YAKUSA.ID — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong penguatan ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat melalui pengembangan budidaya ikan lele berbasis bioflok dan Internet of Things (IoT) di Desa Rek Kerrek, Kabupaten Pamekasan.

Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Pengairan melalui Budidaya Perikanan Berkelanjutan Berbasis Bioflok untuk Mewujudkan Ketahanan, Kemandirian, dan Kualitas Konsumsi Pangan” tersebut diluncurkan pada Minggu (13/9/2026) melalui pendanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM.

Dalam program tersebut, tim UTM membangun kolam bioflok berdiameter sekitar tiga meter yang telah ditebar 5.000 bibit lele. Budidaya juga dilengkapi teknologi IoT untuk memantau kondisi air kolam, terutama parameter pH dan suhu.

Ketua pelaksana kegiatan, Sri Ratna Triyasari, S.P., M.P., mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi ikan konsumsi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi budidaya yang efisien dan berkelanjutan.

“Saat ini sudah kami sebarkan sekitar 5.000 bibit lele. Ke depan, kami juga akan mengembangkan inovasi pakan dengan memanfaatkan dan mencampurkan bioslurry sebagai bagian dari upaya pemanfaatan sumber daya lokal dan mendukung sistem pertanian yang lebih sirkular,” ujar Sri Ratna.

Menurut Sri Ratna, integrasi teknologi bioflok, IoT, dan pemanfaatan bioslurry diharapkan dapat menghasilkan model budidaya yang memiliki nilai produktivitas, ekonomi, sekaligus manfaat lingkungan.

Ia menambahkan, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh sarana budidaya, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha perikanan secara mandiri.

Anggota tim pelaksana, Sholeh Rachmatullah, menjelaskan bahwa penerapan IoT menjadi salah satu aspek teknologi yang dikembangkan dalam program tersebut. Sistem tersebut memungkinkan pengukuran pH dan suhu air secara otomatis sehingga kondisi kolam dapat dipantau tanpa harus selalu dilakukan secara manual.

“Dengan pemantauan yang lebih cepat dan terukur, pembudidaya dapat mengetahui kondisi air kolam. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan pemeliharaan kolam,” jelas Sholeh.

Ia mengatakan kualitas air menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya ikan. Melalui sistem monitoring, perubahan kondisi air diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga risiko terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan dapat diminimalkan.

Didorong Jadi Kegiatan Produktif Desa
Kepala Desa Rek Kerrek menyambut baik program yang dilaksanakan UTM. Menurutnya, budidaya lele berbasis bioflok dapat menjadi peluang kegiatan produktif yang memanfaatkan potensi desa.

“Kami sangat menerima dan mendukung kegiatan ini. Kami berharap program ini tidak berhenti pada pembangunan kolam, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rek Kerrek,” katanya.

Ia berharap hasil budidaya nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, termasuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Libatkan Mahasiswa
Program tersebut juga melibatkan mahasiswa UTM dalam proses implementasi teknologi dan pendampingan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman di lapangan.

Mahasiswa yang terlibat antara lain Achmad J. U., Iqbal Maulidi, Birrul Walidain, Dea Falencya C., dan Azmi Nadia A.

Mereka turut mendukung kegiatan implementasi budidaya, penerapan teknologi IoT, serta proses pendampingan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan dan persoalan nyata di masyarakat.

Salah satu peserta launching dan workshop, Hayyan, mengapresiasi pengenalan teknologi IoT dalam budidaya perikanan.

“Kegiatan ini menarik karena kami tidak hanya belajar tentang budidaya ikan, tetapi juga diperkenalkan dengan teknologi IoT. Harapannya teknologi seperti ini bisa benar-benar diterapkan dan membantu masyarakat dalam meningkatkan hasil budidaya,” ujarnya.

Kembangkan Konsep Ekonomi Sirkular
Selain budidaya lele, UTM juga merencanakan pengembangan pakan berbasis bioslurry. Pemanfaatan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi limbah dari suatu kegiatan produksi.

Pendekatan itu menjadi bagian dari upaya mengembangkan sistem produksi yang lebih terintegrasi dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni meningkatkan pemanfaatan kembali sumber daya dalam suatu sistem.

Tim UTM berharap program di Desa Rek Kerrek dapat berkembang dari kegiatan percontohan menjadi model budidaya yang dapat diterapkan oleh kelompok masyarakat lainnya.

Sri Ratna mengatakan program tersebut diharapkan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui peningkatan keterampilan, penyediaan sumber pangan, serta peluang ekonomi baru.

“Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata, meningkatkan keterampilan masyarakat, menghasilkan sumber pangan yang berkualitas, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Rek Kerrek,” pungkasnya.