah Centre Pamekasan, Usman Sayyaf, menyampaikan, program Sekolah Orang Tua (SOT) merupakan agenda rutin tahunan yayasan yang telah berjalan sejak 2018 dan menjadi ruang edukasi bagi wali murid, guru, serta masyarakat.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat peran orang tua dalam mendampingi proses pendidikan anak, sekaligus membangun kesamaan cara pandang antara keluarga dan sekolah di tengah tantangan pendidikan yang terus berkembang.
“Sekolah Orang Tua ini kami hadirkan sebagai sarana edukasi parenting dan pendidikan agar orang tua memiliki bekal yang cukup dalam mendampingi anak,” ujar Usman.
Ia menambahkan, Al-Uswah Centre terus melakukan inovasi kurikulum dengan menekankan penguatan karakter, akademik, dan keterampilan masa depan, khususnya di bidang sains, bahasa, dan teknologi.
“Harapan kami, melalui sinergi sekolah dan orang tua, Al-Uswah Centre dapat berkontribusi melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan siap mencetak generasi emas,” ujarnya.
Usman Sayyaf, juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Hj. Ansari. Ia menyebut, sebelum menjadi anggota DPR RI, Hj. Ansari merupakan salah satu tenaga pengajar di lingkungan Al-Uswah Center yang telah mengabdikan diri selama kurang lebih 14 tahun.
Menurut Usman, pengalaman panjang tersebut membuat Hj. Ansari memahami secara mendalam persoalan pendidikan, baik dari sisi sekolah, orang tua, maupun peserta didik. Ia menilai, kiprah Hj. Ansari di parlemen saat ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Al-Uswah Centre.
“Kami mengapresiasi pengabdian beliau di dunia pendidikan. Dari tenaga pengajar hingga kini menjadi anggota DPR RI, Hj. Ansari tetap konsisten memperjuangkan isu pendidikan dan penguatan keluarga,” pungkas Usman. (Sib/San)



