Oleh: Dr. Imamuddin Nahrawi, Dosen di Departemen Fiqh-Usul & Sains Gunaandi Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Malaysia

Email: imamuddin@um.edu.my

Jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini, Rasulullah memberikan banyak pengajaran kepada kita.

Salah satu yang menjadi sorotan utama pada masa kini adalah sebuah hadits mengenai apa yang terjadi dalam kalangan manusia di akhir zaman, yaitu sebagaimana berikut:

إنَّ اللهَ لا يَقبِضُ العِلمَ انتِزاعًا يَنتَزِعُه مِنَ العِبادِ، ولَكِن يَقبِضُ العِلمَ بقَبضِ العُلَماءِ، حتّى إذا لَم يُبقِ عالِمًا اتَّخَذَ النّاسُ رُؤوسًا جُهّالًا، فسُئِلوا فأفتَوا بغيرِعِلمٍ، فضَلُّوا وأضَلُّوا
الراوي: عبدالله بن عمرو • البخاري، صحيح البخاري (١٠٠) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٦٧٣)

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.

Hingga apabila tidak lagi tersisa seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya (tentang agama), maka mereka berfatwa tanpa ilmu.

Akibatnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain).” (HR. Al-Bukhari wa Muslim)
Dahulu, saat kita mengkaji hadits riwayat Abdullah bin Amru bin Al-Ash tentang “diangkatnya ilmu”, kita mungkin membayangkannya sebagai peristiwa eskatologis yang jauh di masa depan.

Sebagai akademisi, seringkali muncul pertanyaan skeptis: bagaimana mungkin di tengah ledakan literasi digital dan kemudahan akses data, ilmu bisa hilang dari peradaban?

Namun, melihat fenomena global hari ini, saya menyadari bahwa apa yang disabdakan Rasulullah SAW bukan lagi sekadar teks klasik dalam kitab hadits, ia telah menjadi kenyataan sosiologis yang sangat nyata dan mencemaskan, mencakup ranah spiritual maupun kepemimpinan publik.

Wafatnya Ilmuwan: Hilangnya Rantaian Sanad Keilmuan Manusia Terutama dalam Bab Agama

Hadits tersebut menegaskan bahwa Allah SWT tidak menarik ilmu secara mekanis, melainkan melalui “qabdhu al-ulama” (wafatnya para ulama).

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar kompilasi informasi, melainkan “malakah” (keahlian mendalam alias kepakaran) untuk menghubungkan teks wahyu dengan realitas yang kompleks.

Ketika satu per satu ulama yang memiliki kedalaman ilmu wafat, kita kehilangan “kompas” sebagai panduan hidup.

Kita memiliki akses ke jutaan kitab digital, namun kita kehilangan ruh pemahaman yang benar.

Kekosongan otoritas ini kemudian diisi oleh sosok-sosok yang haus panggung namun miskin substansi.

Pemimpin Agama dan Rakyat: Simbiosis Kebodohan

Peringatan Nabi Muhammad SAW bahwa manusia akan mengangkat “ru’usan juhhalan” (pemimpin-pemimpin yang bodoh) kini mewujud dalam dua pilar utama kehidupan kita:

1. Pemimpin Agama yang Menyesatkan: Di era media sosial, tidak sedikit otoritas agama bergeser dari kedalaman ilmu ke jumlah pengikut.

Kita melihat lahirnya “ustadz instan” yang berfatwa tanpa metodologi (manhaj) yang jelas.

Mereka memberikan solusi agama yang dangkal namun populer, yang pada akhirnya bukan membimbing umat menuju Allah, melainkan menuju fanatisme buta dan perpecahan. Inilah realita “fa dhallu wa adhallu” mereka sesat dalam berpikir dan menyesatkan pengikutnya.

2. Pemimpin Rakyat yang Jahil: Bahaya ini meluber ke ranah kepemimpinan publik.

Ketika masyarakat sudah terbiasa memuja popularitas di atas kualitas, mereka akan memilih pemimpin rakyat yang hanya mengandalkan gimik dan retorika tanpa kecakapan administratif maupun integritas moral.

Pemimpin yang bodoh (secara etika maupun kompetensi) akan melahirkan kebijakan yang merusak kehidupan orang banyak, karena mereka mengambil keputusan bukan berdasarkan ilmu pengetahuan atau kemaslahatan, melainkan berdasarkan nafsu kekuasaan dan kepentingan sesaat.

Dampak Sistemik: Kesesatan Berjamaah

Konsekuensi fatal dari kepemimpinan yang jahil ini adalah krisis kepercayaan terhadap kebenaran ilmu pengetahui yang memiliki sumber kekuatan secara akademik bahkan kokoh mengikut pandangan agama.

Masyarakat kini lebih cenderung terpikat oleh narasi instan yang emosional daripada merujuk pada kajian mendalam para pakar.

Oleh karena itu, agama menjadi “alat legitimasi”. Pemimpin yang bodoh menggunakan tokoh agama yang menyesatkan untuk membenarkan tindakan mereka.

Agama yang seharusnya menjadi sumber kebenaran dan keadilan kadangkala disalahgunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Pemimpin yang lemah dari segi ilmu dan integriti cenderung mencari pembenaran melalui tokoh agama yang sanggup menyokong mereka, walaupun dengan tafsiran yang menyimpang.

Akibatnya, agama digunakan untuk membenarkan kepentingan tertentu, bukan untuk menegakkan kebenaran, sehingga masyarakat mudah terkeliru antara ajaran agama yang tulen dan manipulasi kepentingan.

Terakhir, kita wajib menghidupkan kembali marwah ilmu. Tantangan kita hari ini bukan soal ketersediaan informasi, melainkan soal penjagaan otoritas.

Kita harus menyadarkan publik bahwa kepemimpinan baik dalam urusan agama maupun urusan rakyat adalah amanah yang menuntut prasyarat ilmu.

Sebelum ilmu benar-benar “diangkat” dari kehidupan kita, sudah saatnya kita kembali menghargai hirarki keilmuan.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang membiarkan kebodohan memandu arah masa depan umat, karena kehancuran sebuah kaum seringkali dimulai ketika orang bodoh dipercaya untuk mengatur urusan orang banyak.