Upaya Mereform Visi Theologi Positivisme Kader Umat dan Kader Bangsa

Oleh: MHR Shikkah Songge (NDPers Nasional)

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bagi setiap kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar dokumen historis organisasi, melainkan suatu keniscayaan ideologis yang wajib dipahami, diyakini, serta diterima sebagai landasan berpikir dan bertindak. NDP adalah “ruh” yang membentuk kesadaran kader, sekaligus paradigma yang membangun orientasi gerakan HMI dalam merespons perubahan sosial, politik, dan ekonomi bangsa.

Dalam konteks pemikiran modern, paradigma dapat dipahami sebagai sistem berpikir yang holistik dan sistematis yang menjadi dasar kerja perubahan menuju lahirnya peradaban baru. Sebagaimana Thomas Kuhn menegaskan bahwa paradigma merupakan struktur pengetahuan yang menentukan arah perkembangan suatu peradaban. Maka NDP tidak boleh dibaca sekadar teks pelatihan formal, melainkan sebagai kerangka filosofis dan ideologis yang membentuk konstruksi visi kader umat dan kader bangsa.

Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah NDP dapat disebut sebagai ideologi? Pertanyaan ini menjadi krusial, sebab ideologi tidak hanya berfungsi sebagai gagasan normatif, tetapi harus memiliki fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang jelas. Dengan kata lain, ideologi adalah sistem nilai yang mengandung pandangan tentang Tuhan, manusia, masyarakat, serta tujuan hidup yang harus diperjuangkan dalam ruang sosial.

NDP dan Aspek Ontologis: Tuhan sebagai Kausa Prima

Ontologi berbicara tentang apa yang dianggap ada, nyata, dan fundamental dalam kehidupan. Dalam kerangka NDP, aspek ontologis bertumpu pada keyakinan bahwa Allah adalah realitas absolut, sumber penciptaan langit, bumi, manusia, dan seluruh kosmos. Allah adalah kausa prima—penyebab pertama sekaligus pemilik otoritas mutlak atas kehidupan.

Manusia, dalam NDP, tidak ditempatkan sebagai makhluk yang sekadar hidup dan mati dalam lingkaran biologis, tetapi sebagai makhluk terbaik yang mengemban fungsi kekhalifahan. Fungsi ini berarti manusia wajib mengelola energi kehidupan, mengatur keseimbangan semesta, serta menghadirkan kemanfaatan sosial sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Dengan demikian, sejak awal NDP membangun prinsip bahwa kehidupan tidak bebas nilai. Hidup manusia adalah misi, bukan kebetulan. Maka kader HMI sejatinya dituntut memahami bahwa perjuangan organisasi bukan sekadar aktivitas sosial-politik, melainkan bagian dari amanah ketuhanan.

Aspek Epistemologi: Akal, Ilmu, dan Tugas Kesejarahan

Epistemologi adalah persoalan tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Dalam NDP, manusia dipandang sebagai makhluk istimewa karena dianugerahi akal, kesadaran moral, dan kemampuan berpikir kritis. Akal bukan hanya instrumen biologis, tetapi modal utama untuk membangun kemerdekaan berpikir.

Inilah titik pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Akal memungkinkan manusia mengembangkan kreativitas, inovasi, dan keberanian moral untuk menegakkan kebenaran di tengah ketidakadilan. NDP menegaskan bahwa manusia adalah pelaku sejarah. Artinya, perubahan sosial bukanlah takdir yang jatuh dari langit tanpa peran manusia, tetapi hasil dari tindakan manusia yang sadar.

Karena itu, kader HMI tidak boleh menjadi generasi fatalistik, pasrah, atau hanya menjadi penonton perubahan. Ia harus menjadi aktor sejarah yang menafsirkan realitas dan mengubahnya melalui kerja intelektual dan kerja sosial.

Aspek Aksiologi: Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi

Aksiologi adalah persoalan tujuan dan nilai guna dari suatu sistem pemikiran. Dalam NDP, tujuan hidup manusia tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, melainkan bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun NDP juga menegaskan bahwa kebahagiaan akhirat tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab dunia.

Keadilan sosial dan keadilan ekonomi merupakan orientasi perjuangan kader. Ini berarti kader HMI harus hadir dalam ruang publik sebagai pembela kaum tertindas, penolak ketimpangan, dan penegak keadilan.

Dengan demikian, NDP tidak dapat dituduh sebagai dokumen yang “melangit” tanpa pijakan sosial. Justru nilai paling nyata dari NDP adalah panggilan perjuangan agar kader HMI menjadi agen transformasi, bukan sekadar pemilik identitas organisasi.

NDP dan Krisis Pemahaman Kader: Filosofis atau Tidak Relevan?

Dewasa ini, NDP menuai kritik bahkan dari kader HMI sendiri. Kritik tersebut umumnya berbunyi: NDP terlalu filosofis, terlalu abstrak, tidak pragmatis, dan kehilangan relevansi terhadap realitas perubahan bangsa. Banyak kader menilai NDP tidak aplikatif dalam menghadapi problem konkret seperti kemiskinan, pengangguran, konflik horizontal, ketidakadilan hukum, hingga krisis pangan.

Kritik ini memang perlu dihargai sebagai bentuk kepedulian. Namun perlu ditegaskan bahwa masalahnya seringkali bukan pada NDP, melainkan pada cara kader membaca NDP. Sebab NDP bukan teks yang selesai pada dirinya sendiri. NDP membutuhkan kemampuan interpretasi, metodologi analisis sosial, dan keberanian intelektual untuk menghubungkan nilai dasar dengan realitas empiris.

Ketika kader tidak memiliki alat analisis yang kuat, maka NDP akan terlihat kabur, jauh, bahkan “tidak berguna”. Padahal, ideologi selalu membutuhkan pembacaan ulang agar tetap hidup.

Urgensi Metodologi: Membaca NDP sebagai Teks Perjuangan

Metodologi adalah instrumen intelektual yang memudahkan manusia memahami realitas. Tanpa metodologi, sebuah teks hanya akan menjadi dokumen mati. Bahkan, pembacaan tanpa metode sering menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.

NDP sebagai teks ideologis harus dibaca dengan metode yang tepat. Sebab NDP tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dipengaruhi oleh situasi sosial, ideologi global, dinamika politik, serta krisis umat Islam. Karena itu, pemahaman NDP membutuhkan kesadaran sejarah dan kemampuan membaca konteks sosial.

Ketika metodologi tidak dimiliki, kader akan terjebak pada pragmatisme dangkal. Kader hanya ingin hasil cepat, tetapi tidak mampu membangun fondasi pemikiran. Akibatnya, HMI kehilangan arah perjuangan dan kader kehilangan identitas ideologisnya.

Tinjauan Historis: NDP sebagai Produk Kegelisahan Intelektual

NDP sejak awal merupakan gagasan besar Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ia lahir dari kegelisahan seorang intelektual muda yang menyaksikan pertarungan ideologi besar dunia: kapitalisme, sosialisme, Islam, dan nasionalisme. Cak Nur menyadari bahwa bangsa Indonesia tidak mungkin membangun peradaban tanpa dasar filosofis yang kuat.

Gagasan NDP kemudian disempurnakan secara redaksional oleh tim yang direkomendasikan kongres, namun substansi ideologisnya tetap sama. Dalam konteks ini, NDP adalah alat integrasi yang menyatukan dua agenda besar HMI: agenda keumatan dan agenda kebangsaan.

HMI sejak awal tidak pernah memisahkan kedua agenda tersebut. Dakwah Islam tidak mungkin tegak tanpa kedaulatan politik bangsa. Dan kedaulatan bangsa tidak akan bermakna tanpa nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. NDP hadir untuk menjembatani dialektika itu.

NDP sebagai Basic Construction: Membentuk Kader Universal

NDP berfungsi sebagai basic construction untuk membangun cara pandang kader dari pola pikir sempit seperti etnosentrisme, patronalisme, dan eksklusivisme menuju pola pikir universal. Kader HMI harus menjadi kader yang merdeka berpikir, merdeka bersikap, dan merdeka dalam memperjuangkan nilai.

Indikator kemodernan kader terlihat pada keberanian membebaskan diri dari sekat-sekat primordial yang membelenggu kemanusiaan. Kader modern adalah kader yang kritis, inovatif, serta berpihak pada nilai kebenaran universal.

Dalam konteks inilah NDP menjadi fondasi untuk membangun kader HMI sebagai manusia yang mampu melahirkan ide, mengubah ide menjadi teori, lalu menggerakkan teori menjadi aksi sosial.

Theologi Positivisme: Reformulasi Arah Perjuangan Kader

Diskursus penting dalam naskah ini adalah tentang “theologi positivisme”. Dalam pandangan Auguste Comte, sejarah peradaban manusia bergerak dari mistisisme, teologisme, menuju positivisme. Positivisme adalah era ilmu pengetahuan dan teknologi yang menempatkan rasionalitas dan empirisme sebagai alat utama pembangunan.

Namun positivisme ala Comte bersifat materialistik karena menolak dimensi metafisik. Di sinilah tantangan kader HMI. HMI tidak boleh menerima positivisme secara mentah, tetapi harus mereformnya melalui kerangka teologi Islam.

Dalam konteks ini, Kuntowijoyo menawarkan jalan tengah: Al-Qur’an tidak cukup dibaca sebagai teks mistik atau alat ideologi politik, tetapi harus dibaca sebagai ide transformatif. Artinya, wahyu harus ditafsirkan menjadi gagasan sosial, teori perubahan, dan blueprint pembangunan peradaban.

Maka theologi positivisme yang dimaksud bukan menolak Tuhan, melainkan menegaskan bahwa iman harus melahirkan ilmu, dan ilmu harus melahirkan perubahan sosial.

NDP sebagai Metode Transformasi Peradaban

Jika NDP dipahami secara utuh, maka ia bukan dokumen pelatihan semata, melainkan metode transformasi peradaban. NDP mendorong kader HMI melakukan dialektika transendental antara:

Kalam Kauniyah (alam semesta dan realitas sosial)
Kalam Qauliyah (wahyu dan ajaran Tuhan)

Dari dialektika ini lahir ide, teori, dan praksis perubahan. Kader HMI harus mampu mengartikulasikan nilai absolut ketuhanan dalam bentuk kebijakan sosial yang konkret: pengentasan kemiskinan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, pembangunan ekonomi rakyat, dan pembelaan terhadap kaum lemah.

Inilah makna kader umat dan kader bangsa yang sesungguhnya.

Penutup: NDP sebagai Jalan Kaderisasi Peradaban

Maka NDP adalah kemestian ideologis. Ia bukan teks mati yang kehilangan relevansi, melainkan sumber nilai yang harus terus dihidupkan melalui pembacaan metodologis. Ketika kader HMI menguasai alat analisis sosial dan memiliki keberanian intelektual, NDP akan tampil sebagai kekuatan yang sangat modern, sangat aplikatif, dan sangat relevan.

Krisis yang dialami kader hari ini bukanlah krisis NDP, tetapi krisis penguasaan metodologi dan krisis keberanian berpikir. Karena itu, pelatihan NDP bukan sekadar rutinitas perkaderan, melainkan momentum membangun kader yang mampu menyalakan kembali api perjuangan HMI sebagai gerakan ide dan gerakan peradaban.

Pada akhirnya, kader HMI harus menyadari bahwa perjuangan adalah identitas. Dan identitas kader tidak terletak pada simbol organisasi, melainkan pada kualitas kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Jadikan hidup sebagai ikhtiar.
Jadikan ikhtiar sebagai perjuangan.
Jadikan perjuangan sebagai pengabdian.
Jadikan pengabdian sebagai ibadah.

*(Materi disampaikan dalam Training Raya HMI Cabang Ternate 2026)