YAKUSA.ID — Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar mengukuhkan tiga akademisi sebagai guru besar dalam sidang senat terbuka yang digelar di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin.
Salah satu akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Nur Syamsiah sebagai guru besar bidang Gender dan Pendidikan Islam.
Pengukuhan dilakukan langsung oleh Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan, bersama dua guru besar lainnya, yakni Prof. Dr. Firdaus dan Prof. Dr. Hj. Asni.
Dalam orasi ilmiahnya, Nur Syamsiah menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis sebagai pusat keunggulan dalam mempromosikan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan, termasuk dalam lingkungan akademik Islam.
Ia menyoroti masih adanya realitas ketimpangan gender di dunia akademik yang menghambat perempuan mencapai posisi strategis dalam kepemimpinan perguruan tinggi.
“Pentingnya perguruan tinggi sebagai pusat keunggulan untuk mempromosikan keadilan dan kesetaraan, namun masih ada realita yang bertentangan di lingkup akademi,” katanya.
Menurut dia, fenomena “langit-langit kaca” masih menjadi hambatan bagi perempuan akademisi untuk mencapai puncak kepemimpinan.
“Ketidakhadiran perspektif perempuan dalam pengambilan kebijakan di perguruan tinggi Islam dapat menyebabkan bias dalam kurikulum, riset, dan atmosfer akademik yang kurang responsif terhadap isu gender,” ujarnya.
Ia menambahkan minimnya keterlibatan perempuan dalam ruang pengambilan keputusan berpotensi menghilangkan pengalaman khas perempuan dalam menghadapi berbagai persoalan penting.
“Tanpa perempuan di kursi kepemimpinan, perumusan kebijakan akan kehilangan pengalaman unik perempuan dalam menghadapi isu krusial seperti kekerasan seksual, perlindungan hak produktif, dan sensitivitas kurikulum terhadap kelompok marginal,” katanya.
Pada kesempatan itu, Nur Syamsiah juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga dan seluruh pihak yang mendukung perjalanan akademiknya hingga meraih gelar profesor.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua, suami, keluarga dan semuanya yang membantu saya hingga dikukuhkan menjadi guru besar. Tanpa kalian semua mungkin ini sulit dan bahkan tidak bisa diraih,” ujarnya.
Diketahui, selain berkiprah di dunia akademik, Nur Syamsiah juga pernah menjabat sebagai Ketua Kohati Indonesia Timur tahun 1990 serta Presidium Forhati Sulawesi Selatan.



