YAKUSA.IDRibuan pasang mata yang menghadiri acara purnawiyata Yayasan Kholid bin Walid Pondok Pesantren Addurriyah di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura, tak kuasa menahan haru ketika sebuah pertemuan yang tertunda selama belasan tahun akhirnya terjadi di momen tersebut.

Dari sekian wisudawan yang mengenakan toga, Ilham Andrian Dasilva, siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kholid bin Walid, menjadi sosok yang paling menyita perhatian. Sebab ia memendam kerinduan yang disimpan sejak kecil.

Selama 14 tahun terakhir, Ilham tumbuh tanpa kehadiran ibunya. Sang ibu, Sri Rahayu, wargaDsn. Kebonduren Ds. Kampungbaru Kec. Kepung, Kediri, Jawa Timur, memilih merantau sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong demi membantu perekonomian keluarga dan membiayai pendidikan putranya.

Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Namun perjumpaan antara ibu dan anak itu hanya terjalin melalui panggilan telepon dan layar gawai. Jarak ribuan kilometer memisahkan mereka, sementara kerinduan terus menumpuk tanpa pernah benar-benar terobati.

Pada hari wisuda yang seharusnya menjadi momen bahagia, Ilham datang tanpa mengetahui bahwa kejutan besar telah dipersiapkan untuknya.

Ketika namanya dipanggil ke atas panggung, ia didampingi Kepala MA Addurriyah, Miftahol Munir. Di hadapan para wali santri dan tamu undangan, Miftahol Munir mengajak Ilham berbincang mengenai perjalanan hidup dan sosok yang paling dirindukannya.

“Apakah kamu rindu ibu?” tanya Miftahol di atas panggung, Senin, (22/6/2026).

Dengan suara tertahan dan mata yang mulai berkaca-kaca, Ilham menjawab singkat. “Iya, rindu,” katanya sambil menyeka air mata yang mulai jatuh.

Suasana seketika menjadi hening. Tak lama kemudian, layar besar di lokasi acara menampilkan sebuah rekaman video. Dalam tayangan itu, Sri Rahayu menyampaikan pesan khusus kepada putra yang selama ini hanya bisa ia sapa dari kejauhan.

“Selamat wisuda anakku. Selamat wisuda kebanggaan ibu. Jarak mungkin memisahkan kita, tetapi cinta ibu akan selalu menyertaimu, Nak. Tunggu ibu pulang,” ucap Sri Rahayu dalam video tersebut.

Kalimat sederhana itu membuat Ilham semakin larut dalam emosi. Ia mengira pesan tersebut hanyalah ucapan yang dikirim dari Hong Kong.

Namun kejutan sesungguhnya belum berakhir. Miftahol Munir kemudian meminta Ilham memejamkan mata sejenak. Setelah itu, ia diminta membuka mata dan mencari sosok ibunya di antara ribuan orang yang hadir.

Perlahan Ilham memandang ke arah kerumunan. Tepat di depan panggung, berdiri seorang perempuan berkerudung kuning yang selama ini hanya hadir dalam layar telepon genggamnya.

Perempuan itu adalah Sri Rahayu. Tanpa menunggu lama, Ilham berlari turun dari panggung. Ia kemudian memeluk erat sang Ibu. Tangis yang selama bertahun-tahun tertahan akhirnya pecah.

Sri Rahayu menangis sambil memeluk putranya yang kini telah beranjak dewasa. Sementara Ilham terus menggenggam ibunya seolah tak ingin kehilangan lagi sosok yang begitu lama dirindukannya.

Suasana haru pun menjalar ke seluruh penjuru lokasi acara. Banyak wali santri, guru, hingga tamu undangan yang ikut menitikkan air mata menyaksikan pertemuan tersebut.

Bagi sebagian orang, wisuda adalah perayaan kelulusan. Namun bagi Ilham, hari itu menjadi lebih dari sekadar penanda berakhirnya masa belajar di pesantren.

Hari itu adalah jawaban atas penantian panjang seorang anak yang selama 14 tahun hanya bisa memeluk ibunya dalam doa dan kerinduan.

Dan di sebuah pesantren di pelosok Pamekasan, jarak ribuan kilometer yang memisahkan Indonesia dan Hong Kong akhirnya runtuh oleh sebuah pelukan.