Oleh: Siti Ainiyah (Kader LPI HMI Komisariat Al-Khairat Cabang Pamekasan)

Pancasila lahir bukan sekadar sebagai rumusan ideologi, melainkan janji suci para pendiri bangsa untuk menciptakan Indonesia yang satu, berdaulat, adil, dan makmur. Lima sila yang tertuang di dalamnya bukanlah sekadar kalimat indah di buku pelajaran atau tulisan hiasan di dinding sekolah dan kantor negara.

Pancasila adalah dasar, panduan, sekaligus kompas moral bagi seluruh rakyat Indonesia dalam berpikir, bertindak, dan hidup berdampingan. Ia adalah jati diri kita; identitas yang membedakan bangsa ini dari bangsa lain di dunia.

Namun, jika kita menatap realitas hari ini, pertanyaan besar muncul, “Sudah sejauh mana kita menghidupkan nilai-nilai itu atau hanya sekadar mengingat bunyinya?”

Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, Pancasila justru sedang diuji beratnya. Kita menyaksikan bagaimana Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kerap kali ternoda oleh tindakan atas nama agama yang justru memecah belah. Fanatisme sempit, ujaran kebencian, hingga intoleransi menyebar begitu cepat, terutama di ruang digital.

Padahal, esensi sila ini mengajarkan kita beriman dengan cara saling menghormati, bahwa keberagaman keyakinan adalah sunnatullah yang wajib dijaga, bukan diperdebatkan.

Lalu, Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, rasanya semakin sulit ditemukan di tengah kehidupan sosial kita. Kita masih sering melihat ketimpangan: di satu sisi kemewahan menumpuk, di sisi lain rakyat kecil masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Masih ada diskriminasi, perlakuan tidak adil, dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi seolah-olah “manusia” itu tingkatan kelasnya berbeda-beda. Kita lupa bahwa di hadapan bangsa dan negara, kita semua adalah sama: manusia yang bermartabat.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, adalah tantangan terbesar saat ini. Di era media sosial, informasi menyebar tanpa filter, perbedaan pendapat diubah menjadi permusuhan, dan perbedaan pilihan politik dijadikan alasan untuk bermusuhan. Solidaritas menipis, ego kelompok menguat.

Kita lupa bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman ribuan pulau, ratusan suku, dan berbagai budaya. Persatuan bukan berarti menjadi sama, melainkan bersatu dalam perbedaan. Jika persatuan retak, maka bangsa ini hanyalah bangsa tanpa fondasi, mudah runtuh oleh guncangan kecil sekalipun.

Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, kini sering kali terasa hambar. Demokrasi kita kadang terasa hanya sekadar prosedur: memilih, lalu menyerahkan segalanya. Suara rakyat sering kali terdengar lirih dibandingkan suara kekuasaan.

Musyawarah yang seharusnya menjadi jalan tengah bergeser menjadi pertarungan siapa yang paling kuat, siapa yang paling banyak pendukung, dan siapa yang menang mutlak tanpa mendengar pihak lain. Padahal, inti sila ini adalah berdiskusi, mendengar, dan mencari solusi terbaik bersama demi kepentingan bersama.

Dan terakhir, Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Inilah cita-cita tertinggi, namun menjadi hal yang paling jauh dari jangkauan. Masalah ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, hingga kesempatan berkarya masih belum merata. Rasanya keadilan sosial masih menjadi “mimpi indah” yang terus dikejar, namun pelaksanaannya masih jauh dari harapan.

Keadilan sosial bukan berarti semua harus sama rata, melainkan semua rakyat berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju, berkembang, dan hidup layak.

Lantas, bagaimana jika kita kaitkan dengan kejadian sekarang?

Nah, jika kita menelisik peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, nyatanya hampir seluruh masalah bangsa kita berakar dari menjauhnya kita dari nilai Pancasila.

1. Polarisasi dan Perpecahan Sosial

Pasca-masa politik kemarin hingga hari ini, luka perpecahan belum benar-benar sembuh. Masyarakat masih terkotak-kotak, saling serang, dan sulit menerima perbedaan pendapat. Hal ini jelas bertentangan dengan Sila Ketiga. Kita lebih mementingkan kelompok atau identitas masing-masing daripada kepentingan bangsa. Padahal, Pancasila mengajarkan kita untuk tetap bersatu walau berbeda pandangan.

2. Intoleransi dan Eksklusivisme

Masih sering kita dengar atau baca kasus penolakan tempat ibadah, diskriminasi terhadap suku atau agama tertentu, hingga ujaran kebencian yang viral di media sosial. Ini merupakan pelanggaran nyata terhadap Sila Pertama dan Kedua. Kita mengaku bangsa yang berketuhanan dan beradab, namun tindakan kita justru menunjukkan sebaliknya. Kita lupa Indonesia adalah rumah bersama bagi segala perbedaan.

3. Ketimpangan dan Kesenjangan Ekonomi

Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, sementara di sisi lain korupsi masih terjadi dan kekayaan negara dinikmati segelintir orang. Ini adalah bukti bahwa Sila Kelima belum benar-benar ditegakkan. Keadilan sosial belum terasa merata. Rakyat masih merasa bahwa hukum dan kebijakan sering kali lebih berpihak kepada yang memiliki kuasa dan uang, bukan kepada rakyat kecil.

4. Menurunnya Etika dan Moralitas

Kita menyaksikan bagaimana pemimpin, pejabat, hingga tokoh publik sering kali bertindak semena-mena, melanggar aturan, dan lupa tanggung jawab. Masyarakat pun ikut tergerus budayanya: semaunya sendiri, tidak mengantre, tidak taat aturan, hingga mudah melakukan kekerasan. Ini menandakan bahwa kita meninggalkan Sila Kedua dan Keempat yang mengajarkan tentang tata krama, kemanusiaan, dan kebijaksanaan.

Bagaimana Jejak dan Peran Madura dalam Pancasila?

Berbicara tentang menjaga nilai luhur ini, kita tak bisa melupakan peran besar masyarakat Madura yang sejak dahulu menjadi salah satu pilar kokoh penyokong keutuhan NKRI. Bagi masyarakat Madura, Pancasila bukan sekadar ajaran negara, melainkan napas kehidupan yang sudah melekat dalam darah dan budaya mereka.

Nilai Sila Pertama tercermin kuat dalam kehidupan orang Madura yang religius. Di setiap sudut kampung, masjid dan tafaqquh fiddin menjadi pusat kehidupan. Semangat beragama yang kental, toleransi antarumat beragama yang terjaga, dan ketaatan kepada Sang Pencipta adalah bukti nyata bagaimana masyarakat Madura menempatkan Tuhan di atas segalanya.

Semangat Sila Kedua dan Ketiga tertuang dalam prinsip luhur “Bhupa’ Bhuppa’ Rato Eh Rato”, yang artinya: hormati orang yang memimpin, hargai orang yang dituakan, dan hargai sesama manusia. Nilai ini mengajarkan kita untuk saling menghormati, menghargai martabat orang lain, dan menolak permusuhan.

Jiwa merantau orang Madura adalah bukti nyata cinta persatuan; mereka pergi ke seluruh penjuru Nusantara, berbaur, bekerja keras, hidup rukun dengan suku lain, dan membawa semangat persatuan ke mana pun kaki melangkah. Bagi orang Madura, berbeda tempat, berbeda adat, dan berbeda pandangan, tetaplah satu saudara di bawah bendera Indonesia.

Kemudian, Sila Keempat hidup dalam tradisi musyawarah dan ketaatan pada pemimpin yang benar. Budaya kera’en (kepemimpinan) dan kepatuhan pada kesepakatan bersama adalah cerminan demokrasi asli yang tumbuh di tengah masyarakat Madura. Keputusan diambil bersama, didengar pendapatnya, lalu dijalankan dengan loyalitas tinggi.

Dan tentang Sila Kelima, masyarakat Madura dikenal dengan jiwa gotong royongnya yang luar biasa. Tradisi seperti robongan, di mana warga bahu-membahu membangun rumah, panen, atau membantu tetangga yang tertimpa musibah, adalah definisi nyata dari keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Tidak ada orang yang dibiarkan jatuh sendirian, tidak ada yang lapar sementara tetangganya berkecukupan.

Inilah bukti bahwa Madura adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa Pancasila. Karakter Madura yang teguh, berani, setia, religius, dan suka menolong adalah wujud nyata dari Pancasila yang tidak hanya dihafal, tetapi dihidupkan.

Memperingati Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremonial, upacara bendera, atau membagikan poster ucapan. Peringatan ini adalah momen untuk bercermin: Apa yang sudah kita berikan untuk bangsa ini? Apakah kita menjadi bagian yang memperkuat Pancasila atau justru menjadi bagian yang meruntuhkannya?

Pancasila tidak akan bisa menjaga Indonesia jika kita, rakyatnya, tidak menjaga Pancasila itu sendiri. Mari kita jadikan Pancasila bukan hanya sebagai hafalan masa sekolah, melainkan gaya hidup, cara berpikir, dan landasan bertindak. Seperti semangat leluhur kita, termasuk semangat orang Madura yang teguh memegang prinsip, setia pada janji, dan cinta tanah air.

Mulailah dari hal kecil: menghargai pendapat orang lain, bersikap adil, tidak menyebarkan kebencian, mematuhi aturan, dan saling bergotong royong. Karena hanya dengan menghidupkan nilai Pancasila dalam setiap napas kehidupan kita, kita benar-benar bisa mewujudkan negeri yang berdaulat, adil, dan makmur seperti cita-cita para pendiri bangsa.

“Pancasila bukan hanya warisan leluhur, tetapi amanah untuk dijaga, dihidupkan, dan diwariskan.”

Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni