“Wardi, jangan lelah membaca, menulis, dan berdiskusi,” wasiat intelektual Moh. Mashur Abadi

Oleh: Moh. Wardi

Saya mengenal Drs. Moh. Mashur Abadi, M.Fil.I. pertama kali bukan sebagai tokoh besar, budayawan, ataupun intelektual yang kelak saya pahami keluasan ilmunya. Saya mengenal beliau sebagai dosen Bahasa Inggris II di STAIN Pamekasan pada tahun 2003, ketika saya masih menjadi mahasiswa semester awal yang pasif, belum banyak memahami peta dunia akademik, dan belum sepenuhnya mengerti bahwa bahasa merupakan pintu menuju peradaban ilmu.

Mata kuliah yang beliau ajarkan saat itu adalah Bahasa Inggris II dengan tema translation about religion. Bagi mahasiswa baru seperti saya, materi tersebut terasa berat. Bahasa Inggris sehari-hari saja sudah menjadi tantangan, apalagi ketika dikaitkan dengan tema-tema keagamaan yang membutuhkan ketelitian makna dan kemampuan memahami teks secara mendalam. Di kelas itu, saya lebih banyak diam. Namun, ada satu nasihat beliau yang hingga hari ini masih terngiang di telinga saya, “Wardi, menjadi mahasiswa harus fasih berbahasa.” Kalimat itu sederhana, tetapi bagi saya sangat mengguncang.

Saat itu, perasaan saya seperti hancur. Saya merasa tidak pantas menyandang status sebagai mahasiswa. Saya sadar bahwa menjadi mahasiswa tidak cukup hanya hadir di kelas, mencatat, lalu pulang—mahasiswa kupu-kupu. Dunia akademik menuntut keberanian untuk membuka teks, memahami bahasa, dan menembus batas pengetahuan. Nasihat Pak Mashur menjadi cambuk bagi saya.

Pada masa liburan kampus, saya memberanikan diri mengikuti kursus bahasa. Target saya sederhana, setidaknya mampu membaca dan menerjemahkan materi kuliah Pak Mashur. Dari situlah saya mulai merasakan perubahan. Alhamdulillah, pada semester kedua saya mampu mengambil 24 SKS yang pada masa itu dianggap sebagai capaian mahasiswa terbaik. Bagi saya, capaian tersebut bukan sekadar angka akademik, melainkan buah dari nasihat yang lahir dari ketulusan seorang guru dan dosen.

Pertemuan terakhir saya dengan beliau terjadi pada 22 Juni 2022 di UIN Madura. Dalam perjumpaan itu, beliau berpesan dengan nada tenang, tetapi sangat membekas, “Wardi, jangan lelah membaca, menulis, dan berdiskusi.” Kini, kalimat itu saya rasakan bukan sekadar nasihat, melainkan wasiat intelektual.

Membaca adalah jalan untuk merawat iman dan kesadaran; menulis adalah jalan untuk mengabadikan ilmu; dan berdiskusi adalah jalan untuk menghidupkan amal dalam ruang sosial. Tiga hal itu menjadi inti dari laku seorang akademisi sekaligus kader: beriman dengan kesadaran, berilmu dengan kedalaman, dan beramal dengan kebermanfaatan. Dalam bahasa perjuangan HMI, pesan itu adalah Yakusa—yakin usaha sampai—sebuah ajakan untuk tidak lelah bergerak di jalan ilmu dan pengabdian.

Pak Mashur adalah sosok yang menunjukkan loyalitas terhadap keilmuan, keseriusan dalam membaca, ketekunan dalam menerjemahkan, serta kesabaran dalam membimbing mahasiswa agar mencintai ilmu. Beliau dikenal memiliki penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris yang kuat. Kemampuan itu tidak berhenti sebagai keterampilan teknis, melainkan menjadi jalan intelektual.

Beliau pernah menerjemahkan karya pemikiran Mohammed Arkoun, sebuah kerja akademik yang tentu membutuhkan ketelitian bahasa, kedalaman filsafat, dan keberanian memasuki wilayah pemikiran Islam kontemporer. Beliau juga menjadi bagian dari tim penerjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Madura. Hal ini menarik sebab beliau berasal dari Lamongan, tetapi memiliki komitmen besar terhadap pelestarian bahasa dan budaya Madura, bahkan terasa lebih Madura daripada orang Asmad (asli Madura).

Kecintaan beliau terhadap Madura juga tampak melalui perintisan Jurnal Karsa, sebuah jurnal yang sejak awal memiliki kekhasan dalam kajian kemaduraan yang dikenal dengan istilah “madurologi”. Kini, jurnal tersebut telah bertransformasi menjadi jurnal bereputasi internasional dan terindeks Scopus. Bagi saya, hal itu merupakan bukti bahwa kerja sunyi seorang akademisi dapat menjadi fondasi besar bagi generasi setelahnya. Pak Mashur tidak hanya meninggalkan tulisan, tetapi juga membangun infrastruktur ilmu.

Dalam dunia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-KAHMI), saya mengenal beliau sebagai senior yang konsisten menjaga tradisi intelektual hijau hitam. Beliau merupakan alumni HMI IAIN Sunan Ampel Surabaya angkatan 1985—1989. Ketika saya menjadi kader HMI pada tahun 2003, beliau kerap hadir mengisi kajian ilmiah di komisariat dan Latihan Kader I (LK I). Beliau adalah tipe senior yang selalu membawa kader pada kedalaman berpikir serta mengajak kami membaca realitas secara kritis. Bersama sahabat intelektualnya, Dr. Edi Susanto, M.Fil.I., Pak Mashur turut merawat HMI sebagai ruang kaderisasi pemikiran.

Sebagai dosen, beliau juga menunjukkan kesetiaan pada riset dan kerja akademik yang mungkin tidak populer, tetapi sangat penting. Perhatian beliau terhadap transliterasi manuskrip naskah kuno di Kabupaten Pamekasan menunjukkan kepedulian terhadap warisan intelektual lokal. Di sisi lain, karya seperti Analysis of the Use of Relative Clauses in Leila Aboulela’s Minaret Novel: A Grammatical Approach memperlihatkan keluasan minat akademiknya, mulai dari manuskrip klasik hingga kajian bahasa dan sastra modern.

Kepercayaan yang diberikan kepada beliau untuk menjabat di LPPM UIN Madura pada masa rektor yang berbeda, baik pada era Prof. Kosim maupun Dr. Saiful Hadi, menunjukkan integritas dan kapasitas pengabdian beliau. LPPM bukan sekadar ruang administratif, melainkan medan pengabdian akademik, penelitian, publikasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pak Mashur menjalankan peran itu dengan ketekunan seorang ilmuwan dan cendekiawan.

Kini, beliau telah berpulang. Namun, nasihat, karya, dan keteladanannya tetap hidup. Bagi saya, Pak Mashur Abadi adalah guru bahasa, senior HMI-KAHMI, intelektual, filsuf, penerjemah, sekaligus penggerak jurnal. Dari beliau, kita belajar bahwa loyalitas terhadap keilmuan bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup yang ditempuh dengan tekun, istiqamah, dan penuh nuansa dialogis.