YAKUSA.ID – Di balik toga dan predikat Cumlaude yang berhasil diraihnya, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang anak guru ngaji dari Madura yang tumbuh dalam kesederhanaan dan kehilangan sosok ibu sejak usia dini.
Berbekal tekad, doa orang tua, serta semangat untuk terus belajar, Ach. Fadhail Alfarisi berhasil menyelesaikan studi Magister Hukum di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dengan predikat Cumlaude.
Fadhail merupakan putra dari seorang guru ngaji langgharan di Pamekasan Madura.
Sejak kecil, ia harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran seorang ibu yang telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah.
Kehilangan sosok ibu menjadi salah satu ujian yang membentuk keteguhan hatinya dalam menjalani kehidupan dan pendidikan.
Meski tumbuh dalam keterbatasan, ia beruntung mendapatkan didikan agama yang kuat dari sang ayah.
Nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kerja keras, dan kecintaan terhadap ilmu menjadi bekal yang terus mengiringi langkahnya hingga dewasa.
Perjalanan pendidikannya ditempuh melalui lingkungan pesantren.
Ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kebun Baru, salah satu pesantren yang dikenal melahirkan banyak santri yang berkiprah di berbagai bidang.
Kehidupan pesantren yang sarat dengan kedisiplinan dan nilai-nilai pengabdian membentuk karakter dirinya untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Fadhail melanjutkan studi sarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura.
Di kampus tersebut, ia berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) yang juga mendapat predikat cumlaude sebelum ia memutuskan melanjutkan studi Magister Hukum di Kota Malang.
Keputusan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 bukanlah pilihan yang mudah.
Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Namun, keinginan untuk terus menuntut ilmu lebih besar daripada segala hambatan yang ada.
Dengan penuh keyakinan, ia hijrah ke Malang untuk melanjutkan pendidikan sambil berusaha mandiri agar tidak sepenuhnya membebani sang ayah.
Selama menempuh studi Magister Hukum, Fadhail menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.
Berbekal ilmu agama yang diperoleh dari pesantren, ia sering diminta mengajar mengaji Al-Qur’an di rumah-rumah warga.
Materi yang diajarkan meliputi bacaan Al-Qur’an, ilmu tajwid, serta berbagai pembelajaran ubudiyah sebagai bekal praktik keagamaan sehari-hari.
Tidak hanya itu, ia juga pernah bekerja sebagai pengemudi layanan pesan antar makanan (driver online) dan merintis usaha minuman untuk menambah penghasilan.
Aktivitas kuliah, mengajar ngaji, dan bekerja dijalani secara bersamaan dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab.
Baginya, setiap pekerjaan yang halal adalah bagian dari perjuangan dalam menuntut ilmu.
Tidak ada rasa malu untuk bekerja selama pekerjaan tersebut dilakukan dengan jujur dan bertujuan baik.
“Sejak awal saya bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan. Saya sadar kondisi keluarga sederhana, sehingga saya berusaha semampunya untuk mandiri dan membantu meringankan beban orang tua. Semua yang saya jalani hari ini tidak lepas dari doa ayah, para guru, dan almarhumah ibu yang selalu saya kenang dalam setiap langkah,” ungkap Fadhail, Selasa (23/6/2026).
Perjuangan yang panjang itu akhirnya berbuah manis. Fadhail berhasil menyelesaikan studi Magister Hukum dengan predikat Cumlaude (3,93), sebuah capaian yang menjadi kebanggaan bagi keluarga, guru-guru, dan masyarakat di kampung halamannya.
Menurutnya, gelar dan prestasi yang diraih bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan amanah untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia berharap kisah hidupnya dapat menjadi motivasi bagi para santri, anak-anak desa, dan mereka yang tumbuh dalam keterbatasan agar tidak pernah berhenti bermimpi.
“Keadaan boleh sederhana, kehilangan boleh menjadi luka, tetapi mimpi tidak boleh berhenti. Saya percaya bahwa doa orang tua, keberkahan guru, dan kesungguhan dalam berusaha akan selalu menemukan jalannya,” tuturnya.
Kisah Fadhail ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi, kehilangan sosok ibu, dan berbagai tantangan hidup bukanlah alasan untuk menyerah.
Dari langgharan sederhana di Madura hingga meraih gelar Magister Hukum dengan predikat Cumlaude di Kota Malang, perjalanan tersebut menjadi saksi bahwa doa dan didikan orang tua memang tak pernah sia-sia..



