YAKUSA.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) secara tegas membantah pernyataan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang mengklaim bahwa mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) meraup keuntungan bersih hingga Rp 1,8 miliar per tahun.
Wakil Kepala BGN Bidang Operasional, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa narasi tersebut merupakan disinformasi yang menyesatkan karena tidak berdasar pada realitas investasi dan operasional di lapangan.
Sony menjelaskan bahwa angka Rp 1,8 miliar yang disebut Tiyo Ardianto bukanlah laba bersih, melainkan estimasi pendapatan kotor maksimal per tahun.
Perhitungan tersebut berasal dari asumsi omzet Rp 6 juta per hari dikalikan 313 hari kerja.
“Angka itu masih harus dikurangi biaya operasional, gaji, pemeliharaan, hingga risiko usaha. Jadi, klaim keuntungan bersih Rp 1,8 miliar adalah asumsi fiktif,” ujar Sony.
Faktanya, untuk menjadi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha harus menyiapkan modal mandiri (CapEx) sebesar Rp 2,5 miliar hingga Rp 6 miliar.
Investasi ini mencakup penyediaan lahan seluas 500–800 meter persegi, pembangunan dapur industri dengan fasilitas standar tinggi seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL), lantai antibakteri, sistem filtrasi air minum, hingga pemasangan CCTV sesuai Juknis 401.1 Tahun 2026.
Pegiat sosial dari Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menilai kegaduhan yang dipicu pernyataan BEM UGM tersebut sebagai alarm pentingnya sistem pengawasan yang tidak dapat diintervensi secara manual.
Ia menekankan bahwa melalui platform Gizi-Log yang resmi diaktifkan BGN sejak Februari 2026, setiap rupiah anggaran dipantau secara real-time oleh algoritma pusat guna mencegah praktik mark-up.
“Gizi-Log adalah ‘hakim garis’ digital yang memagari piring anak-anak kita dari makelar pangan. Jika sistem mendeteksi pembelian bahan baku di atas harga pasar tanpa alasan logis, akses anggaran mitra akan langsung dikunci secara permanen,” tegas Romadhon Jasn, Rabu (25/2/2026).
Romadhon juga kembali menekankan pentingnya transparansi publik yang telah ia usulkan sejak pekan lalu, yakni pemasangan “Papan Belanja Harian” di setiap sekolah.
Menurutnya, papan fisik tersebut harus disinkronkan dengan data di laman resmi BGN agar orang tua siswa dapat memverifikasi harga belanja secara langsung dan mematahkan asumsi-asumsi liar di media sosial.
“Jangan sampai narasi fiktif mematikan harapan jutaan anak di daerah untuk mendapatkan protein berkualitas. Tugas kita adalah menjadi pengawas melalui data nyata, bukan penjegal melalui disinformasi. Dengan Gizi-Log dan pengawasan publik di lapangan, program MBG akan tetap terjaga integritasnya,” pungkas Romadhon.(Hn/San)












