YAKUSA.ID Hari Bhayangkara ke-80 tinggal menghitung hari. Biasanya, momen ini diisi dengan upacara, pawai, dan berbagai kegiatan seremonial. Namun Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) melihat ada yang berbeda dalam setahun terakhir.

Di balik atribut dan parade, JAN mencatat ada perubahan nyata di tubuh kepolisian. Rekrutmen mulai bersih, seleksi taruna berjalan transparan, dan Kapolri sendiri berani menolak titipan di depan publik.

“Setahun ini kami melihat Polri tidak hanya sibuk dengan acara, tapi juga mulai membenahi sistem. Masyarakat yang selama ini menanti dan mencintai Polri mulai melihat harapan baru. Ini yang kami nanti,” ujar Ketua JAN, Romadhon Jasn, Jumat (19/6/2026).

Penolakan terhadap praktik titipan di rekrutmen Akpol menjadi sinyal penting. Seleksi BETAH yang digalakkan As SDM Polri menunjukkan ada keseriusan membangun institusi dari hulu.

“Kami kritis jika ada yang salah. Tapi kalau ada kemajuan, kami juga tidak akan diam. Itu adil,” ujar Romadhon.

Kegiatan sosial seperti bakti sosial, bedah rumah, hingga nobar Piala Dunia bersama warga juga menunjukkan pendekatan Polri yang lebih humanis. Tidak kaku, tidak angkuh.

“Polri mulai dekat dengan rakyat. Bukan sekadar gambar di spanduk, tapi kehadiran nyata di tengah warga. Itu yang dibutuhkan,” kata Romadhon.

Namun JAN juga mengingatkan agar perubahan ini tidak berhenti di tahun ini. Konsistensi adalah tantangan terbesar. Jangan sampai semangat perbaikan hanya terasa menjelang hari besar.

“Kami percaya Polri bisa lebih baik. Tapi harus terus berbenah, bukan hanya saat ada acara. Perbaikan harus jadi budaya, bukan proyek tahunan,” pungkas Romadhon.