Tema Hari Pers Nasional 2026, “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, terdengar gagah dan penuh gizi. Sehat, berdaulat, kuat. Tiga kata yang biasanya muncul bersamaan dengan pose tangan mengepal dan senyum optimistis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun seperti kata iklan jamu, khasiatnya baru terasa kalau benar-benar diminum, bukan sekadar dibaca di spanduk. Sebab di lapangan, pers kita kadang terlihat sehat di poster, tetapi ngos-ngosan di praktik.

Pers dikenal sebagai profesi yang kritis. Bahkan saking kritisnya, kalau tidak mengkritik rasanya bukan pers. Ada yang bilang, jurnalis yang tidak kritis itu seperti kopi tanpa kafein, meski tetap diminum, tapi hambar. Masalahnya, tidak semua kritik otomatis sehat. Ada kritik yang mencerahkan, ada pula kritik yang sekadar bikin ribut, dan ada juga kritik yang — ini istilah bercanda — entah kenapa berhenti setelah “transfer” tertentu terjadi.

Istilah “kritik transfermasif” ini pertama kali saya dengar dari seorang teman. Santai saja, ini bukan istilah ilmiah, bukan pula temuan riset. Murni plesetan. Candaan warung kopi. Teman saya bahkan bilang, “Ini cuma bercanda.” Tapi seperti banyak candaan lain, kita tertawa bukan karena lucunya semata, melainkan karena ada rasa tidak enak di dada. Kok kayaknya kita pernah lihat yang begini, atau jangan-jangan kita demikian? Kita pun tertawa lagi.

Kritik transfermasif, dalam versi bercandanya, adalah pola di mana seseorang, entah wartawan, entah pengamat, entah siapa sajalah, sangat aktif mengkritik. Tulisannya rajin, nadanya tajam, pilih katanya garang. Setiap hari ada saja yang disorot. Publik bertepuk tangan. “Wah, berani juga ini orang,” kata netizen.

Namun tiba-tiba, kritik itu berhenti. Senyap. Bukan karena masalahnya selesai, bukan pula karena klarifikasi memuaskan. Tapi entah kenapa, suasana mendadak adem. Sejuk. Damai. Seperti hujan yang reda setelah awan menerima sesuatu. Sekali lagi, ini hanya plesetan. Tapi masalahnya, plesetan ini terlalu sering terasa masuk akal.

Dalam konteks ideal, kritik pers seharusnya bersifat kritis dan transformatif. Kritik yang tidak hanya menunjuk kesalahan, tetapi juga membantu publik memahami akar persoalan. Kritik yang tidak berhenti pada marah-marah, tetapi mendorong perubahan. Kritik yang konsisten, meski tidak populer dan tidak menguntungkan. Kritik yang, meminjam istilah Paulo Freire, lahir dari kesadaran kritis.

Freire membedakan kesadaran manusia dalam beberapa tingkatan. Ada kesadaran magis, yang melihat masalah sebagai takdir. Ada kesadaran naif, yang melihat masalah tetapi menyederhanakannya secara dangkal. Dan ada kesadaran kritis, yang memahami bahwa persoalan sosial lahir dari struktur, relasi kuasa, dan sistem yang timpang. Pers yang bekerja dengan kesadaran kritis tidak sekadar menyalahkan individu, tetapi membongkar sistem. Tidak hanya berteriak, tetapi mengajak berpikir.

Masalahnya, tidak semua kritik lahir dari kesadaran kritis. Sebagian kritik justru lahir dari kesadaran pragmatis, gampangnya, apa yang bisa didapat setelah ini? Di sinilah kritik kehilangan daya transformasinya. Ia menjadi alat, bukan lagi nilai. Ia menjadi strategi, bukan lagi sikap etik.

Realitas ini membuat publik bingung. Hari ini pers mengkritik keras, besok diam seribu bahasa. Hari ini suatu kebijakan disebut biadab, besok disebut bijak. Publik pun bertanya-tanya, ini yang ugal dan gila kebijakannya, atau sudut pandangnya? Atau jangan-jangan, yang berubah adalah saldo?

Tidak adil tentu jika semua wartawan digeneralisasi. Banyak jurnalis yang bekerja jujur, idealis, dan konsisten meski hidup pas-pasan. Namun publik tidak menilai profesi dari niat, melainkan dari pola. Dan pola-pola menyimpang yang dilakukan oleh oknum, cepat atau lambat, mencoreng profesi secara keseluruhan.

Inilah sebabnya mengapa pers dan jurnalis kerap masuk daftar profesi yang tingkat kepercayaannya rendah. Bukan karena publik anti-kritik, tetapi karena publik muak dengan kritik yang inkonsisten.

Dalam suasana seperti ini, tema “Pers Sehat” menjadi ironi yang pahit sekaligus lucu. Pers yang sehat seharusnya alergi terhadap kompromi etik. Ia mungkin miskin secara ekonomi, tetapi kaya secara integritas. Pers yang sehat tidak mengkritik karena ada pesanan, dan tidak berhenti mengkritik karena ada transfer. Ia konsisten, meski sepi tepuk tangan.

Kritik transfermasif, meski hanya plesetan, seharusnya cukup membuat kita tersipu. Sebab lelucon paling menyakitkan adalah lelucon yang mendekati kebenaran. Jika pers ingin kembali dipercaya, maka yang dibutuhkan bukan kritik yang lebih keras, melainkan kritik yang lebih jujur. Bukan kritik yang paling viral, tetapi kritik yang paling konsisten.

Hari Pers seharusnya bukan hanya perayaan, melainkan juga introspeksi. Sebab pers yang kuat bukanlah pers yang paling berisik, melainkan pers yang paling bisa dipercaya. Dan kepercayaan, seperti kesadaran kritis ala Freire, tidak pernah lahir dari transfer—apalagi yang masif.