Oleh: Jbril Thareq Nadwi, Kader HMI Komisariat UPI Sumenep

HMI telah melewati perjalanan sejarah yang panjang sebagai organisasi kader yang melahirkan banyak intelektual dan pemimpin bangsa. Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang perlu dijawab bersama: ke mana arah HMI hari ini?

Apakah HMI masih menjadi organisasi perjuangan yang berpihak kepada rakyat, atau mulai kehilangan daya kritisnya? Pertanyaan ini bukan untuk meragukan eksistensi HMI, melainkan sebagai bahan refleksi. Sebab, organisasi sebesar apa pun akan kehilangan makna jika berhenti mengoreksi dirinya sendiri.

Di era digital, informasi begitu mudah diakses, tetapi kemampuan berpikir kritis justru semakin menurun. Apakah HMI berhasil melahirkan kader yang mampu menghasilkan gagasan, atau hanya menjadi penikmat informasi? Terlalu banyak kader aktif di media sosial, tetapi terlalu sedikit yang menulis, meneliti, dan menawarkan solusi atas persoalan masyarakat. Padahal, HMI dibangun di atas tradisi intelektual, bukan sekadar aktivitas seremonial.

Di sisi lain, pragmatisme mulai menjadi tantangan internal. Tidak sedikit kader yang lebih sibuk mengejar jabatan dan kepentingan pribadi daripada meningkatkan kualitas diri serta pengabdian kepada masyarakat. Jika orientasi kader bergeser dari perjuangan menuju kepentingan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya idealisme, tetapi juga kepercayaan publik terhadap HMI.

HMI juga dituntut lebih hadir dalam menjawab persoalan bangsa. Ketika biaya pendidikan meningkat, lapangan kerja semakin sempit, dan ketimpangan sosial terus melebar, di mana posisi HMI? Organisasi perjuangan tidak cukup hanya hadir dalam forum diskusi, tetapi juga harus mampu menghadirkan gagasan, advokasi, dan aksi nyata bagi masyarakat.

Sudah saatnya HMI melakukan refleksi. Keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau anggota, tetapi dari kualitas kader, kekuatan gagasan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, pertanyaan “Ke Mana Arah HMI?” bukan hanya ditujukan kepada organisasi, tetapi kepada setiap kader. Masa depan HMI ditentukan oleh keberanian kadernya menjaga idealisme, merawat tradisi intelektual, dan tetap berpihak kepada kepentingan umat serta bangsa.

Jangan pernah bangga hanya karena menjadi bagian dari HMI. Banggalah ketika kehadiran kita benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. Sebab, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang hanya hadir, tetapi oleh mereka yang berani berpikir, bergerak, dan memperjuangkan perubahan. Mari menjadi kader yang tidak hanya mewarisi nama besar HMI, tetapi juga mewarisi semangat perjuangannya. Yakin Usaha Sampai