YAKUSA.ID — Universitas Brawijaya (UB) mendampingi 25 petani di Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, mengolah limbah buah dan sayuran menjadi eco enzyme untuk mendukung budidaya hortikultura ramah lingkungan melalui program pengabdian kepada masyarakat tahun 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB tersebut melibatkan Kelompok Tani Cemara dan Kelompok Tani Daun Mas 1. Program dipimpin oleh Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., bersama anggota tim Dr. Rachman Hartono, S.P., M.P., serta mahasiswa Rifqi Alfaizal Attamimi.
Program ini dilatarbelakangi oleh ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga dan pertanian. Melalui sosialisasi dan praktik langsung, petani diperkenalkan pada pengolahan limbah organik menjadi produk yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan pembuatan eco enzyme menggunakan gula atau molase, limbah buah dan sayuran, serta air dengan perbandingan 1:3:10. Komposisi yang diperagakan terdiri atas satu kilogram gula atau molase, tiga kilogram limbah organik, dan sepuluh liter air.
Peserta juga mempelajari pemilahan bahan, penyiapan wadah fermentasi, penyediaan ruang untuk gas, serta pencatatan tanggal produksi. Proses fermentasi membutuhkan waktu minimal tiga bulan sehingga campuran yang dihasilkan dalam pelatihan masih harus dipantau hingga prosesnya selesai.
Sebanyak 25 petani mengikuti kegiatan tersebut, melampaui target awal 20 peserta. Diskusi selama pelatihan mencakup pemilihan bahan, komposisi campuran, penanganan gas, ciri keberhasilan fermentasi, hingga cara pemanfaatan produk pada tanaman.
Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai bahan dan tahapan pembuatan serta pemanfaatan eco enzyme. Praktik bersama juga menghasilkan campuran awal yang akan dipantau selama proses fermentasi.
Tim UB turut memberikan demonstrasi mengenai prinsip pengenceran, teknik penyemprotan atau penyiraman, serta pengamatan respons tanaman. Dalam program ini, eco enzyme diperkenalkan sebagai input pendukung budidaya ramah lingkungan, dengan pengembangan aplikasi secara bertahap melalui demonstrasi plot atau demplot hortikultura.
Pengembangan selanjutnya akan mencakup pencatatan jenis tanaman, dosis, frekuensi penggunaan, dan perubahan yang teramati di lapangan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengevaluasi pemanfaatan produk sesuai kondisi budidaya.
Program yang didukung pendanaan pengabdian kepada masyarakat FBiPK UB tahun 2026 ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Hasil kegiatan tersebut telah dipresentasikan oleh Dr. Tri Wahyu Nugroho dalam Seminar Nasional Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat di FBiPK UB pada 12 Agustus 2026. Presentasi itu mengangkat judul “Pemanfaatan Eco Enzyme untuk Mendukung Produksi Hortikultura Berkelanjutan di Desa Talkandang, Probolinggo”.
Tindak lanjut program meliputi pemantauan fermentasi, penyaringan dan pengemasan produk, penyempurnaan panduan pembuatan, serta pengembangan demplot hortikultura. Melalui tahapan tersebut, kelompok tani diharapkan dapat menerapkan pengolahan limbah organik secara berkelanjutan dan mengevaluasi pemanfaatannya berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.






