YAKUSA.ID – Mantan Ketua MK, Mahfud MD, bersuara lantang tentang rekomendasi KPRP yang dianggapnya diabaikan. Namun Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) melihat keanehan dalam waktu dan cara ia menyampaikan kritik.
Sepanjang menjadi anggota tim reformasi, suara keras itu tidak pernah terdengar. JAN mencatat banyak rekomendasi justru sudah dijalankan Polri, seperti penolakan titipan di rekrutmen, seleksi BETAH, dan komitmen Kapolri memperbaiki institusi.
“Kami hormati Prof Mahfud. Tapi publik juga berhak bertanya: kenapa baru sekarang vokal? Kenapa tidak sejak masih di dalam tim? Kalau serius memperbaiki, seharusnya suara itu keluar dari dalam, bukan setelah tugas selesai lalu ramai bicara di media, terkesan kurang elok lah,” ujar Ketua JAN, Romadhon Jasn, Kamis (18/6/2026).
Polri menunjukkan perubahan nyata. Kapolri menolak titipan, seleksi lebih transparan, dan komitmen perbaikan terus digaungkan. Ini bukan sekadar omongan.
“Kami menghormati kritik. Tapi sebagai pihak yang mencermati, kami juga melihat Polri sudah menunjukkan perubahan. Tidak fair jika kami mengabaikan itu hanya karena sedang ramai-ramainya menyerang,” ujar Romadhon.
Yang mengganjal, kritik paling keras justru muncul setelah tim reformasi usai. Saat masih di dalam, tidak ada gejolak berarti. Masyarakat bertanya: apa tujuan sebenarnya?
“Jika serius ingin membenahi, bukankah lebih baik keberatan itu disampaikan dari dalam? Agar perbaikan bisa dilakukan sejak awal. Tapi yang terjadi malah ramai di luar setelah selesai. Inilah yang membuat rakyat bertanya-tanya,” kata Romadhon.
JAN mengajak publik melihat fakta utuh. Polri sudah bergerak. Kritik perlu didengar, tapi konsistensi juga penting untuk dinilai.
“Lihat fakta, bukan siapa yang paling vokal. Dukung kemajuan, koreksi yang keliru. Yang penting bukan siapa paling keras, tapi apakah perubahan benar-benar terjadi. Itu yang harus kita jaga bersama,” pungkas Romadhon.



