Oleh: Moh. Royhan Iqbal
Sejarah tidak selalu bercerita tentang kemenangan dan keberhasilan mempertahankan kekuasaan. Ada kalanya seorang pemimpin harus meninggalkan pusat pemerintahannya, mencari dukungan dari kekuatan lain, bahkan menerima kenyataan bahwa kedudukannya tidak lagi dapat dipulihkan. Namun, apakah setiap langkah mundur dapat dimaknai sebagai kekalahan?
Pertanyaan tersebut menarik ketika membaca kembali kisah Raden Alza, penguasa Sumenep yang dikenal dengan julukan Pangeran Lolos. Perjalanan politiknya menyimpan pelajaran tentang strategi, konflik, dan pengambilan keputusan dalam situasi politik Madura abad ke-18.
Pangeran Alza tercatat sebagai adipati Sumenep ke-28. Ia menggantikan Pangeran Jimat dengan gelar Raden Tumenggung Ario Cokronegoro IV. Berdasarkan catatan Majalah Parlemen Sekretariat DPRD Sumenep edisi September 2025, ia memerintah sekitar 1744-1749. Karena masih berusia muda, pemerintahannya mendapat pendampingan dari sejumlah kerabat keraton.
Situasi berubah ketika perlawanan Ke’ Lesap meluas ke Sumenep. Sekitar 1749, pasukan Ke’ Lesap yang dipimpin Raden Buka berhasil memukul mundur kekuatan pemerintahan. Alza kemudian meninggalkan Sumenep menuju Surabaya. Peristiwa tersebut melekat pada julukan Pangeran Lolos.
Kepergiannya tidak semata-mata dapat dibaca sebagai tindakan melarikan diri. Ia dikisahkan mencari bantuan VOC untuk menumpas perlawanan dan berupaya memperoleh kembali kekuasaannya. Namun, upaya tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Setelah Raden Buka tewas dalam serangan balik yang dipimpin Raden Tirtanegara, paman Alza, VOC justru tidak mengizinkan Alza kembali menjadi adipati. Pemerintahan kemudian berada di tangan Raden Tirtanegara dan dilanjutkan Raden Ayu Rasmana Tirtanegara atau Ratu Tirtonegoro.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, terdapat empat pelajaran kepemimpinan yang relevan untuk direfleksikan dalam kehidupan organisasi mahasiswa (Ormawa).
1. Mundur Bukan Berarti Menyerah
Dalam kepemimpinan, mundur sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal, ada keadaan ketika seorang pemimpin perlu mengambil jarak untuk membaca situasi dan menyusun strategi baru.
Pangeran Lolos menghadapi tekanan yang membuat kekuatan pemerintahannya tidak lagi memadai. Keputusannya menuju Surabaya dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan peluang politik di tengah keadaan yang tidak menguntungkan.
Dalam organisasi mahasiswa, kemampuan membaca keadaan juga penting. Ketika program tidak berjalan atau konflik tidak kunjung selesai, mempertahankan cara lama bukan selalu pilihan terbaik. Ketua Ormawa perlu berani mengevaluasi langkahnya. Sebab, tujuan kepemimpinan bukan mempertahankan ego, melainkan memastikan organisasi tetap bergerak.
2. Membangun Kekuatan Membutuhkan Strategi
Keputusan Pangeran Lolos mencari bantuan VOC menunjukkan pentingnya dukungan dan jaringan dalam menghadapi konflik. Namun, dukungan dari kekuatan eksternal juga memiliki konsekuensi. Bantuan yang diperoleh tidak selalu memberikan kebebasan untuk menentukan hasil akhir.
Hal ini relevan bagi Ormawa. Hubungan dengan program studi, fakultas, BEM, maupun organisasi lain dapat membuka peluang kolaborasi dan memperkuat pelaksanaan program kerja.
Meski demikian, kerja sama tidak boleh menghilangkan kemandirian organisasi. Pemimpin harus mampu membangun relasi tanpa menyerahkan arah organisasi kepada kepentingan pihak lain. Strategi yang baik bukan hanya mengetahui siapa yang dapat membantu, tetapi juga memahami konsekuensi dari setiap kerja sama.
3. Jabatan Tidak Selalu Berarti Memiliki Legitimasi
Menariknya, meskipun Alza berupaya memperoleh kembali kekuasaannya dengan meminta bantuan VOC, ia tidak mendapatkan kembali jabatan adipati. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kekuatan politik dan legitimasi kekuasaan tidak selalu berjalan beriringan.
Dalam organisasi mahasiswa, legitimasi kepemimpinan juga tidak cukup dibangun melalui jabatan. Terpilih sebagai ketua memang memberikan kewenangan formal, tetapi kepercayaan anggota harus terus dirawat melalui tindakan.
Seorang ketua tidak boleh hanya hadir untuk kelompok yang mendukungnya. Ia harus mampu merangkul seluruh anggota, mengelola perbedaan, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan organisasi. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilihan, tetapi penghormatan dan kepercayaan harus diperjuangkan melalui kerja nyata.
4. Kepemimpinan Harus Menjamin Keberlanjutan
Peralihan pemerintahan setelah masa Pangeran Lolos memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah kekuasaan tidak berhenti ketika seorang pemimpin kehilangan kedudukannya. Ada figur lain yang kemudian melanjutkan pemerintahan.
Hal serupa berlaku dalam organisasi mahasiswa. Kepengurusan memiliki batas waktu, tetapi organisasi harus terus berjalan. Karena itu, keberhasilan seorang ketua tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana selama masa jabatannya.
Lebih penting adalah bagaimana ia membangun sistem yang dapat diteruskan oleh pengurus berikutnya. Dokumentasi program kerja, evaluasi kepengurusan, administrasi yang tertata, dan kaderisasi merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan. Organisasi yang kuat bukan organisasi yang bergantung pada satu figur, melainkan organisasi yang memiliki sistem dan keberlanjutan.
*Sejarah sebagai Cermin Kepemimpinan*
Meneladani Pangeran Lolos bukan berarti membenarkan seluruh keputusan politiknya, termasuk hubungannya dengan VOC. Sejarah tetap harus dibaca secara kritis karena setiap keputusan memiliki konteks dan konsekuensi.
Namun, kisahnya mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak selalu berlangsung dalam keadaan ideal. Ada tekanan, konflik, keterbatasan, dan keputusan sulit yang harus dihadapi. Dalam ruang lingkup Ormawa, mahasiswa tidak cukup hanya belajar memperoleh jabatan, tetapi juga mengelola kepercayaan, membangun kekuatan kolektif, menjaga independensi, dan menyiapkan keberlanjutan organisasi.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan sekadar tentang siapa yang berhasil menduduki posisi tertinggi. Kepemimpinan adalah tentang bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan kepercayaan, menghadapi tantangan, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Sumber bacaan:
1. Moelyono, Gatut Murniatmo, Herman Josep Wibowo, dan Salamun D. (1984-1985). Mengenal Sekelumit Kebudayaan Orang Madura di Sumenep. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Sekretariat DPRD Kabupaten Sumenep. (2025). Majalah Parlemen, Edisi September 2025, pembahasan sejarah pemberontakan Ke’ Lesap.






