
YAKUSA.ID — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendorong ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat melalui program budidaya ikan lele berbasis bioflok dan Internet of Things (IoT) di Desa Rek Kerrek, Kabupaten Pamekasan.
Program bertajuk *“Pemberdayaan Kelompok Pengairan melalui Budidaya Perikanan Berkelanjutan Berbasis Bioflok untuk Mewujudkan Ketahanan, Kemandirian, dan Kualitas Konsumsi Pangan”.
Kegiatan tersebut didanai melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM dengan melibatkan masyarakat dan mahasiswa dalam proses implementasi serta pendampingan.
Dalam program tersebut, tim UTM membangun kolam bioflok berdiameter sekitar tiga meter dan menebar sebanyak 5.000 bibit lele. Budidaya itu dilengkapi teknologi IoT untuk memantau kondisi air, khususnya parameter pH dan suhu.
Ketua pelaksana kegiatan, Sri Ratna Triyasari, S.P., M.P., mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi ikan konsumsi, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat melalui penerapan teknologi budidaya yang efisien dan berkelanjutan.
“Saat ini sudah kami sebarkan sekitar 5.000 bibit lele. Ke depan, kami juga akan mengembangkan inovasi pakan dengan memanfaatkan dan mencampurkan bioslurry sebagai bagian dari upaya pemanfaatan sumber daya lokal dan mendukung sistem pertanian yang lebih sirkular,” ujar Sri Ratna.
Menurutnya, integrasi teknologi bioflok, IoT, dan pemanfaatan bioslurry diharapkan dapat menghasilkan model budidaya yang memiliki nilai produktivitas, ekonomi, sekaligus manfaat lingkungan.
Anggota tim pelaksana, Sholeh Rachmatullah, menjelaskan bahwa teknologi IoT memungkinkan pengukuran pH dan suhu air secara otomatis. Dengan demikian, kondisi kolam dapat dipantau secara lebih cepat tanpa harus selalu dilakukan secara manual.
“Dengan pemantauan yang lebih cepat dan terukur, pembudidaya dapat mengetahui kondisi air kolam. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan pemeliharaan kolam,” jelas Sholeh.
Ia menambahkan, kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya ikan. Melalui sistem monitoring tersebut, perubahan kondisi air diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga risiko terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan dapat diminimalkan.
### Diharapkan Jadi Kegiatan Produktif Desa
Kepala Desa Rek Kerrek menyambut baik program yang dilaksanakan UTM. Ia berharap budidaya lele berbasis bioflok tidak berhenti pada pembangunan kolam, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan produktif masyarakat.
“Kami sangat menerima dan mendukung kegiatan ini. Kami berharap program ini tidak berhenti pada pembangunan kolam, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rek Kerrek,” katanya.
Ia juga berharap hasil budidaya nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, termasuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program tersebut turut melibatkan mahasiswa UTM, di antaranya Achmad J. U., Iqbal Maulidi, Birrul Walidain, Dea Falencya C., dan Azmi Nadia A.
Para mahasiswa terlibat dalam implementasi teknologi IoT, budidaya, serta pendampingan masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis pengalaman bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan di lapangan.
Salah satu peserta launching dan workshop, Hayyan, mengapresiasi pengenalan teknologi IoT dalam kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini menarik karena kami tidak hanya belajar tentang budidaya ikan, tetapi juga diperkenalkan dengan teknologi IoT. Harapannya teknologi seperti ini bisa benar-benar diterapkan dan membantu masyarakat dalam meningkatkan hasil budidaya,” ujarnya.
Selain budidaya lele, UTM juga merencanakan pengembangan pakan berbasis bioslurry. Pemanfaatan tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi limbah produksi.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan sistem p








