YAKUSA.IDProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga mendorong permintaan pangan lokal dalam skala besar yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi daerah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
IMG-20260215-WA0092
previous arrow
next arrow

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, saat menjadi narasumber dalam Webinar UICI Series Volume 14 bertema “Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Agroindustri, Standar Teknologi, dan Peran Tenaga Profesional” yang diselenggarakan pada Senin (9/2/2026).

Dalam paparannya, Haidir mengatakan MBG berfungsi sebagai pencipta permintaan (creating demand) bagi produk pangan bergizi berbasis lokal. Permintaan tersebut membuka pasar baru bagi petani, nelayan, peternak, produsen pangan, serta pelaku usaha makanan dan minuman (F&B).

“MBG menjadi offtaker terdepan bagi produk pangan lokal karena memberikan kepastian pasar, harga yang lebih stabil, serta mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produksi daerah,” ujar Haidir.

Ia menjelaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menyerap sedikitnya 50 tenaga kerja lokal. Selain itu, program ini juga membuka peluang usaha baru, baik di sektor penyediaan menu bergizi, jasa katering, maupun distribusi bahan pangan lokal.

Haidir memaparkan kebutuhan pangan rata-rata per SPPG setiap bulan, antara lain sekitar 2,5 ton beras, 2,6 ton ayam, 1.300 bungkus tempe, dan 26.400 butir telur. Untuk komoditas sayuran, kebutuhan kangkung mencapai 1.257 ikat per bulan, wortel 925 kilogram, dan buncis 611 kilogram, sedangkan kebutuhan buah didominasi pisang sekitar 4,5 ton per bulan.

Selain itu, MBG juga menyerap berbagai komoditas bumbu dapur seperti gula pasir, bawang putih, kunyit, dan rempah-rempah lokal lainnya.

Skala dampak ekonomi tersebut semakin besar seiring bertambahnya jumlah SPPG. Haidir mencontohkan Kota Bogor dengan 99 SPPG membutuhkan pasokan beras sekitar 247,5 ton per bulan, ayam 257,4 ton per bulan, serta pisang mencapai 445,5 ton per bulan.

Ia menambahkan, implementasi MBG telah memberikan dampak nyata di sejumlah daerah. Di Bandung, pembinaan koperasi pesantren meningkatkan jumlah petani yang terlibat dalam rantai pasok MBG menjadi 87 orang. Di Rembang, koperasi nelayan mencatat peningkatan produksi ikan bandeng hingga empat kali lipat. Sementara di Sukabumi, produksi kangkung petani meningkat dari 100 ikat per hari menjadi 700 ikat per hari setelah terlibat dalam program.

Menurut Haidir, keberhasilan MBG sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.

“Program MBG akan berhasil jika dijalankan secara kolaboratif. Ini bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan bersama untuk membangun gizi, ekonomi, dan masa depan bangsa,” katanya.

Webinar tersebut juga menghadirkan dosen Program Studi Teknologi Industri Pertanian sekaligus Staf Khusus Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Ir. Walneg S. Jas, M.M., sebagai narasumber. (YA/Arf)