YAKUSA.ID – Kreativitas mahasiswa Universitas Bahaudin Mudhary (Uniba) Madura kembali mendapat perhatian melalui karya film pendek berjudul Bisikan Luhur.
Film bergenre horor budaya tersebut diproduksi oleh Rawikara Pictures bersama FTM24 Solidarity dan menghadirkan pesan edukatif tentang pentingnya menjaga adat istiadat serta nilai-nilai luhur masyarakat Madura.
Karya mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Kajian Film, Televisi dan Media (FTM) ini menjadi salah satu produk perfilman yang diharapkan mampu memperkuat eksistensi Uniba Madura di dunia kreatif.
Sebelumnya, program studi yang sama juga sukses memproduksi film Sangkolan Kona yang mendapat apresiasi karena mengangkat kearifan lokal Madura.
Film Bisikan Luhur disutradarai oleh Nufri Qolbi Haqiqi dan dibintangi oleh Alfin Maghfiroh, Yowanda, M. Rusly Al-Farodis, serta Ria Natalia. Naskah film ditulis oleh Andra Prasetyo Darmawan, Alfin Maghfiroh, dan Ludianto.
Cerita film berfokus pada sekelompok mahasiswa yang datang ke sebuah desa dan menunjukkan sikap kurang menghargai budaya setempat.
Mereka mengabaikan nasihat orang tua, meremehkan adat istiadat, hingga tidak menghormati simbol-simbol budaya yang dianggap sakral oleh masyarakat.
Akibat sikap tersebut, para tokoh mengalami berbagai peristiwa misterius yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap pentingnya adab, sopan santun, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan para leluhur.
Melalui film ini, tim produksi berupaya mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Selain itu, film ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan tradisi dan kearifan lokal Madura kepada khalayak yang lebih luas.
Beragam pesan moral disampaikan dalam film tersebut, mulai dari pentingnya menghormati budaya dan tradisi daerah, menjaga tata krama dalam kehidupan bermasyarakat, menghargai milik dan kepercayaan orang lain, hingga tidak mengabaikan nasihat orang tua.
Film ini juga mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dan keberanian mengakui kesalahan.
Penonton diajak memahami bahwa pendidikan dan modernitas tidak akan memiliki makna tanpa adab dan penghormatan terhadap sesama.
Menariknya, Bisikan Luhur menegaskan bahwa tradisi dan agama dapat berjalan berdampingan.
Tradisi dipahami sebagai warisan budaya yang perlu dijaga, sementara segala pertolongan dan kekuasaan tetap berasal dari Allah SWT.
Dengan alur cerita yang dekat dengan kehidupan remaja dan mahasiswa, film ini diharapkan dapat diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, Generasi Z, pecinta budaya, hingga komunitas film nasional.
Kehadiran Bisikan Luhur menjadi bukti kemampuan mahasiswa Uniba Madura dalam menghasilkan karya perfilman yang tidak hanya berkualitas secara artistik, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan sosial.
Melanjutkan jejak kesuksesan Sangkolan Kona, film ini diharapkan menjadi media pelestarian budaya sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk tetap menjaga adab dan menghormati warisan leluhur di tengah era modernisasi.
Film pendek Bisikan Luhur dijadwalkan segera tayang dan siap mengajak penonton menyelami kisah horor budaya yang sarat makna, pelajaran hidup, serta pesan moral yang mendalam.



