YAKUSA.ID – Pujian itu bukan hanya ramai. Ia juga rajin didokumentasikan. Bahkan diunggah sendiri. Ya, apresiasi atas kinerja Polres Pamekasan tak sekadar beredar di ruang publik, tetapi ikut naik panggung pribadi lewat story WhatsApp Kapolres Pamekasan. Lengkap. Berurutan. Seolah publik perlu diyakinkan dua kali bahwa tepuk tangan memang sedang berlangsung dan volumenya cukup meyakinkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di titik ini, kritik tak bisa lagi dimulai dengan basa-basi.

Sebab ketika pujian dikolase satu demi satu, dipilih, lalu dipajang ulang oleh pejabat publik, yang sedang dipertontonkan bukan lagi semata kinerja, melainkan cara memaknai kekuasaan dan apresiasi. Ini bukan soal salah atau benar. Ini soal rasa. Dan dalam urusan rasa, publik biasanya lebih peka daripada pejabat.

Mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan bahwa kekuasaan cenderung menyukai pujian dan sering kali tidak nyaman terhadap kritik. Ketika semua orang sepakat dan semua tepuk tangan terdengar serempak, biasanya ada satu hal yang terlewat: ruang berpikir kritis.

Mari adil sejak awal. Polisi memang bekerja, dan layak diapresiasi. Di bawah komando Kapolres Pamekasan, aparat bergerak cepat. Pelaku kejahatan jalanan ditangkap kurang dari 24 jam. Kasus jambret kejam diselesaikan mungkin sebelum pelaku update story baru. Korban lega. Masyarakat sedikit lebih tenang. Itu fakta. Itu patut dicatat. Dan lagi, setiap orang pada pada dasarnya akan suka diapresiasi, siapapun orangnya.

Namun persoalannya bukan di situ.
Masalahnya muncul ketika keberhasilan itu langsung dinaikkan ke panggung pujian tanpa jeda refleksi, apalagi ketika panggung itu ikut dikelola oleh orang yang sedang dipuji. Di situlah kerja institusi perlahan berisiko bergeser menjadi narasi personal. Dari kerja kolektif menjadi cerita individu. Dari prestasi bersama menjadi etalase satu nama.

Senin, 12 Januari 2026, konferensi pers digelar. foto pelaku ditunjukkan lengkap dengan barang buktinya. Setelah itu, pujian mengalir deras dari berbagai arah: jurnalis, aktivis, tokoh agama, Ketua DPRD, hingga influencer media sosial. Semua positif. Semua seragam. Semua terasa aman.

Kapolres Pamekasan telah menjabat setahun, sejak Januari 2025 hingga Januari 2026. Setahun adalah masa evaluasi. Wajar jika kinerja disorot. Wajar jika ada pujian. Namun juga wajar jika publik bertanya, apakah sorotan ini murni ekspresi publik, atau sedang menjadi bagian dari etalase kinerja personal?

Di tengah banjir apresiasi yang terus digaungkan, publik berhak bertanya, apakah semua ini sekadar catatan kerja, atau sedang disusun sebagai portofolio menjelang penilaian karier berikutnya?

Pertanyaan ini sah. Tidak menuduh. Tidak menghakimi. Tapi juga tidak bisa dihindari, terutama ketika pujian tampil rapi, konsisten, dan nyaris tanpa jeda. Dalam dunia birokrasi, publik paham bahwa kerja baik dan karier sering berjalan beriringan. Yang menjadi soal, apakah panggung pujian ini berhenti di rasa syukur, atau mulai berubah menjadi sinyal?

Di tengah panggung apresiasi yang terang benderang, publik Pamekasan juga mencatat ada sudut kerja yang justru terasa redup. Beberapa perkara berjalan cepat, dipublikasikan luas, dan dirayakan bersama. Namun sebagian lainnya berjalan senyap, nyaris tanpa kabar. Tak perlu saya rinci apa saja bukan? Sebab semuanya sudah bisa diakses lewat gawai masing-masing.

Di sinilah kontras itu terasa. Ketika perkara tertentu bisa dituntaskan cepat dan dirayakan luas, sementara kasus lain berjalan senyap tanpa kejelasan, publik wajar berharap ada keseimbangan. Hukum idealnya tidak memilih mana yang layak panggung dan mana yang cukup di belakang layar.

Kritik solutifnya sebenarnya sederhana, institusi kepolisian akan jauh lebih kuat jika membiarkan publik yang berbicara, tanpa perlu menggemakan ulang pujian itu sendiri. Kerja yang solid tidak membutuhkan amplifikasi personal. Ia berdiri sendiri.

Bahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah berulang kali menegaskan bahwa Polri tidak boleh alergi terhadap kritik, karena kritik adalah vitamin bagi perbaikan institusi. Artinya, pertanyaan publik seharusnya dibaca sebagai bagian dari loyalitas, bukan ancaman.

Dalam nada yang lebih jenaka, Sujiwo Tejo mengingatkan bahwa orang yang terlalu sibuk menikmati pujian sering kali kehilangan waktu untuk bercermin. Kalimat ini terdengar ringan, tetapi maknanya serius, terutama bagi mereka yang memegang kewenangan.
Bahkan budaya populer pun memberi pengingat sederhana.

Dalam serial animasi SpongeBob SquarePants, tokoh utamanya berulang kali digambarkan bekerja dengan sungguh-sungguh bukan demi tepuk tangan, melainkan demi hasil. Sebuah pelajaran polos, tapi relevan di tengah riuh pujian.

Apresiasi boleh datang. Bahkan perlu. Namun ketika ia dirayakan terlalu dini, dipamerkan terlalu rajin, dan diterima tanpa jarak, pujian bisa berubah fungsi: dari penguat moral menjadi pengabur evaluasi.

Apresiasi boleh hadir, tetapi ia seharusnya datang dari luar, bukan terus-menerus diumumkan oleh pelaku kerja itu sendiri. Ketika pujian menjadi bahan unggahan dan konsumsi publik, ada risiko bahwa fokus bergeser – dari melayani ke ingin dilihat melayani.

Dalam dunia kartun, SpongeBob mungkin tampak lugu. Namun justru dari keluguannya itu kita belajar bahwa profesionalisme tidak diukur dari seberapa sering apresiasi dipamerkan, melainkan dari seberapa konsisten tugas dijalankan.

Kadang, kartun lebih jujur dalam mengingatkan, bahwa kerja adalah kewajiban, bukan panggung, dan penghargaan terbaik adalah manfaat yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar yang ditampilkan.

Pamekasan tidak butuh panggung pujian.
Pamekasan butuh kepastian bahwa hukum berjalan sampai ke hulunya. Dan Kapolres Pamekasan – siapa pun orangnya – akan jauh lebih dihormati bukan karena story WhatsApp yang penuh sanjungan, melainkan karena keberanian membiarkan kerja berbicara sendiri.

Sebab pada akhirnya, rasa aman tidak lahir dari pujian yang dibagikan, tetapi dari perkara yang benar-benar dituntaskan, bahkan ketika tepuk tangan sudah sedemikian ramai, hingga nyaris terdengar seperti tepuk tangan untuk diri sendiri.

Catatan Sumber:

1. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) — Refleksi tentang kekuasaan, kritik, dan demokrasi sebagaimana terdokumentasi dalam pidato, wawancara, dan buku Gus Dur Bertutur (LKiS, 2010).
2. Sujiwo Tejo — Gagasan reflektif tentang pujian dan kesadaran diri yang kerap disampaikan dalam forum kebudayaan dan esai; digunakan sebagai parafrasa tematik.
3. Jenderal Listyo Sigit Prabowo — Pernyataan Kapolri dalam berbagai arahan resmi dan keterangan pers (2021–2024) mengenai kritik sebagai vitamin institusi.
4. SpongeBob SquarePants — Serial animasi Nickelodeon